Berkeliling Sulawesi Selatan sungguh menyenangkan. Begitu banyak kekayaan wisata alam yang dipamerkan provinsi di pulau berbentuk huruf K ini. Selagi berada di sini, tak ada salahnya menjelajahi daerah-daerahnya satu per satu. Setiap daerah memiliki keunikan tersendiri, termasuk Kabupaten Wajo dengan pesona yang lain daripada yang lain: agrowisata sutra.
Ketika berniat mengunjungi kabupaten ini, saya pun mulai memikirkan tempat menginap. Kebetulan saya berencana bermalam di rumah senior saya, Kak Zulkarnain Husain, di Bone. Terima kasih banyak atas tumpangannya selama saya berkeliling Kabupaten Bone dan Wajo.
Tanpa berpanjang kata, mari kita menuju agrowisata di Kota Sengkang.
Agrowisata sutra merupakan salah satu wisata andalan Sulawesi Selatan, tepatnya di Kabupaten Wajo. Seluruh prosesnya, dari penanaman murbei hingga pembuatan kain, telah lama menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Wajo. Kain sutra sendiri sudah mendunia berkat kelembutan dan kehalusan yang lahir dari helai-helai benang pintalnya.
Lokasi pembibitan dan penanaman murbei tersebar di beberapa desa di Kecamatan Sabbangparu, sekitar 10 km di sebelah selatan Kota Sengkang, pada jalur menuju Kabupaten Soppeng. Di kawasan agrowisata ini, wisatawan dapat menyaksikan penanaman murbei, pemeliharaan ulat sutra, pemintalan benang, hingga penenunan kain. Hasilnya berupa beragam produk sutra, seperti sarung, kemeja, dasi, serta cendera mata berupa kipas dan tas.
Sejumlah ruang pamer sutra di Kota Sengkang menawarkan kain dengan aneka warna dan motif yang indah. Motif yang paling diminati umumnya motif Bugis dan motif yang menyerupai ukiran Toraja. Kain sutra khas Sulawesi Selatan ini telah dikenal luas, bahkan sudah menembus pasar dunia.
Lokasi pemintalan sutra berada di Kota Sengkang, Kabupaten Wajo, sekitar 250 km di sebelah utara Kota Makassar, dan dapat dicapai dengan kendaraan roda empat dalam waktu sekitar tujuh jam.


0 komentar:
Posting Komentar