Hati ini gembira tak terkira, karena bisa kembali menulis di blog ini.
Tahukah Anda? Ternyata Kota Makassar memiliki banyak pulau di lepas pantainya. Selama lima tahun berkuliah dan berlalu-lalang di Kota Anging Mammiri, baru kali ini saya berkesempatan menjelajahi pulau-pulau tersebut. Salah satunya adalah Pulau Kayangan, yang sejak lama memiliki daya tarik tersendiri bagi warga Makassar. Dahulu saya sangat ingin berkunjung ke pulau ini, dan akhirnya baru terwujud sekarang.
Seperti apa Pulau Kayangan saat ini? Mari kita jelajahi bersama.
Ketika pertama kali tiba di Pelabuhan Pannyu, di depan Benteng Rotterdam, seorang bapak pemilik perahu menghampiri saya dan menawarkan jasa penyeberangan. Begitu saya menyebut tujuan saya, Pulau Kayangan, dahinya langsung berkerut, dan ia menawarkan destinasi lain.
"Lho, memangnya kenapa, Pak, kalau ke Pulau Kayangan?" tanya saya.
"Tidak usah, Dek, kurang menarik. Lebih baik ke Samalona saja. Lagi pula, Adek harus membayar Rp30.000 untuk masuk ke Kayangan," jawabnya.
Saya pun bertanya-tanya. Mengapa pulau ini seolah tidak lagi direkomendasikan? Nanti Anda akan memahaminya sendiri setelah melihat kondisinya sekarang. Namun, rasa penasaran mengalahkan segalanya, dan saya tetap bertekad menuju pulau itu.
Ketika hari Ahad tiba, kami pun bersiap menuju Pulau Kayangan. Sebenarnya bukan hanya Pulau Kayangan yang kami tuju, tetapi juga Pulau Lae-Lae. Bapak yang akan mengantar kami kembali menawarkan sesuatu.
"Dek, bagaimana kalau tiga pulau sekalian, dengan Samalona juga? Biayanya Rp80.000 untuk tiga pulau. Tapi di Kayangan kita berputar saja, soalnya kurang menarik," ujarnya.
Karena teman-teman tertarik, kami pun sepakat menempuh tiga pulau sekaligus, sekalian melepas penat setelah ujian UKMPPD.
Rombongan kami waktu itu berjumlah 12 orang. Kami berangkat pukul 10.00 pagi, jauh molor dari jadwal awal pukul 08.00. Sepertinya keterlambatan memang sudah menjadi kebiasaan kami.
Kali ini saya tidak akan menceritakan pulau lain, sebab masing-masing memiliki bagiannya sendiri. Yang akan saya ulas kali ini adalah Pulau Kayangan.
Menurut referensi yang saya baca di internet, Pulau Kayangan memiliki berbagai fasilitas, seperti penginapan, resor atau pondokan, panggung hiburan, restoran, gedung serbaguna, taman bermain anak, sarana olahraga, dan anjungan memancing. Di bagian lain, terdapat pula sejumlah akuarium yang menampung beragam ikan hias laut.
Membaca semua itu, Pulau Kayangan tampak seperti surga bagi para penikmat pulau. Namun, apa yang saya jumpai ketika tiba? Pulau ini terkesan sepi, layaknya pulau yang pernah dihuni namun kini ditinggalkan. Perhatikan foto-foto di atas: kondisinya kurang terawat. Beginilah keadaan Pulau Kayangan saat ini, sungguh memprihatinkan.
Saya sendiri belum mengetahui mengapa Pulau Kayangan, yang dahulu ramai dibicarakan, kini tidak lagi semenarik dulu. Barangkali karena perhatian pemerintah terhadap tempat-tempat wisata seperti ini belum sepenuhnya optimal.
Mungkin itulah alasan para pemilik perahu lebih merekomendasikan destinasi lain. Meski demikian, kami tetap menikmati perjalanan mengelilingi Pulau Kayangan.
Itulah cerita perjalanan saya. Bagaimana dengan cerita Anda?




0 komentar:
Posting Komentar