Radi The Eksplorer

Tana Toraja - Lemo

Radi The Explorer

Enrekang - Pemakamanan di Tebing Tontonan

Radi The Explorer

Pinrang - Pemandian Air Panas Lemo Susu

Radi The Explorer

Makassar - Fort Rotterdam

Radi The Explorer

Makassar - Pulau Kodingareng Keke

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Sabtu, 30 Mei 2015

Permandian Alam Tamboke Masamba : Berendam di Kolam Alami yang Teduh di Luwu Utara

PERMANDIAN ALAM TAMBOKE


Kali ini saya kembali menuliskan pengalaman berkunjung ke Masamba, Luwu Utara. Seperti sudah saya singgung, sebagian besar tempat wisata di kabupaten ini berupa pemandian. Salah satunya berada di Desa Tamboke, Kecamatan Sukamaju.

Kabupaten Luwu Utara memiliki beberapa sungai utama yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air. Salah satu kelebihan sungai-sungai di kabupaten ini adalah airnya yang masih jernih dan alami, sehingga sangat berpotensi dijadikan tempat rekreasi.

Pemandian Alam Tamboke adalah salah satunya. Sesuai namanya, pemandian ini berada di Desa Tamboke.

Pemandian Alam Tamboke dikenal dengan sungai dan tempat mandi di sekitar bendungannya. Namun, masyarakat biasanya lebih memilih pergi ke hulu sungai untuk berekreasi sambil memasak di tepian. Kebiasaan memasak di tepi sungai inilah yang menjadi daya tarik tersendiri: pengunjung dapat menikmati segarnya mandi di alam terbuka, lalu memanjakan perut sesudahnya.

Bagi Anda, khususnya warga Masamba, inilah salah satu pemandian yang layak direkomendasikan, dengan air yang sejuk menyegarkan.

Senin, 25 Mei 2015

Permandian Alam Meli Masamba : Kesegaran Air Pegunungan di Luwu Utara

PERMANDIAN ALAM MELI


Berkeliling Masamba rasanya belum lengkap tanpa singgah di tempat pemandian. Maklum, sebagian besar destinasi wisata di Luwu Utara ternyata berupa pemandian. Barangkali orang Masamba memang gemar mandi.

Objek wisata alam Sungai Meli adalah salah satu bukti nyata betapa kayanya potensi alam daerah ini. Akses jalan beraspal, kolam renang, serta tempat peristirahatan berupa vila yang dibangun Pemerintah Kabupaten Luwu Utara memudahkan sekaligus memanjakan pengunjung, sehingga Pemandian Alam Sungai Meli menjadi pilihan yang nyaman untuk berakhir pekan.


Panorama alam memanjakan mata di sepanjang jalan dari pertigaan jalur poros Trans-Sulawesi di Desa Radda hingga ke lokasi vila dan kolam renang di tepi sungai. Tempat ini berjarak sekitar 10 km dari Masamba, ibu kota Kabupaten Luwu Utara, atau sekitar 430 km di sebelah utara Kota Makassar.


Bila ingin berakhir pekan bersama keluarga, Pemandian Alam Sungai Meli adalah pilihan yang tepat untuk melepas penat sambil menikmati indahnya panorama alam.

Kompleks Makam Datuk Pattimang Luwu Utara : Ziarah ke Pusara Ulama Penyebar Islam di Tanah Luwu

KOMPLEKS MAKAM DATOK PATTIMANG DAN PETTA PAO


Perjalanan menuju Luwu Utara sungguh melelahkan, sebab jarak dari Makassar ke Masamba sangat jauh. Ban dalam motor saya bahkan sempat bocor di jalan menuju Kota Palopo, tepat di daerah pegunungan. Untunglah kejadian itu tidak sampai membuat saya terperosok ke jurang.

Namun, sekali lagi, berbekal nekat, saya bertekad tiba di Masamba apa pun yang terjadi. Alhamdulillah, saya akhirnya menjejakkan kaki di kota ini. Kalau dipikir-pikir, mungkin hanya saya yang mau menempuh perjalanan sejauh ini seorang diri.

Karena sudah sampai di Masamba, tentu saya harus mengunjungi tempat-tempat menariknya. Salah satunya adalah makam para tokoh penting Masamba pada masa lalu. Siapa saja mereka? Mari kita simak.


Datuk Patimang, yang bernama asli Datuk Sulaiman dan bergelar Khatib Sulung, adalah ulama dari Koto Tangah, Minangkabau. Beliau menyebarkan agama Islam di Kerajaan Luwu sejak kedatangannya pada 1593, di penghujung abad ke-16, hingga akhir hayatnya. Bersama dua saudaranya yang juga ulama, yaitu Datuk ri Bandang (Abdul Makmur, bergelar Khatib Tunggal) dan Datuk ri Tiro (Nurdin Ariyani, bergelar Khatib Bungsu), beliau menyiarkan Islam ke kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan pada masa itu.


Makam yang satu lagi, makam Petta Pao, juga merupakan makam seorang tokoh penting. Makam ini tidak seramai Kompleks Makam Datuk Patimang yang paling sering diziarahi, tetapi tetap terawat dengan baik.

Kedua makam ini berada di dua kecamatan berbeda di Kabupaten Luwu Utara. Makam Datuk Patimang terletak di Desa Pattimang, Kecamatan Malangke, 40 km dari Masamba, ibu kota kabupaten. Makam Petta Pao berada di Desa Pao, Kecamatan Malangke Barat, 47 km dari Masamba dan 11 km dari Makam Datuk Patimang.

Ada satu hal yang baru saya sadari: mengapa gelar "datuk" dikenal di Sulawesi Selatan. Ternyata istilah itu berasal dari Minangkabau dan dibawa oleh para pendakwah ini.

Rabu, 20 Mei 2015

Air Terjun Sarambu Alla Masamba : Kesejukan Alam Tersembunyi di Tanah Luwu Utara

AIR TERJUN SARAMBU ALLA


Menempuh perjalanan sejauh ini sebelumnya tak pernah terpikirkan. Namun, Luwu Utara adalah kabupaten yang sangat ingin saya kunjungi. Berbekal nekat dan uang Rp600.000, saya berangkat seorang diri. Entah mengapa, keinginan menjejakkan kaki di Bumi Batara Guru ini begitu kuat, dan bagi saya itu tantangan tersendiri.

Pagi itu saya bersiap berangkat ke Masamba tepat pukul enam. Saking penasarannya, saya akhirnya memilih mengendarai motor sendirian.

Saya harus mengulang rute yang sama seperti ketika ke Palopo: Maros, Pangkep, Barru, Parepare, Sidrap, Enrekang, Toraja, lalu Palopo. Melelahkan, tetapi apa yang sudah diniatkan, insyaallah, akan tercapai.

Alhamdulillah, saya tiba di Kota Masamba pukul empat sore. Saya segera mencari penginapan dan beruntung langsung menemukan yang terjangkau, Penginapan Sarinah, dengan tarif Rp50.000 per malam, jauh lebih murah daripada di Selayar.

Tibalah saatnya berpetualang di kabupaten ini. Tujuan pertama: Air Terjun Sarambu Alla di Desa Kalotok, Kecamatan Sabbang, Kabupaten Luwu Utara.

Inilah Air Terjun Sarambu Alla, dan pemandangannya sungguh menakjubkan.

Air terjun ini ternyata jauh dari jalan poros. Saya beberapa kali bertanya kepada warga, meski awalnya masih ragu apakah jalan yang saya ambil sudah benar. Mula-mula jalannya sangat mulus, lalu menjelang ujung berubah berbatu, dan akhirnya menjadi jalan tanah yang buntu. Mau tak mau saya melanjutkan dengan berjalan kaki, tanpa tahu persis di mana letak air terjunnya.

Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya saya menemukannya. Alhamdulillah, ada kepuasan tersendiri ketika berdiri di hadapan air terjun ini.


Suasananya sebenarnya agak mencekam, sebab saya hanya seorang diri di sana, tanpa pengunjung lain. Namun, berbekal nekat, saya tetap mendatangi air terjun ini meski harus melewati berbagai rintangan. Bagi penyuka tantangan, air terjun ini wajib dikunjungi.

Senin, 18 Mei 2015

Pantai Baloiya Selayar : Pasir Putih dan Laut Jernih di Ujung Selatan Sulawesi

PANTAI BALOIYA


Masih di Kabupaten Kepulauan Selayar, kali ini saya akan membahas destinasi wisata ketiga, Pantai Baloiya. Seperti apa pesonanya? Silakan simak ulasan berikut.


Pantai Baloiya adalah salah satu objek wisata alam di Kepulauan Selayar, terletak di Desa Patikarya, Kecamatan Bontosikuyu, sekitar 10 km dari Kota Benteng.

Berjalan-jalan di pantai ini terasa menenangkan. Di seberangnya tampak pulau-pulau kecil, dan pada sore hari kita dapat menikmati keindahan langit saat matahari terbenam. Tempat ini pun dapat dikunjungi tanpa biaya, kecuali bila hendak masuk ke area resornya.

Bagi pencinta pantai, inilah salah satu tempat wisata favorit di Selayar.

Gong Nekara Selayar : Menyaksikan Peninggalan Perunggu Kuno yang Menyimpan Misteri Sejarah Nusantara

GONG NEKARA


Senang berjumpa lagi. Kali ini saya akan menceritakan pengalaman mengunjungi tempat kedua, Gong Nekara. Sebelum itu, izinkan saya bercerita sedikit tentang Kepulauan Selayar.

Saya masih terkagum-kagum bisa menjejakkan kaki di sini. Maklum, ini kunjungan pertama saya: menempuh perjalanan seorang diri, menyeberang dengan feri, hingga melihat lumba-lumba. Semuanya mengesankan. Hanya satu hal yang terasa memberatkan, yaitu harga-harga di Selayar yang cukup tinggi.

Tarif hotel di sini, kabarnya, di atas Rp100.000 per malam. Sebagai perbandingan, di Palopo saya pernah mendapat kamar seharga Rp95.000. Sewa motor Rp70.000 per hari, dan semangkuk coto Makassar Rp18.000. Rasanya ingin segera pulang; untung tiket pulang sudah di tangan.

Jadi, bila hendak ke Selayar, siapkan bekal yang cukup, atau setidaknya pastikan ada simpanan di rekening.

Kembali ke Gong Nekara. Barangkali belum semua mengenalnya, jadi mari kita berkenalan dulu.

Gong nekara adalah gong perunggu hasil kebudayaan Dong Son, yang berkembang di delta Sungai Merah, Vietnam Utara. Gong jenis ini dibuat sejak sekitar 600 tahun Sebelum Masehi, atau lebih awal, hingga abad ketiga Masehi, dengan teknik pengecoran cetak lilin hilang (lost-wax casting).

Nekara di Pulau Selayar disebut-sebut sebagai yang terbesar di Asia Tenggara, bahkan tertua di dunia. Menurut penuturan tetua adat dan penduduk Kelurahan Bontobangun, tempat nekara ini ditemukan, gong tersebut ditemukan secara tidak sengaja pada 1686 oleh Sabuna, seorang penduduk Kampung Rea-Rea.


Sejarahnya sungguh mengagumkan. Sayangnya, saya tidak dapat melihat gong ini secara langsung saat berkunjung. Kabarnya, pengunjung harus lebih dulu menghubungi pemegang kuncinya, sebab gong ini dijaga ketat dan selalu disimpan dalam keadaan terkunci. Menarik, bukan? Selagi masih gratis, sempatkanlah berkunjung.

Kamis, 14 Mei 2015

Desa Wisata Jammeng Selayar : Menikmati Kehidupan Desa yang Asri di Ujung Selatan Sulawesi

DESA WISATA JAMMENG


Kali ini saya kembali berbagi kisah petualangan menuju kabupaten berikutnya, tempat yang sudah lama ingin saya kunjungi: Kabupaten Kepulauan Selayar.

Saya bertekad pergi ke Selayar seorang diri. Rencana itu saya sampaikan kepada Kak Nova, pegawai di Bagian Biokimia FK Unhas yang berasal dari Selayar. Ia segera menghubungi keluarganya di sana agar saya tidak perlu menginap di tempat lain. Meski begitu, penjelajahannya tetap akan saya jalani sendirian.

Saya berangkat dengan bus ber-AC yang sangat nyaman, tepat pukul 09.00 WITA. Sepanjang jalan terhampar pemandangan yang sudah akrab bagi saya, sebab daerah-daerah yang dilalui, yakni Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, dan Bulukumba, telah saya kunjungi sebelumnya. Sampailah kami di pelabuhan penyeberangan feri Bulukumba–Selayar, pengalaman pertama bagi saya.

Penyeberangan berlangsung hampir dua setengah jam, dan selama itu saya tetap duduk di dalam bus. Belakangan, dalam perjalanan pulang, barulah saya tahu bahwa penumpang sebenarnya dilarang berada di dalam bus selama feri berlayar. Di tengah penyeberangan, untuk pertama kalinya saya melihat lumba-lumba berkejaran di laut. Indah sekali. Tak lama kemudian kami merapat, dan bus mengantar kami ke Kota Benteng, ibu kota Kabupaten Kepulauan Selayar.

Setibanya di sana, saya akhirnya menginap di Selayar Beach Hotel, sebab keluarga Kak Nova ternyata sedang sibuk mengurus pilkada dan saya tidak enak hati merepotkan mereka. Keesokan harinya, saya memulai perjalanan ke Desa Wisata Jammeng.

Desa Wisata Jammeng terletak di Kecamatan Bontosikuyu, Kabupaten Kepulauan Selayar. Jaraknya ternyata sangat jauh; kira-kira dua jam barulah saya tiba. Jalan menuju ke sana pun menantang: sempit, dengan tanjakan dan turunan yang tajam.


Setibanya di sana, saya disambut keramahan penduduknya. Saya pun menuju air terjun yang kabarnya indah, tetapi tidak sampai ke sumbernya karena jaraknya masih sangat jauh, sementara waktu salat Jumat sudah dekat.


Dalam perjalanan pulang, saya juga sempat menyaksikan pemandangan yang sungguh menakjubkan, seperti tampak pada foto berikut.


Berpetualang di Kabupaten Kepulauan Selayar sungguh mengasyikkan. Bagi Anda yang merasa tertantang, mari berangkat.

Selasa, 12 Mei 2015

Museum Batara Guru Palopo : Menelusuri Koleksi Bersejarah Kerajaan Luwu di Tanah Datu

MUSEUM  BATARA GURU


Tempat kedua, sekaligus terakhir, yang saya kunjungi di Kota Palopo adalah Museum Batara Guru. Awalnya saya sempat bingung mencari letaknya. Ternyata museum ini tidak jauh dari Masjid Jami' Tua, tepatnya di Jl. Andi Jemma No. 1, Kelurahan Batu Pasi, Kecamatan Wara Utara, Kota Palopo.


Museum Batara Guru diresmikan pada 26 Juli 1971 oleh Bupati Luwu saat itu, Andi Achmad, yang juga salah seorang ahli waris Raja Luwu. Museum ini didirikan untuk melestarikan warisan budaya Kerajaan Luwu agar dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. Gedungnya sendiri, yang dibangun pada 1920, merupakan bekas Istana Raja Luwu.


Sayangnya, museum ini sedang tutup ketika saya berkunjung. Maklum, saya datang pada sore hari. Barangkali lebih baik berkunjung pada hari kerja, dari pagi hingga siang. Bila ingin memperkaya wawasan sejarah, datanglah ke museum ini.

Senin, 11 Mei 2015

Masjid Jami Tua Palopo : Masjid Tertua di Tanah Luwu

MESJID JAMI TUA


Selamat berjumpa kembali. Kali ini saya akan menceritakan pengalaman berkunjung ke Kota Palopo.

Sudah lama saya penasaran ingin menempuh perjalanan panjang ke Palopo dan melihat sendiri seperti apa kota itu. Akhirnya saya memutuskan berangkat dari Makassar dengan mengendarai motor.

Pada hari keberangkatan saya bangun pagi-pagi sekali agar dapat tiba menjelang sore, lalu berangkat pukul 07.00 WITA. Dengan mengucap bismillah, perjalanan panjang itu pun dimulai.

Rutenya melewati banyak daerah: Maros, Pangkep, Barru, Parepare, Sidrap, Enrekang, Tana Toraja, hingga akhirnya Palopo. Jalan menuju Palopo sungguh menguji kesabaran. Sepanjang perjalanan saya menikmati panorama alam di kiri-kanan jalan, tetapi ada satu hal yang saya keluhkan: Kabupaten Barru terasa panjang tak berkesudahan.

Meski begitu, Barru masih lebih bersahabat dibandingkan Enrekang, yang jalannya rusak di beberapa bagian, berkelok-kelok, sempit, dan panjang pula. Namun, Enrekang punya penawarnya sendiri: panorama pegunungan yang menakjubkan.

Memasuki Toraja, saya harus menghadapi jalan bergelombang dan agak rusak di poros Makale–Rantepao, yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Untunglah poros Rantepao–Palopo relatif mulus, dan sampailah saya di kawasan pegunungan Latimojong.

Di jalan pegunungan inilah, untuk pertama kalinya, saya merasakan dingin yang menusuk disertai kabut yang menghalangi pandangan. Saya pun harus waspada terhadap kemungkinan longsor. Semoga Allah melindungi setiap langkah saya. Amin.

Alhamdulillah, setelah menempuh jalan sepanjang itu, saya tiba di Palopo pukul 15.30 WITA. Nekat, memang. Untuk pertama kalinya saya menjejakkan kaki di kota ini.

Tentu ada satu tempat yang wajib saya kunjungi di sini: Masjid Jami' Tua, masjid termasyhur di Palopo yang dibangun pada tahun 1600-an. Mari simak perjalanan religi saya di sana.


Masjid Tua Palopo adalah peninggalan Kerajaan Luwu yang berada di Kota Palopo, Sulawesi Selatan. Masjid seluas 15 m² ini didirikan pada 1604 M oleh Raja Luwu, Datu Payung Luwu XVI Pati Pasaung Toampanangi Sultan Abdullah Matinroe. Sebutan "Tua" melekat karena usianya yang memang sudah sangat tua. Adapun nama "Palopo" berasal dari kata dalam bahasa Bugis dan Luwu yang memiliki dua arti: pertama, penganan dari campuran ketan dan air gula; kedua, memasukkan pasak ke dalam lubang tiang bangunan. Kedua makna itu berkaitan dengan proses pembangunan Masjid Tua Palopo.


Masjid Tua Palopo berukuran 15 x 15 meter dan dibangun dari kayu. Bangunannya terdiri atas pintu masjid, empat tiang tumpang dua, satu tiang soko guru, mihrab, dan mimbar. Pintunya memiliki tonjolan menyerupai sayap di kedua sisi. Atapnya berbentuk tumpang tiga susun dari sirap, sedangkan tiang utamanya terbuat dari kayu lokal.

Sebagian masyarakat percaya bahwa seseorang belum resmi menginjakkan kaki di Palopo sebelum menyentuh tiang utama Masjid Tua Palopo, yang terbuat dari kayu cinaduri, dan dinding temboknya, yang direkatkan dengan campuran putih telur. Tak heran bila masjid ini tidak pernah sepi dari jemaah. Pada bulan Ramadan khususnya, selepas salat Zuhur hingga menjelang berbuka, para jemaah biasanya tetap tinggal di masjid untuk mengaji, bertadarus Al-Qur'an, dan berzikir. Mereka bukan hanya warga Kota Palopo, tetapi juga banyak yang datang dari kabupaten tetangga seperti Luwu, Luwu Utara, Sidrap, dan Wajo.

Bila tertarik, kunjungilah salah satu masjid tertua di Sulawesi Selatan ini.

Minggu, 10 Mei 2015

Bori’ Kalimbuang Toraja Utara : Menelusuri Deretan Menhir Raksasa di Lapangan Upacara Adat

BORI'


Kabupaten Toraja Utara termasuk destinasi yang saya kunjungi di Sulawesi Selatan. Keinginan ke Toraja sebenarnya sudah lama ada, tetapi baru terwujud pada Desember 2014. Waktu itu saya diajak Tuching, teman kuliah saya, dan atas arahannya saya menghubungi Opi, koordinator perjalanan kami ke Toraja.

Tujuan awal kami adalah menghadiri upacara Rambu Solo' yang digelar keluarga sahabat kami dari Toraja, dr. Gustian Rante Tiballa. Ibundanya telah berpulang, dan upacara pemakamannya diselenggarakan bertepatan dengan Lovely December. Turut berdukacita, kawan.

Sambil menghadiri Rambu Solo', tidak ada salahnya sekaligus berkeliling Toraja. Saya pun berangkat bersama delapan teman: Tuching beserta temannya, Opi, Fandy, Kiko, Kak Fauzan, Deni, dan Nining. Salah seorang dari kami lalu menghubungi dr. Budhi Karoma, yang berasal dari Toraja dan juga teman kuliah kami.

Kami menginap di Toraja Prince Hotel, salah satu hotel di Toraja Utara, selama dua hari satu malam. Menjelang pulang, kami bersiap untuk kunjungan terakhir, salah satunya ke Bori'.


Inilah salah satu objek wisata menarik yang layak dikunjungi di Toraja Utara.

 

Di sini terdapat rante, tempat penyelenggaraan upacara pemakaman. Di atasnya berdiri sekitar 102 menhir dengan ukuran beragam, yang oleh masyarakat setempat disebut simbuang batu.

Tak jauh dari kuburan batu, terdapat pula pemakaman khusus bayi.

Hanya bayi yang meninggal sebelum giginya tumbuh yang dimakamkan di sini, di dalam lubang pada batang pohon tarra', sebab mereka dianggap masih suci. Pohon tarra' dipilih karena getahnya yang melimpah dipandang sebagai pengganti air susu ibu. Dengan cara ini, sang bayi seolah dikembalikan ke rahim ibunya, dengan harapan bahwa hal itu akan membawa keselamatan bagi bayi-bayi yang lahir kemudian.


Sekitar 100 meter dari deretan menhir, kami melihat sebuah batu besar berbentuk lonjong yang dilubangi sebagai tempat meletakkan jenazah. Itulah liang pa', kompleks kuburan batu di Bori' Kalimbuang. Sungguh menakjubkan.

Sungguh perjalanan yang menakjubkan.

Terima kasih kepada teman-teman yang telah menemani perjalanan kali ini; berkeliling Toraja bersama kalian benar-benar menyenangkan. Terima kasih pula kepada Gusti selaku tuan rumah, dan kepada Budhi Karoma yang telah meringankan biaya penginapan kami.

Toraja Utara sungguh luar biasa.


Senin, 04 Mei 2015

Ke’te’ Kesu’ Toraja Utara : Menyusuri Kampung Adat dengan Tongkonan dan Lumbung Padi Berusia Ratusan Tahun

KE'TE KESU'


Setelah sekian lama, akhirnya saya berhasil menjejakkan kaki di salah satu destinasi favorit Toraja Utara, Ke'te Kesu'. Masih bersama rombongan yang sama, yaitu Tuching dan kakak perawat dari Enrekang, Opi, Fandy, Deni, Kiko, Kak Fauzan, dan Nining, kami berangkat dari penginapan menuju beberapa tempat wisata, salah satunya Ke'te Kesu'.

Perjalanan ke sana ternyata padat merayap. Jalan beraspal yang tidak begitu lebar dipenuhi kendaraan dari segala arah, hingga macet total. Maklum, perhelatan Lovely December tengah berlangsung, sehingga wisatawan membeludak. Kami yang tiba sekitar pukul tiga sore harus mengantre lebih dari satu jam sebelum bisa masuk. Hal itu justru membuat saya makin penasaran: apa yang begitu menarik dari tempat ini? Mari kita jelajahi.

Ke'te Kesu' adalah satu dari sekian banyak objek wisata di Kabupaten Toraja Utara yang memikat wisatawan mancanegara maupun domestik. Hampir setiap wisatawan yang datang ke Toraja menyempatkan diri berkunjung ke sini, tempat yang masih menyimpan panorama kepurbakalaan berupa kuburan batu yang diperkirakan berusia sekitar 500 tahun, bahkan lebih.

Bila ingin menyaksikan perkampungan asli Toraja, datanglah ke Ke'te Kesu'. Usianya lebih dari 400 tahun, dan konon keadaannya tetap seperti sediakala. Ke'te Kesu' merupakan kompleks tongkonan, rumah tradisional Toraja, yang paling populer dan paling indah di Toraja, sekaligus latar yang sempurna untuk berfoto bersama.


Ke'te Kesu' terletak di Kampung Bonoran, Kelurahan Tikunna Malenong, Kecamatan Sanggalangi, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, sekitar empat kilometer di sebelah selatan Kota Rantepao atau 14 kilometer di sebelah utara Makale.

 



Sebagai tempat wisata, Ke'te Kesu' terbilang lengkap, terutama bagi mereka yang ingin memotret kehidupan komunal tradisional orang Toraja. Di kawasan ini beberapa tongkonan berdiri berjajar, dilengkapi lumbung padi (alang sura'), area upacara pemakaman (rante), dan tempat pertemuan adat. Ada pula sebuah perpustakaan yang memamerkan beragam hasil kerajinan serta benda-benda bersejarah yang menarik untuk disimak.

 

  

       

Di sekitar kompleks Ke'te Kesu' terdapat liang, pekuburan tradisional berupa lubang-lubang pada batu cadas, serta hamparan sawah yang indah. Dengan semua itu, Ke'te Kesu' menjadi poros tempat masyarakat hidup, menata adat, dan memenuhi segala kebutuhannya.

Di sekeliling kompleks tongkonan, penduduk menjajakan beragam cendera mata: nampan, tatakan gelas, gelang, kalung, patung, hiasan dinding, dan lukisan, semuanya bermotif ukiran Toraja hasil karya tangan mereka sendiri. Tatakan gelas dijual seharga Rp1.000, nampan Rp20.000 hingga Rp25.000, sedangkan lukisan ukir bisa mencapai jutaan rupiah.

       

 

Selain tumpukan tulang-belulang, di sini juga dapat dijumpai beberapa makam megah milik para bangsawan dengan rancangan yang unik. Puluhan, bahkan ratusan, hasil kerajinan tangan dan senjata tajam khas Toraja turut dijajakan di sekitar kawasan Ke'te Kesu'.

Rasanya ingin kembali lagi ke sini, apalagi bersama teman-teman yang jenaka dan apa adanya. Lalu, kapan giliran Anda?


Londa Toraja : Menyusuri Gua Pemakaman Leluhur dan Peti Kayu Kuno di Tebing Karst

LONDA


Menjelajahi Tana Toraja sungguh mengasyikkan. Banyak hal yang belum pernah saya lihat ternyata ada di sini, dari makam-makam unik hingga pesta kematian, semuanya pengalaman baru bagi saya. Pemakaman unik di daerah ini pun rupanya begitu banyak. Setelah Lemo, masih ada Londa, yang tak kalah mengundang jiwa petualang. Boleh dibilang, sebagian besar waktu saya di Tana Toraja habis untuk berziarah dari satu makam ke makam lainnya.

Barangkali belum banyak yang tahu seperti apa Londa. Berikut gambarannya.

Londa adalah salah satu gua makam paling populer sebagai tujuan wisata di Tana Toraja. Objek wisata ini berada di Desa Sandan Uai, Kecamatan Sanggalangi, kurang lebih 7 kilometer di sebelah selatan Kota Rantepao, pusat pariwisata dan akomodasi bagi wisatawan. Karena itu, Londa mudah dicapai dengan kendaraan umum seperti bemo dan ojek, ataupun dengan mobil atau motor sewaan.

Dari kejauhan tampak tebing curam yang dirimbuni pepohonan hijau. Bila jeli, Anda mungkin akan melihat peti-peti jenazah berwarna cerah terselip di celah dinding tebing. Di kaki tebing tinggi nan rimbun itulah tersembunyi sebuah gua alam yang dijadikan makam.

Untuk mencapai gua makam Londa, pengunjung harus menuruni sejumlah anak tangga. Sebelum turun, pastikan menyewa lampu petromaks dari warga setempat seharga Rp30.000, karena bagian dalam gua memang membutuhkan penerangan. Lampu itu boleh dibawa sendiri atau dibawakan oleh seseorang yang sekaligus berperan sebagai pemandu.

Hal pertama yang saya jumpai ketika mendekati gua adalah peti-peti mati dan tongkonan. Suasananya langsung terasa mencekam.

Di dekat mulut gua, nuansa mistis segera terasa. Alam yang masih hijau dan liar serta hawa pegunungan yang dingin turut menyambut kedatangan pengunjung. Di dinding tebing sekitar gua berderet patung kayu tau-tau, ditempatkan dalam ceruk batu yang dipahat serupa etalase tanpa kaca. Tau-tau dipahat semirip mungkin dengan orang yang dimakamkan di sana. Kayu yang dipilih biasanya kayu nangka yang berwarna kekuningan, warna yang paling mendekati kulit manusia. Sebagian tau-tau dikerjakan dengan sangat teliti, sampai-sampai garis kerut di wajah dan kulit leher yang mengendur karena usia pun ikut dipahat. Di depan gua berjajar pula ucapan dukacita dari orang-orang terdekat mendiang.


Sebelum memasuki gua, tampak tulang-belulang berserakan. Tulang-tulang itu berasal dari peti mati yang jatuh dari tebing tempatnya semula digantung, atau dari peti yang telah hancur dimakan usia. Tengkorak dan tulang-belulang tersebut sebenarnya dapat dipindahkan ke peti baru. Hanya saja, pemindahan itu harus disertai upacara adat yang sangat mahal, barangkali setara dengan upacara ketika peti tersebut pertama kali dimakamkan.

Di dalam gua, tengkorak dan tulang-belulang yang berserakan lebih banyak lagi. Di beberapa sudut tampak peti-peti mati yang ditumpuk dan ditata menurut garis keturunan atau keluarga. Selain peti, terlihat pula pakaian dan rokok yang sengaja diletakkan oleh sanak kerabat mendiang. Kabarnya, tengkorak dan tulang-belulang di gua ini telah berusia puluhan, bahkan ratusan tahun.

Gelapnya gua kian menambah aura mistis makam ini. Meski begitu, menelusuri gua makam Londa adalah pengalaman yang tidak akan Anda temukan di tempat lain. Pastikan tidak memindahkan, apalagi mengambil, tulang, tengkorak, atau benda apa pun di area makam. Itulah salah satu etika yang patut dijunjung ketika memasuki makam leluhur masyarakat Toraja.

Demikianlah gambaran tentang Londa, gua alam yang dijadikan pemakaman. Merasa tertantang untuk menyelami suasana mistisnya? Mari ke Toraja; kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Minggu, 03 Mei 2015

Lemo Tana Toraja : Kuburan Batu dan Deretan Tau-Tau yang Memukau

LEMO


Sejauh ini sudah sekitar 84 destinasi wisata di Sulawesi Selatan yang saya kunjungi. Alhamdulillah, sungguh menyenangkan.

Namun, rasanya belum lengkap bila belum menjejakkan kaki di Kabupaten Tana Toraja. Daerah ini kerap didatangi wisatawan asing, dan itu tidak mengherankan: Tana Toraja terkenal dengan tradisi pemakamannya yang disebut-sebut paling unik di dunia. Bila orang dari mancanegara saja rela datang jauh-jauh, mengapa kita harus ketinggalan? Bagaimanapun caranya, saya harus menjelajahi kabupaten ini.

Kesempatan itu akhirnya datang pada Desember 2014, bertepatan dengan perhelatan Lovely December di Tana Toraja. Saya berangkat bersama teman-teman. Kami berdelapan: saya, Tuching, Opi, Fandi, Kiko, Nining, Deni, dan Kak Fauzan, ditambah seorang kakak perawat dari Enrekang yang datang bersama Tuching.

Alhamdulillah, setelah sekian lama hanya berangan-angan, perjalanan ke Toraja akhirnya terwujud, terlebih bersama teman-teman sesama muslim yang insyaallah saling menuntun dalam memilih makanan halal. Maklum, mayoritas penduduk Tana Toraja adalah umat Kristiani. Meski demikian, tetap ada sejumlah tempat makan halal di daerah ini, sehingga para pelancong muslim tidak perlu khawatir.

Tempat pertama yang ingin saya bagikan adalah Lemo.

Objek wisata Lemo di Tana Toraja dikenal sebagai rumah para arwah. Di sini jenazah disemayamkan di dinding bukit yang curam, di tempat terbuka yang dapat disaksikan pengunjung. Pemakaman ini merupakan perpaduan antara kematian, seni, dan ritual.

Di lokasi ini juga terdapat patung kayu yang disebut tau-tau, dipahat dengan sangat detail. Bila diperhatikan dengan saksama, tangan kanan patung menghadap ke atas, sedangkan tangan kirinya menghadap ke bawah. Sikap tangan itu bermakna meminta dan memberkati, sekaligus mencerminkan hubungan antara mereka yang masih hidup dan yang telah wafat. Mereka yang telah tiada membutuhkan bantuan keturunannya berupa serangkaian upacara adat agar dapat mencapai surga, dan upacara yang sama diyakini mendatangkan berkah turun-temurun bagi mereka yang masih hidup.


Di sini pengunjung dapat menyusuri lubang-lubang makam yang terpahat di tebing bukit. Beberapa di antaranya tidak berpintu, sehingga tulang-belulang jenazah di dalamnya terlihat. Bila ingin menyaksikan ritual Ma' Nene', yaitu tradisi mengganti pakaian jenazah sebagai wujud penghormatan kepada orang tua dan leluhur, daerah ini layak dikunjungi.

Bukan hanya perjalanan penuh misteri yang menanti di sini. Di kawasan ini juga berdiri beberapa rumah tongkonan yang telah diselimuti lumut dan tanaman liar. Meski dimakan usia, keindahan seninya masih jelas terlihat. Hamparan sawah yang menemani perjalanan menyusuri Lemo pun akan memanjakan siapa saja yang merindukan suasana pedesaan.

Lemo tidak jauh dari Kota Makale. Untuk menuju ke sana, pengunjung dapat menggunakan bemo atau menyewa kendaraan, dengan atau tanpa sopir.

Penasaran? Mari jelajahi Tana Toraja.

Jumat, 01 Mei 2015

Makam Tebing Tontonan Enrekang : Tradisi Pemakaman Unik di Dinding Batu

SITUS PEMAKAMAN DI TEBING TONTONAN


Assalamu'alaikum. Setelah sekian lama berkelana di dunia nyata, saya kembali menyapa. Kali ini saya ingin menceritakan pengalaman berkunjung ke salah satu destinasi wisata di Kabupaten Enrekang, yaitu Situs Pemakaman Tebing Tontonan. Mari ikuti kisahnya.

Situs ini merupakan kompleks pemakaman yang berada pada tebing-tebing vertikal di Tontonan, daerah perbatasan antara Kecamatan Anggeraja dan Kecamatan Baraka.

Pemakaman ini berakar pada tradisi masyarakat setempat pada zaman dahulu. Konon, penduduk kala itu membawa budaya pemakaman serupa dengan yang banyak dijumpai di Tana Toraja: mereka yang meninggal dimakamkan dengan cara unik, yaitu diletakkan di tebing-tebing vertikal. Sulit membayangkan betapa beratnya menaikkan jenazah ke tebing setinggi itu, padahal kala itu belum ada peralatan memadai seperti perlengkapan panjat tebing masa kini. Sungguh mengagumkan.

Seiring perjalanan waktu, tradisi itu berakhir dengan masuknya ajaran Islam ke daerah ini. Kini yang tersisa di Tebing Tontonan hanyalah peninggalan para leluhur tersebut.

Saat berkunjung ke sana, saya tentu tidak dapat melihat situs pemakaman itu dari dekat, sebab saya datang seorang diri dan tanpa peralatan yang memadai.

Banyak organisasi pencinta alam datang kemari untuk menaklukkan tebing vertikal yang menantang ini, dan tidak sedikit yang berhasil melihat jenazah-jenazah yang diawetkan. Bahkan, menurut cerita, ada pula yang pernah mencapai puncaknya.

Tertarik? Datanglah ke sini, selagi masih bisa dikunjungi tanpa biaya.