Radi The Eksplorer

Tana Toraja - Lemo

Radi The Explorer

Enrekang - Pemakamanan di Tebing Tontonan

Radi The Explorer

Pinrang - Pemandian Air Panas Lemo Susu

Radi The Explorer

Makassar - Fort Rotterdam

Radi The Explorer

Makassar - Pulau Kodingareng Keke

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Senin, 30 Maret 2015

Danau Tempe Wajo : Menyusuri Rumah Apung dan Kehidupan Nelayan di Danau Terbesar Sulawesi Selatan

DANAU TEMPE


Tempat kedua yang saya kunjungi di Kabupaten Wajo adalah Danau Tempe, danau yang menjadi kebanggaan kabupaten ini.

Danau Tempe terletak di bagian barat Kabupaten Wajo, tepatnya di Kecamatan Tempe, sekitar 7 km dari Kota Sengkang ke arah tepi Sungai Walanae. Danau seluas kurang lebih 13.000 hektare ini menjadi rumah bagi spesies ikan air tawar yang jarang dijumpai di tempat lain. Hal itu disebut-sebut berkaitan dengan letaknya di atas pertemuan lempeng Benua Australia dan Asia. Danau Tempe juga termasuk salah satu danau tektonik di Indonesia.


Danau Tempe mendapat pasokan air dari Sungai Bila dan anak sungainya, Bulu Cenrana. Namun, selain mengalirkan air, kedua sungai itu juga membawa pendangkalan akibat tingginya erosi di bagian hulu.

Sayangnya, ketika saya berkunjung, kawasan ini sedang dipenuhi lumpur. Menurut nelayan setempat, musim kemarau bukan waktu yang baik untuk menyeberang ke Danau Tempe karena airnya lebih dangkal dari biasanya dan lumpurnya banyak.

Saya pun batal menyeberang, padahal sudah sangat penasaran ingin melihat Danau Tempe dari dekat. Mungkin lain kali. Biaya transportasi ke danau ini sekitar Rp50.000, cukup terjangkau. Satu pesan saya: jangan datang ke Danau Tempe pada musim kemarau.

Agrowisata Sutera Wajo : Melihat Proses Ulat Sutera Menjadi Kain Tenun di Tanah Bugis

AGROWISATA SUTERA


Berkeliling Sulawesi Selatan sungguh menyenangkan. Begitu banyak kekayaan wisata alam yang dipamerkan provinsi di pulau berbentuk huruf K ini. Selagi berada di sini, tak ada salahnya menjelajahi daerah-daerahnya satu per satu. Setiap daerah memiliki keunikan tersendiri, termasuk Kabupaten Wajo dengan pesona yang lain daripada yang lain: agrowisata sutra.

Ketika berniat mengunjungi kabupaten ini, saya pun mulai memikirkan tempat menginap. Kebetulan saya berencana bermalam di rumah senior saya, Kak Zulkarnain Husain, di Bone. Terima kasih banyak atas tumpangannya selama saya berkeliling Kabupaten Bone dan Wajo.

Tanpa berpanjang kata, mari kita menuju agrowisata di Kota Sengkang.

Agrowisata sutra merupakan salah satu wisata andalan Sulawesi Selatan, tepatnya di Kabupaten Wajo. Seluruh prosesnya, dari penanaman murbei hingga pembuatan kain, telah lama menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Wajo. Kain sutra sendiri sudah mendunia berkat kelembutan dan kehalusan yang lahir dari helai-helai benang pintalnya.

Lokasi pembibitan dan penanaman murbei tersebar di beberapa desa di Kecamatan Sabbangparu, sekitar 10 km di sebelah selatan Kota Sengkang, pada jalur menuju Kabupaten Soppeng. Di kawasan agrowisata ini, wisatawan dapat menyaksikan penanaman murbei, pemeliharaan ulat sutra, pemintalan benang, hingga penenunan kain. Hasilnya berupa beragam produk sutra, seperti sarung, kemeja, dasi, serta cendera mata berupa kipas dan tas.

Sejumlah ruang pamer sutra di Kota Sengkang menawarkan kain dengan aneka warna dan motif yang indah. Motif yang paling diminati umumnya motif Bugis dan motif yang menyerupai ukiran Toraja. Kain sutra khas Sulawesi Selatan ini telah dikenal luas, bahkan sudah menembus pasar dunia.

Lokasi pemintalan sutra berada di Kota Sengkang, Kabupaten Wajo, sekitar 250 km di sebelah utara Kota Makassar, dan dapat dicapai dengan kendaraan roda empat dalam waktu sekitar tujuh jam.

Minggu, 29 Maret 2015

Rumah Adat Sao Mario Soppeng : Menyusuri Warisan Arsitektur Bugis di Butta Soppeng

RUMAH ADAT SAO MARIO


Tempat kedua yang kami kunjungi di Kabupaten Soppeng adalah Rumah Adat Sao Mario, masih bersama rombongan yang sama: saya, Hendra Tjiang, Apin, Icha, Noe', Indah, Aas, Ina, Vita, Danty, Anty, Ela, dan Imma. Tanpa berpanjang kata, mari kita menuju ke sana.


Rumah Adat Sao Mario terletak di Kelurahan Manorang Salo, Kecamatan Marioriawa, sekitar 30 km dari Watansoppeng. Di dalam kompleksnya berdiri beragam rumah adat bergaya arsitektur Bugis, Makassar, Mandar, Toraja, Minangkabau, dan Batak. Sao Mario juga berfungsi sebagai museum yang menyimpan aneka barang antik bernilai tinggi dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara, mulai dari kursi, meja, dan tempat tidur hingga senjata tajam dan batu permata.

Rumah Adat Sao Mario dibangun pada 1993 oleh arsitek Ir. Drs. Bakhriani A. Rauf Manna. Pemiliknya adalah Prof. Dr. H. Andi Mustari Pide, S.H. (Datuk Rajo Nan Sati) dan Hj. A. Sitti Runiang, yang merupakan orang asli Batu-Batu, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng. Rumah ini memadukan tradisi Bugis dari Batu-Batu dengan tradisi Minangkabau.

Di sekelilingnya terdapat miniatur rumah adat Bugis, Mandar, dan Toraja. Hampir semua rumah, terutama yang berarsitektur Bugis, ditopang seratus tiang, sehingga masyarakat sekitar menyebutnya Bola SeratuE. Ada pula sebuah rumah lontar yang dinding, lantai, tiang, rangka, hingga perabotnya terbuat dari lontar.

Meski berada di Soppeng, sang pemilik sengaja memisahkan kompleks ini menjadi beberapa bangunan agar adat asli Soppeng yang diyakininya tidak tercampur dengan adat lain.

Kompleks ini dikenal sebagai rumah adat empat etnis yang berkumpul dalam satu kawasan: Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja. Konon, dahulu bila Raja Mandar berkunjung, beliau tidak singgah di rumah adat Soppeng, melainkan langsung menuju rumah adat Mandar. Bila hendak bermusyawarah, barulah mereka berkumpul di baruga yang terletak di sisi kanan rumah adat asli Soppeng.

Menurut cerita warga setempat, di kawasan ini juga terdapat sebuah danau kecil tempat bersandarnya replika perahu pinisi, perahu kebanggaan masyarakat Bugis-Makassar yang konon mampu mengarungi samudra di berbagai belahan dunia.

Penasaran? Datang dan saksikan sendiri.

Permandian Alam Lejja Soppeng : Berendam Air Hangat Alami di Tengah Kesejukan Butta Soppeng

PERMANDIAN ALAM LEJJA


Assalamu'alaikum. Senang berjumpa lagi pada kesempatan kali ini. Rasanya sudah cukup banyak kabupaten di Sulawesi Selatan yang saya kunjungi, dan alhamdulillah, banyak pengalaman berharga yang ingin saya bagikan. Salah satunya datang dari Kabupaten Soppeng.

Di sinilah dulu saya menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) bersama teman-teman dari FK, FKG, FKM, dan FMIPA. KKN itu terasa begitu seru karena ditemani orang-orang paling jenaka yang pernah saya kenal. Kami bertiga belas: saya, Hendra Tjiang, Apin, Icha, Indah, Noe', Aas, Vita, Imma, Anti, Ela, Danty, dan Ina. Kami berasal dari fakultas yang berbeda-beda, tetapi dipersatukan di tempat KKN.

Tentu saja kami tidak melewatkan kesempatan menjelajahi tempat-tempat wisata di Kabupaten Soppeng. Ada dua yang wajib dikunjungi: Permandian Alam Lejja dan Rumah Adat Sao Mario. Ingin tahu keseruan perjalanan kami? Simak kisah berikut ini.

Pemandian Alam Air Panas Lejja berada di kawasan hutan lindung berbukit dengan panorama yang indah, tepatnya di Desa Bulu, Kecamatan Marioriawa, 44 km di sebelah utara Watansoppeng, ibu kota Kabupaten Soppeng. Sumber air panasnya bersuhu hingga 60 derajat Celsius dan dipercaya dapat menyembuhkan gatal-gatal dan rematik. Pemandian ini menjadi objek wisata andalan yang ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Fasilitasnya cukup memadai: kolam pemandian umum dan pribadi, toilet, ruang bilas, ruang ganti, pondok peristirahatan, lapangan tenis, serta baruga wisata berkapasitas 300 orang sebagai tempat pertemuan. Kolam pribadi berupa rumah panggung kecil dengan kolam selebar tiga meter di belakangnya.

Kebetulan saat itu kami menyewa kolam pribadi, seperti yang tampak pada foto. Hanya dua atau tiga orang yang bisa berenang; selebihnya setia pada "gaya batu".

Kunjungan itu begitu menyenangkan hingga saya kembali merindukan masa-masa KKN bersama orang-orang jenaka ini. Entah kapan kami bisa berkumpul seperti itu lagi. Yang pasti, saya bersyukur pernah berbagi pengalaman bersama mereka, meski hanya sekali seumur hidup. Saya merindukan kalian semua.


Senin, 23 Maret 2015

Resort Tanjung Pallette Bone : Menikmati Panorama Laut dan Senja di Tepi Teluk Bone

RESORT TANJUNG PALLETTE


Tempat berikutnya yang saya kunjungi adalah kawasan wisata Tanjung Pallette. Tanjung ini terletak di Kelurahan Pallette, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, berjarak 12 km dari pusat Kota Watampone dan 190 km dari Kota Makassar.


Tanjung Pallette menyuguhkan pemandangan bukit karang yang cantik, berpadu dengan deburan ombak yang keras. Datanglah pada pagi hari untuk menikmati indahnya matahari terbit sambil mengamati para nelayan yang melabuhkan perahu di sekitar kawasan ini.


Tempat wisata ini dikelola dengan baik oleh pemerintah setempat dan dilengkapi fasilitas yang memadai, baik untuk wisata keluarga maupun kegiatan lainnya. Di sini tersedia hotel, gazebo, kafe, dan dua kolam renang, juga lapangan luas yang dapat digunakan untuk beragam kegiatan luar ruang. Yang paling unik adalah panggung terapung yang berdiri tepat di ujung bukit karang yang menjorok ke laut.


Pemandangannya sungguh menyegarkan mata dan pikiran. Mari datang dan saksikan sendiri.

Museum Lapawawoi Bone : Menyimpan Warisan Kerajaan Bone

MUSEUM LAPAWAWOI


Assalamu'alaikum. Akhirnya saya sempat menulis lagi. Masih di Kabupaten Bone, kali ini saya menuju tempat wisata lain yang tak kalah menarik dibandingkan Goa Mampu: Museum Lapawawoi, tempat tersimpannya benda-benda peninggalan Kerajaan Bone. Mari kita telusuri.

Museum Lapawawoi menempati bangunan bekas istana Andi Mappanyukki, Raja Bone ke-32. Museum ini didirikan pada 5 Januari 1971 oleh Bupati Bone, H. Suaib. Namanya diambil dari La Pawawoi Karaeng Sigeri, Raja Bone ke-31 yang telah diakui sebagai pahlawan nasional.

Lahir pada 1835, La Pawawoi adalah pahlawan Perang Bone I, II, III, dan IV melawan Belanda. Pada 14 Desember 1906 beliau ditawan dan diasingkan ke Bandung. Seusai bertemu dengan Gubernur Jenderal Belanda, beliau mengucapkan ikrar perlawanan: "Biar tubuhku tertawan, hatiku pantang menyerah kepada Kompeni." Beliau wafat pada 17 Januari 1911.

Sayangnya, museum ini sedang dalam perbaikan saat saya berkunjung, sehingga saya hanya bisa melihatnya dari luar.

Museum ini berada di Watampone, ibu kota Kabupaten Bone, tepatnya di Jl. M.H. Thamrin No. 9. Aksesnya cukup mudah, tetapi saya belum mengetahui besaran retribusi maupun ketentuan lain untuk masuk ke dalamnya. Semoga lain waktu, bila berkesempatan kembali ke Bone, saya bisa singgah lagi di sini.


Jumat, 20 Maret 2015

Goa Mampu Bone : Menyusuri Goa Alami yang Menyimpan Keindahan Tersembunyi di Tanah Bugis

GOA MAMPU


Nama "Goa Mampu" mungkin terdengar asing, terutama bagi mereka yang tidak tinggal di Kabupaten Bone. "Mampu" sendiri adalah nama sebuah daerah di kabupaten ini pada zaman dahulu. Konon, goa ini menyimpan sebuah kisah mistis. Penasaran? Ikuti kisah perjalanan saya di Goa Mampu.


Goa Mampu merupakan salah satu gua terluas di Provinsi Sulawesi Selatan. Goa ini juga menyimpan sebuah legenda yang dipercaya sebagian besar masyarakat dan dikenal dengan sebutan Alebborengnge ri Mampu, yang berarti malapetaka di Mampu.

Di dalam goa seluas sekitar 2.000 meter persegi itu, pengunjung disuguhi deretan stalaktit dan stalagmit yang tertata rapi, juga bongkahan batu yang menyerupai manusia, perahu, hewan, tumpukan padi, hingga persawahan. Sekilas, semuanya memang tampak seperti sebuah perkampungan.

Di dalam goa ini juga terdapat dua kuburan kuno yang menambah kesan mistis. Satu terletak tak jauh dari mulut goa, sedangkan yang lain berada di puncaknya, tepatnya di tingkatan ketujuh.

Legenda Goa Mampu tercatat pula dalam naskah Lontara Bugis, yang mengisahkan sebuah perkampungan yang terkena kutukan hingga seluruh isinya berubah menjadi batu.

Meski demikian, hingga kini belum ada pelurusan sejarah atas legenda Goa Mampu, sehingga beragam versi terus berkembang di tengah masyarakat.

Salah satu versi menyebutkan bahwa pada zaman dahulu tempat ini merupakan wilayah Kerajaan Mampu. Kutukan bermula ketika putri raja menenun seorang diri di teras rumah panggungnya. Karena mengantuk, alat tenunnya yang disebut walida terjatuh ke tanah.

Tak jauh dari situ ada seekor anjing, dan sang putri pun memintanya mengambilkan walida itu. Tiba-tiba anjing tersebut berbicara layaknya manusia. Sang putri terkejut, dan seketika itu juga tubuhnya berubah menjadi batu, dari kepala hingga ujung kaki.

Para dayang dan warga yang menyaksikan kejadian itu ikut terkejut. Mereka menunjuk ke arah sang putri seraya bertanya apa yang terjadi. Nahas, setiap orang yang bertanya turut berubah menjadi bongkahan batu. Peristiwa inilah yang kini dikenal masyarakat dengan sebutan Sijello' to Mampu, yang berarti saling menunjuk.

 


Legenda ini telah menyebar luas di tengah masyarakat, dan justru karena legenda itulah goa ini ramai dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Sebelum masuk, pengunjung perlu menyiapkan alat penerangan. Bila tidak membawa, tersedia obor yang disewakan khusus bagi pengunjung. Bagian dalam goa sangat gelap, kecuali di beberapa titik yang tersinari cahaya matahari dari celah di langit-langitnya.

Untuk menyusuri goa, Anda juga dapat menggunakan jasa pemandu lokal yang selalu siap mendampingi agar tidak tersesat, dengan biaya Rp70.000. Karena itu, datang beramai-ramai akan terasa lebih ringan sekaligus lebih seru.



Sabtu, 14 Maret 2015

Situs Pacekke Barru : Menelusuri Jejak Peninggalan Sejarah di Pesisir Barat Sulawesi Selatan

SITUS PACEKKE


Inilah persinggahan terakhir yang akan saya ceritakan pada kesempatan kali ini: Situs Pacekke. Situs yang terletak di Kabupaten Barru ini menyimpan nilai sejarah yang sangat tinggi. Mengapa demikian? Mari kita telusuri.


Situs Pacekke adalah peninggalan bersejarah yang berada di Desa Pacekke, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Situs ini menjadi saksi bisu perjuangan berdirinya republik ini, khususnya di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Di tempat inilah, pada 20 Januari 1947, berlangsung Konferensi Pacekke yang mempertemukan para pejuang dari berbagai daerah.

Situs Pacekke berjarak sekitar 27 km ke arah utara dari Kota Barru dan dapat dicapai dengan kendaraan roda empat maupun roda dua. Situs ini banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin mengenal sejarah bangsa Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan.

Setibanya di lokasi, pengunjung akan disambut situs yang didominasi warna putih bersih. Tempat ini masih terjaga dan terawat dengan baik, sementara pepohonan rindang di sekelilingnya menghadirkan suasana yang sejuk dan asri.

Sebuah tempat yang sungguh layak dikunjungi. Mari datang dan saksikan sendiri.

Jumat, 13 Maret 2015

Saoraja Lapinceng Barru : Menelusuri Rumah Adat Bugis Bangsawan yang Menyimpan Jejak Sejarah

RUMAH ADAT SAORAJA LAPINCENG


Kita lanjutkan perjalanan. Siapa sangka, Barru ternyata juga menyimpan sebuah rumah adat bersejarah. Seperti apa kisahnya? Mari kita simak.

Rumah Adat Saoraja Lapinceng terletak di Mangkoso, Kecamatan Soppeng Riaja, sekitar 17 km di sebelah utara ibu kota Kabupaten Barru. Rumah ini dibangun pada masa pemerintahan Andi Muhammad Saleh Dg. Parani yang bergelar Petta Sulle Raja Balusu.

Bangunannya terdiri atas enam petak seluas 35 x 12 meter dan ditopang 35 tiang berukuran 35 x 35 cm.

Sayangnya, rumah ini terkunci saat saya berkunjung. Saya pun mengurungkan niat untuk masuk; salah-salah malah dikira hendak mencuri.

Pelabuhan Garongkong Barru : Melihat Aktivitas Bongkar Muat dan Wajah Pelabuhan di Pesisir Sulawesi Selatan

PELABUHAN GARONGKONG ANDI MATTALATTA


Selepas Pantai Awerange dan Pantai Labuange, perjalanan berlanjut ke pelabuhan yang ada di sini, yaitu Pelabuhan Garongkong Andi Mattalatta.

Pelabuhan ini terletak di Kelurahan Sumpang Binangae, Kecamatan Barru, sekitar 3 km dari Kota Barru dan 103 km dari Kota Makassar. Di tempat inilah dahulu pasukan dari Jawa yang dipimpin almarhum Andi Mattalatta mendarat.

Sebuah kisah yang mengagumkan, dan barangkali justru sejarah itulah yang menarik saya untuk mengunjungi pelabuhan ini.

Pantai Labuange Barru : Menikmati Suasana Pesisir yang Tenang di Pantai Barat Sulawesi Selatan

PANTAI LABUANGE


Persinggahan kedua dalam penjelajahan saya di Barru adalah Pantai Labuange. Pantai ini begitu mudah dijangkau karena letaknya persis di tepi jalan, sehingga siapa pun yang melintas cukup menepi sejenak untuk menikmatinya.

Pantai ini berada di Desa Bojo Baru, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru, sekitar 30 km dari Kota Barru dan 130 km dari Kota Makassar.

Sejujurnya, tak banyak yang bisa saya ceritakan tentang tempat ini. Latar foto saya sudah cukup berbicara: pantainya sangat kotor, dengan sampah berserakan di mana-mana. Untuk saat ini, saya tidak menyarankan siapa pun berkunjung ke sini. Kondisi ini seolah menjadi tanda kurangnya perhatian pihak setempat terhadap lingkungan tempat tinggalnya sendiri.

Meski begitu, ada satu pemandangan yang membuat saya heran. Di tengah kondisi seperti ini, masih saja ada orang yang menepi di pinggir jalan dekat pantai untuk makan sejenak. Entah apa yang membuat mereka memilih tempat ini.

Saya hanya bisa terdiam dan termangu setelah mengunjunginya.



Pantai Awerange Barru : Pantai Tersembunyi di Pesisir Barat Sulawesi Selatan

PANTAI AWERANGE


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, jumpa kembali.

Sungguh menyenangkan menjelajahi daerah-daerah di Sulawesi Selatan. Sudah banyak tempat yang saya kunjungi, namun rasanya belum lengkap tanpa menyinggahi salah satu kabupaten yang menurut saya cukup memanjang bentuk wilayahnya, yaitu Kabupaten Barru. Mari kita jelajahi bersama.

Dalam daftar saya, ada sekitar lima tempat wisata yang saya kunjungi di Kabupaten Barru, salah satunya Pantai Awerange. Secara umum, berwisata di Barru memang sedikit menantang. Mengapa? Sebab tempat wisata di sini jarang dilengkapi petunjuk arah, baik menuju desa maupun lokasi wisatanya langsung. Hanya satu atau dua tempat saja yang memiliki penanda jalan. Semoga pemerintah daerah berkenan memperbaiki hal ini, agar wisatawan tidak kebingungan mencari arah.

Baiklah, langsung saja. Kali ini saya akan bercerita tentang Pantai Awerange.

Pantai ini terletak di Desa Batupute, Dusun Awerange, Kecamatan Soppeng Riaja, dengan jarak sekitar 25 kilometer dari Kota Barru dan 125 kilometer dari Kota Makassar. Pantai ini ramai dikunjungi, khususnya pada hari libur, baik sebagai tempat rekreasi maupun lokasi penelitian.

Terus terang, saya merasa sedikit heran ketika berkunjung ke tempat ini. Suasananya begitu panas, dan tidak ada tanda-tanda keramaian pengunjung. Bisa dikatakan pantai ini kurang terawat dengan baik. Terlihat jelas di belakang saya, hamparan pantainya tidak bersih, dengan sampah yang berserakan di sana-sini. Sejujurnya, saya pun tidak begitu menemukan daya tarik khusus dari tempat ini.

Meski demikian, bagi Anda yang ingin singgah, masih ada tempat berteduh di bawah pohon dekat kapal yang bersandar. Namun, untuk berenang, sepertinya kurang disarankan, sebab air lautnya tidak jernih. Kabar baiknya, pengunjung tidak dikenai biaya masuk sepeser pun.

Taman Purbakala Sumpang Bita Pangkep : Jejak Lukisan Gua Prasejarah

TAMAN PURBAKALA SUMPANG BITA


Destinasi kedua yang saya kunjungi di Kabupaten Pangkep adalah Taman Purbakala Sumpang Bita. Lokasi ini merupakan situs purbakala yang menyimpan jejak sejarah masyarakat prasejarah Indonesia. Mari kita jelajahi bersama.

Di dalam Taman Purbakala Sumpang Bita terdapat gua-gua yang menyimpan lukisan manusia purba. Kompleks ini memiliki dua gua dengan peninggalan prasejarah, yaitu Gua Sumpang Bita dan Gua Bulu Sumi.

Kompleks Gua Sumpang Bita berada di Desa Sumpang Bita, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep).



Gua Sumpang Bita ditemukan oleh Fritz dan Paul Sarasin, dua peneliti asal Swiss, pada 1902. Gua ini merupakan peninggalan masyarakat Toala, yang berarti "orang yang bertempat tinggal di hutan". Di dalamnya terdapat berbagai lukisan, seperti telapak tangan orang dewasa dan anak-anak, telapak kaki, rusa, babi, ayam, serta gambar sebuah sampan atau perahu. Semua gambar ini berwarna merah, warna yang melambangkan keberanian. Pigmen merah tersebut berasal dari hematit atau oker yang dihaluskan, kemudian disemprotkan ke telapak tangan yang diletakkan di dinding gua.
 
 


Sungguh seru menjelajahi tempat ini. Kawasannya sangat luas. Untuk mencapai gua, pengunjung harus menaiki ratusan anak tangga dengan jalur menanjak sekitar 200 meter. Perjalanan ini cukup melelahkan, jadi pastikan Anda membawa cukup air minum sebelum mendaki anak tangga satu per satu. Bagi Anda yang menyukai aktivitas mendaki, tempat ini bisa menjadi tantangan tersendiri.

Kawasan Wisata Mattampa Pangkep : Wisata Keluarga yang Dikenal Warga sebagai “Dufan” Lokal

KAWASAN WISATA DUFAN MATTAMPA


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, saya kembali berkesempatan menjelajahi kabupaten-kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan. Tempat berikutnya yang akan saya kunjungi adalah Kabupaten Pangkajene Kepulauan, atau yang biasa disingkat Pangkep. Di kabupaten ini, saya akan mengulas dua lokasi wisata, yaitu Kawasan Wisata Dufan Mattampa dan Taman Purbakala Sumpang Bita. Berikut ulasan untuk lokasi pertama.
 
Taman Hiburan Mattampa berada di Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, berjarak sekitar 50 kilometer dari Kota Makassar, ibu kota provinsi. Selain dikenal sebagai daerah penghasil ikan bandeng, Pangkep juga menjadi satu-satunya kabupaten di Sulawesi Selatan yang memiliki wahana dunia fantasi, menyerupai Dufan di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta.
 

Taman hiburan ini merupakan surga bermain bagi segala usia. Selain itu, pengunjung dapat menikmati panorama alam dan gua-gua di kawasan karst Maros-Pangkep, yang dikenal sebagai salah satu kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah kawasan karst di Tiongkok Selatan.

Lokasinya sangat strategis, berada di jalan poros Trans Sulawesi, sehingga mudah dijangkau dengan berbagai jenis kendaraan darat, dan gerbang masuknya pun langsung terlihat dari jalan.

Memasuki kawasan ini, pengunjung langsung disambut dua patung replika kuda putih sebagai simbol selamat datang, diiringi rimbunnya pepohonan hijau dan embusan angin yang sejuk.

Suara gemericik air berpadu dengan riuh tawa anak-anak yang sedang bermain. Berbagai wahana tersedia, mulai dari permainan memanjat tali, meniti dan bergelantungan di atas jaring tambang, hingga wahana yang menguji ketangkasan. Ada pula komidi putar, kincir, bebek-bebekan, kereta gajah, dan kereta wisata. Sayangnya, sebagian besar wahana tersebut tampak sudah tidak berfungsi lagi.

Terdapat dua kolam renang di kawasan ini, satu diperuntukkan bagi orang dewasa dengan kedalaman 4,5 meter, dan satu lagi untuk anak-anak. Sumber air kedua kolam berasal dari pegunungan karst di sekitar Pangkep, sehingga airnya sangat jernih. Kedua kolam ini juga dilengkapi wahana permainan air layaknya waterboom.
Terdapat pula beberapa gua karst yang berjarak sekitar 100 meter di sebelah kanan pintu gerbang.
 
Menarik, bukan? Ditunggu kedatangan Anda di sini.

Rabu, 11 Maret 2015

Gua Leang-Leang Maros : Menelusuri Jejak Cap Tangan dan Lukisan Prasejarah di Pegunungan Karst

GOA LEANG-LEANG


Sudahkah Anda pernah mengunjungi Gua Leang-Leang? Gua prasejarah ini merupakan bagian dari Taman Prasejarah Leang-Leang, yang terletak di Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Taman ini menawarkan pemandangan yang memesona, dihiasi tebing-tebing curam yang menjulang kokoh di sekitarnya. Di seberang jembatan, terhampar pula pemandangan hijau perkebunan yang ditanami sesuai musim. Suasana rimbun pepohonan di perkebunan itu menambah kesan asri pada keseluruhan pemandangan.

 

Gua Leang-Leang memberi kesempatan untuk menelusuri jejak peradaban manusia pada masa lampau. Deretan gua di kawasan pegunungan batu kapur ini menarik perhatian, baik bagi wisatawan awam maupun para ilmuwan. Kata "leang" berasal dari bahasa Bugis-Makassar yang berarti gua.

Menurut catatan yang banyak dikutip, gua ini ditemukan pada 1950 oleh dua arkeolog Belanda, H.R. van Heekeren dan C.H.M. Heeren-Palm, yang menemukan lukisan purba di Leang Pettae dan Leang Pettakere, dua gua yang termasuk dalam kawasan Leang-Leang.

Gua Pettae dan Gua Pettakere adalah dua gua yang termasuk dalam deretan Gua Leang-Leang yang termasyhur. Letak keduanya tidak berjauhan. Pintu Gua Pettae dipagari besi setinggi sekitar 150 sentimeter. Gua ini tidak terlalu dalam, sehingga gambar telapak tangan sudah dapat terlihat begitu kita berdiri di depan pintunya. Terdapat lima gambar telapak tangan, meski hanya tiga yang masih utuh, serta lukisan babi rusa dan sebuah mata tombak.
 
Bagi Anda pencinta wisata purbakala, Gua Leang-Leang adalah salah satu destinasi yang layak dipertimbangkan. Selamat berpetualang!

Air Terjun Bantimurung Maros : Menyapa Kupu-Kupu dan Menikmati Kesejukan Air di Taman Nasional

AIR TERJUN BANTIMURUNG


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, jumpa kembali untuk kesekian kalinya dalam perjalanan menjelajahi kabupaten-kabupaten di Sulawesi Selatan.

Setelah menjelajahi Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, Gowa, dan Makassar, kali ini saya akan mengunjungi Kabupaten Maros. Kabupaten yang dikenal dengan rotinya ini memiliki dua tempat wisata yang layak dikunjungi, yaitu Air Terjun Bantimurung dan Gua Bersejarah Leang-Leang. Mari kita mulai dengan destinasi pertama, Air Terjun Bantimurung.

Air Terjun Bantimurung adalah salah satu tempat wisata yang ramai dikunjungi di Sulawesi Selatan, terutama pada musim libur. Objek wisata ini berada di Dusun Bantimurung, Desa Jenetaesa, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, dengan jarak sekitar 45 kilometer dari Kota Makassar. Lokasi ini dapat ditempuh dengan kendaraan umum.
 
Sebelum memasuki kawasan objek wisata Air Terjun Bantimurung, pengunjung akan disambut oleh sebuah monumen kera sakti, diikuti deretan penjual suvenir khas Bantimurung berupa kupu-kupu yang diawetkan, serta warung dan kedai kopi yang menyajikan makanan khas daerah.
 

Jika Anda ingin menikmati kesejukan alam pegunungan, kicauan burung, serta kupu-kupu beraneka warna yang beterbangan dengan lebih leluasa, datanglah di luar musim liburan.

Keistimewaan kawasan ini adalah sensasi mandi langsung di bawah kucuran air terjun, berselancar di atas batu raksasa dengan pelampung menuju kolam pemandian alami di bawahnya. Pengunjung juga dapat berenang di beberapa kolam buatan yang airnya berasal dari sumber mata air pegunungan yang sejuk.

Untuk mencapai sumber air terjun, yang berjarak sekitar 100 meter, Anda dapat menyusuri tepian tebing melalui tangga-tangga batu. Mandi dan berenang di sumber air terjun ini terasa seperti berada di kolam alam raksasa yang dikelilingi dinding tebing gunung. Di sekelilingnya, pepohonan rindang menghijau diselingi kicauan burung dan suara ayam hutan, sesekali terdengar sahutan monyet-monyet Bantimurung dari kejauhan.

Di dalam kawasan ini juga terdapat sebuah gua yang cukup dalam, disebut Gua Mimpi, yang konon tembus hingga ke sumber mata air di atas pegunungan. Anda dapat menyewa senter seharga sekitar Rp10.000 dari warga yang menawarkan jasanya di depan gua. Biaya yang sangat terjangkau untuk menjelajahi gua ini.

Menarik, bukan? Mari berkunjung ke tempat ini.

Pantai Tanjung Barat Makassar : Menikmati Suasana Pesisir yang Tenang di Sisi Barat Kota Daeng

PANTAI TANJUNG BARAT


Pada kesempatan kali ini, saya kembali mengeksplorasi kekayaan pantai di Makassar. Masih ada satu pantai menarik lagi yang layak dikunjungi, yaitu Pantai Tanjung Barat.
 

Menuju Lokasi

Akses menuju pantai ini sangat mudah. Dari arah Makassar, menuju Jembatan Barombong, kemudian beloklah ke kanan setelah melewati jembatan. Di sana terdapat papan penunjuk arah menuju Pantai Tanjung Barat. Biaya masuknya pun terjangkau, sekitar Rp5.000.

Keunikan pantai ini terletak pada bentuknya yang memanjang ke arah laut, menyerupai sebuah dermaga. Pemandangan di sini cukup menyegarkan mata, dan embusan angin menambah kenyamanan bagi para wisatawan yang berkunjung.

Melancong ke pantai ini sungguh menyenangkan. Selain tarifnya terjangkau, aksesnya juga mudah dijangkau. Pemandangannya memanjakan mata, dan pengunjung dapat menikmati berbagai aktivitas, seperti berenang maupun membakar ikan di tepi pantai. Jadi, tunggu apa lagi? Selamat berkunjung.