Radi The Eksplorer

Tana Toraja - Lemo

Radi The Explorer

Enrekang - Pemakamanan di Tebing Tontonan

Radi The Explorer

Pinrang - Pemandian Air Panas Lemo Susu

Radi The Explorer

Makassar - Fort Rotterdam

Radi The Explorer

Makassar - Pulau Kodingareng Keke

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Jumat, 27 Februari 2015

Pelabuhan Paotere Makassar : Menyaksikan Perahu Pinisi dan Denyut Kehidupan Pelaut Bugis-Makassar

PELABUHAN PINISI PAOTERE


Mari kita beranjak ke perjalanan berikutnya. Kali ini kita akan mengunjungi sebuah pelabuhan yang tak biasa di Makassar. Tahukah Anda perahu pinisi? Ternyata Makassar memiliki pelabuhan khusus bagi perahu-perahu pinisi. Seperti apakah pelabuhannya? Karena penasaran, saya pun langsung menuju ke sana.

Pelabuhan Paotere adalah pelabuhan perahu yang terletak di Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Jaraknya sekitar 5 kilometer dari pusat kota, dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Pelabuhan rakyat ini merupakan warisan masa lampau yang masih bertahan, dan konon menjadi bukti peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo, tempat sekitar 200 armada perahu pinisi diberangkatkan ke Malaka pada masa lampau.

Hingga kini, Pelabuhan Paotere masih digunakan sebagai pelabuhan perahu rakyat, seperti pinisi dan lambo, sekaligus menjadi pusat niaga para nelayan. Di sepanjang jalan pelabuhan, berjejer toko yang menjual berbagai jenis ikan kering dan perlengkapan nelayan, serta beberapa restoran seafood.


 Sungguh menakjubkan. Siapa tahu ada di antara Anda yang tertarik pada perahu tradisional, atau bahkan ingin berlayar dengan perahu pinisi. Silakan berkunjung.

Pantai Losari Makassar : Menikmati Senja dan Kuliner Pisang Epe di Ikon Kota Daeng

PANTAI LOSARI


Rasanya saya mulai merindukan suasana pantai. Bagaimana kalau kita ke pantai saja? Pantai apa yang ada di Makassar? Tentu saja Pantai Losari. Memang tidak ada hamparan pasirnya, tetapi sudah lama saya tidak ke sana, dan sesekali tak ada salahnya kembali menyapa. Seperti apa wajah Pantai Losari sekarang? Mari ikuti perjalanan saya.

Pantai Losari kini sudah banyak berubah.

Bagi Anda yang belum mengenalnya, Pantai Losari terletak di sisi barat Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Pantai ini menjadi tempat warga Makassar menghabiskan waktu, baik di pagi, sore, maupun malam hari, terutama untuk menikmati keindahan matahari terbenam. Pantai Losari juga dikenal sebagai ikon Kota Makassar.

Kini pantai ini telah dilengkapi banyak fasilitas umum, seperti tempat duduk, patung-patung, dan pahatan tulisan seperti terlihat pada foto di atas, yang menjadi latar favorit untuk berswafoto.
 

  

Yang menarik, di Pantai Losari kini berdiri pula sebuah masjid terapung. Sungguh mengagumkan. Pantai Losari memang telah direnovasi dengan baik. Apresiasi untuk Wali Kota dan pemerintah Kota Makassar. Maju terus, Makassar. Ewako!

Monumen Mandala Makassar : Mengenang Perjuangan Pembebasan Irian Barat di Tanah Daeng

MONUMEN MANDALA


Kali ini saya akan menceritakan tentang Monumen Mandala di Makassar. Sejak lama, saya ingin sekali naik ke monumen ini untuk memandang Kota Makassar dari ketinggian. Bisakah? Saya sendiri belum tahu, karena belum pernah mencobanya. Namun yang terpenting, kita perlu mengetahui untuk apa monumen ini dibangun.

Monumen Pembebasan Irian Barat, yang lebih dikenal sebagai Monumen Mandala, adalah pengingat atas perjuangan Indonesia membebaskan Irian Barat (kini Papua) dan mengembalikannya ke pangkuan Ibu Pertiwi pada 1962. Saat itu Indonesia dipimpin oleh Presiden pertama, Soekarno. Meski kemerdekaan telah diproklamasikan hampir dua dekade sebelumnya, Belanda masih menguasai wilayah Irian Barat.

Mengapa monumen ini dibangun di Makassar? Karena dari kota inilah perjuangan itu dikomandoi. Di sinilah bermarkas pasukan pembebasan Irian Barat.

Tidak banyak aktivitas yang bisa dilakukan di sini, dan suasananya jauh lebih sepi dibandingkan Monumen Nasional (Monas) di Jakarta. Meski begitu, tempat ini tetap layak dikunjungi untuk sekadar melihat-lihat. Monumen ini berada di tepi jalan, di seberang RS Pelamonia, atau di samping Balai Prajurit Jenderal M. Yusuf. Selamat berkunjung.

Masjid Raya Makassar : Masjid Bersejarah di Jantung Kota Daeng yang Sarat Cerita

MESJID RAYA


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kali ini kita akan mengunjungi masjid lain yang juga termasyhur di Kota Makassar, selain Masjid Al-Markaz Al-Islami. Seperti apa serunya menjelajahi tempat ini? Mari simak perjalanan saya.
 
Masjid ini sungguh memesona. Saya jatuh hati pada keindahan arsitekturnya.
 
Masjid Raya Makassar terletak di Kota Makassar. Pembangunannya dimulai pada 1948 dan rampung pada 1949, kemudian direnovasi pada 1999 hingga 2005. Masjid ini pertama kali dirancang oleh arsitek Muhammad Soebardjo, yang memenangi sayembara yang digelar panitia pembangunan masjid raya. Kapasitasnya mencapai sekitar 10.000 jamaah, jumlah yang sungguh mengagumkan.
 

Begitu memasuki masjid ini, ada satu hal menarik yang menyita perhatian saya. Di dalamnya tersimpan Al-Qur'an yang konon merupakan yang terbesar di Sulawesi Selatan. Sungguh mengagumkan.
 

Masjid dua lantai di Jalan Bulusaraung ini dibangun dengan sekitar 80 persen bahan baku lokal. Masjid ini memiliki dua menara setinggi 66,66 meter, berdaya tampung hingga 10.000 jamaah, serta dilengkapi fasilitas berupa perpustakaan dan kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan.

Singgah di masjid ini sungguh menyenangkan. Penasaran? Silakan berkunjung.

Rabu, 25 Februari 2015

Makam Pangeran Diponegoro Makassar : Peristirahatan Terakhir Pahlawan Perang Jawa di Tanah Daeng

MAKAM DIPONEGORO


Wisata religi sudah, wisata memancing sudah, wisata sejarah pun sudah. Lalu, apa lagi? Kali ini kita berziarah ke sebuah makam.

Jangan salah sangka dulu. Makam yang kita kunjungi bukan sembarang makam, melainkan makam seorang pahlawan yang sangat dikenal di Indonesia, sebagaimana kunjungan kita di Gowa sebelumnya: makam Pangeran Diponegoro.


Kota Makassar tidak hanya lekat dengan pahlawan nasionalnya, Sultan Hasanuddin. Di Kota Anging Mammiri ini pula Pangeran Diponegoro menutup usia dalam pengasingan pada 8 Januari 1855. Sempatkanlah berziarah ke makamnya ketika Anda berkunjung ke Makassar.
 

Ketika saya berkunjung, pintu pagar makam terkunci rapat, sehingga saya tidak dapat masuk. Tampaknya pengunjung perlu meminta izin terlebih dahulu kepada pengelola.

Kompleks Makam Pangeran Diponegoro dan keluarganya terletak di pusat Kota Makassar, tidak jauh dari pusat perbelanjaan Pasar Sentral Makassar. Sejak 1970-an, nama Pangeran Diponegoro diabadikan sebagai nama jalan di depan makam, yang sebelumnya bernama Jalan Maccini. Mari berkunjung ke kawasan Kampung Melayu ini.


Fort Rotterdam Makassar : Menjelajahi Benteng Bersejarah Kerajaan Gowa

FORT ROTTERDAM


Mari kita beristirahat sejenak. Wisata religi ada, wisata memancing ada, dan wisata sejarah pun tersedia di kota ini. Bagi Anda pencinta sejarah, ada satu tempat yang wajib dikunjungi, yaitu Benteng Rotterdam. Perjalanan Anda ke Makassar rasanya belum lengkap tanpa menyinggahinya.
 

Di dalam kompleks Benteng Rotterdam berdiri Museum Negeri La Galigo, yang menyimpan koleksi budaya dan peninggalan sejarah Sulawesi Selatan, termasuk yang berasal dari Tana Toraja.

Nama La Galigo diambil dari epos I La Galigo, karya sastra yang menjadi kebanggaan masyarakat Bugis.

 

Pangeran Diponegoro, pemimpin Perang Jawa (1825-1830), pernah diasingkan ke Makassar dan menghabiskan sisa hidupnya di Benteng Rotterdam hingga wafat pada 1855.

Benteng ini dibangun oleh Kerajaan Gowa dengan nama Benteng Ujung Pandang. Sumber-sumber menyebut pembangunannya sekitar 1545, dengan pendiri yang berbeda-beda: Raja Gowa ke-9 atau ke-10. Bentuknya menyerupai penyu jika dilihat dari atas, sehingga dikenal pula sebagai Benteng Penyu. Setelah Perjanjian Bongaya, benteng ini jatuh ke tangan Belanda dan oleh Speelman dinamai Fort Rotterdam. Pada masa pendudukan Jepang, benteng ini digunakan sebagai kamp tawanan perang sekaligus pusat penelitian, termasuk penelitian bahasa.


Menuju Lokasi

Benteng Rotterdam terletak di tepi pantai Kota Makassar, berhadapan dengan Pelabuhan Soekarno-Hatta serta dermaga penyeberangan menuju Pulau Kayangan. Ke arah selatan, terdapat Pantai Losari dan Pantai Akkarena. Kami tunggu kunjungan Anda.

Balang Tonjong Makassar : Menikmati Suasana Pesisir yang Tenang di Tengah Kota

BALANG TONJONG

Tempat kedua yang saya kunjungi adalah sebuah lokasi memancing yang dikenal di sekitar Makassar. Pernah mendengar Balang Tonjong? Mungkin belum banyak yang tahu, kecuali warga yang bermukim di kawasan Antang, Kota Makassar, atau setidaknya pernah melintas di sana.

Balang Tonjong adalah sebuah rawa yang pada musim hujan lebih layak disebut danau. Belum ada yang tahu pasti asal-usul namanya. Barangkali nama itu berkaitan dengan pohon tonjong yang banyak tumbuh di sekitarnya. Danau atau rawa di pinggiran Kota Makassar ini, dalam beberapa tahun terakhir, ramai dikunjungi warga. Ada yang sekadar duduk bercengkerama dengan keluarga, teman, atau orang terkasih di baruga (rumah pendopo) di tepi Balang Tonjong. Ada pula yang datang bukan hanya untuk melepas penat, tetapi juga untuk melihat dan menjual ikan yang mereka budidayakan dengan keramba tancap di tengah rawa.


Tempat ini baru pertama kali saya kunjungi. Saya baru mengetahui bahwa di Kecamatan Manggala, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, ada tempat wisata seperti ini.
 
 
Sekilas, tempat ini tampak sederhana. Namun, warga sekitar sering menghabiskan waktu di sini, terutama untuk memancing. Tertarik? Mari memancing!

Masjid Al Markaz Al Islami Makassar : Masjid Megah di Jantung Kota yang Ramah bagi Pengunjung

MESJID AL MARKAS AL ISLAMI

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Jumpa kembali di blog ini. Alhamdulillah, petualangan kali ini sangat menyenangkan, dan saya lega telah menuntaskan perjalanan di Kabupaten Sinjai.

Lalu, ke mana selanjutnya? Mari kita mulai dari yang dekat saja: ibu kota provinsi, Makassar. Kota ini sangat mudah dijangkau dari Kabupaten Takalar.

Wisata saya kali ini di Kota Makassar terasa istimewa. Ada sekitar 16 tempat wisata yang telah saya kunjungi di kota tercinta ini. Meski sudah lebih dari lima tahun saya berlalu-lalang di Makassar, ada beberapa tempat yang baru pertama kali saya datangi. Seperti apa keseruannya? Yuk, ikuti perjalanan saya.

Tempat pertama yang saya ceritakan, sesuai dengan judul artikel ini, adalah wisata religi ke Masjid Al-Markaz Al-Islami. Masjid ini istimewa, sebab dikenal sebagai salah satu masjid terbesar di Sulawesi Selatan.


 
Masjid Al-Markaz Al-Islami, yang dikelola oleh Yayasan Islamic Center, dikenal sebagai salah satu masjid termegah dan terbesar di kawasan timur Indonesia. Masjid ini berdiri di Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Bangunannya yang monumental berdiri kokoh sebagai pusat pengkajian Islam sekaligus cerminan kebanggaan dan identitas masyarakat Sulawesi Selatan yang religius dan beradab.
 
Masjid yang megah ini dirancang oleh Ir. Ahmad Noe'man, arsitek yang telah menangani pembangunan berbagai masjid besar. Rancangannya terinspirasi dari Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah, tanpa melupakan unsur arsitektur khas Sulawesi Selatan. Hal itu tampak pada atapnya yang berbentuk kuncup segi empat, yang terilhami dari Masjid Katangka di Gowa, masjid tertua di Sulawesi Selatan, serta dari bentuk rumah tradisional Bugis-Makassar.
 

Menuju Lokasi

Bagi Anda yang muslim, apakah Anda sudah pernah berkunjung ke Makassar? Sudahkah Anda menyinggahi masjid yang megah dan menawan ini? Lokasinya mudah ditempuh, tepatnya di Jalan Masjid Raya No. 57, Makassar. Sempatkanlah beribadah di tempat yang penuh berkah ini.

Senin, 23 Februari 2015

Taman Purbakala Batu Pakegojeng Sinjai : Menelusuri Jejak Batu Besar Peninggalan Leluhur

TAMAN PURBAKALA BATU PAKEGOJENG


Inilah destinasi terakhir yang akan saya jelajahi di Sinjai, yaitu Taman Batu Pakegojeng, yang terletak tidak jauh dari pusat Kota Sinjai.
 

Situs Batu Pake Gojeng terletak di puncak sebuah bukit, tidak jauh dari Kota Sinjai. Tempat ini merupakan kompleks pemakaman para raja Batu Pake Gojeng beserta keluarganya. Lokasi tepatnya berada di Lingkungan Batupake, Desa Biringere, Kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai.


Di puncak Bukit Gojeng, tepatnya di bawah Batu Pake', terdapat pula sebuah makam batu. Konon, makam ini pernah diekskavasi pada tahun 1982. Kala itu, tim penggali menemukan sejumlah benda cagar budaya yang diperkirakan berasal dari masa Dinasti Ming, seperti keramik, fosil kayu, dan peti jenazah.

Di kawasan ini terdapat sembilan makam, salah satunya makam Raja Batu Pake', La Tenri Lallo. Menurut cerita, La Tenri Lallo disebut sebagai To Manurung, sosok yang datang untuk membangun peradaban di Kerajaan Batu Pake'.

Puncak Bukit Gojeng berada pada ketinggian sekitar 125 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dari sini, deretan rumah penduduk Kota Sinjai terlihat jelas. Menarik, bukan?

Bagi Anda yang menyukai panorama dari ketinggian, silakan datang dan nikmati sendiri.


Air Terjun Kembar Sinjai : Dua Aliran Berdampingan yang Memikat di Tanah Bersatu

AIR TERJUN KEMBAR

Tempat kedua yang saya kunjungi adalah Air Terjun Kembar. Perjalanan menuju lokasi ini tidak mudah. Saya harus melewati jalan menanjak yang bergelombang, rusak, dan berbatu. Menurut pengamatan saya, jalan poros Borong-Sinjai pun belum diperbaiki.

Di tengah perjalanan, saya sempat merasa waswas karena jalanan sangat sepi. Ada kekhawatiran bertemu orang yang tidak dikenal di jalan yang lengang. Tampaknya jalan raya di kabupaten ini memang belum sepenuhnya rampung diperbaiki, terlebih di kawasan perbukitan seperti ini.


Ketika saya bertanya kepada warga sekitar, ternyata tidak banyak yang mengetahui keberadaan tempat wisata ini. Bahkan beberapa di antaranya tampak bingung. Karena informasi yang saya terima kurang tepat, saya sempat tersesat.

Namun akhirnya saya tiba juga di lokasi. Di sana, orang-orang mengabarkan bahwa pos-pos di kawasan wisata ini baru saja terbakar. Sungguh mengecewakan, sebab sudah menempuh perjalanan jauh, tetapi kabar yang saya dapat seperti ini. Terus terang, saya sempat merasa kecewa.

Air Terjun Kembar terletak di Dusun Barambang, Desa Batubelerang, Kecamatan Sinjai Borong, Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan. Rute menuju lokasi ini cukup rumit dan menuntut usaha ekstra. Selamat mencoba!

Air Terjun Tujuh Tingkat Sinjai : Menyusuri Tujuh Tingkat Kesegaran Alam di Tanah Bersatu

AIR TERJUN TUJUH TINGKAT


Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Setelah menjelajahi Kabupaten Bulukumba, kini saatnya saya beranjak ke Kabupaten Sinjai. Tak terasa, sudah lima kabupaten yang saya ceritakan, dan Sinjai adalah yang keenam.

Sinjai adalah kabupaten tetangga Bulukumba. Untuk sampai ke sana, saya menempuh perjalanan lebih dari 200 kilometer, cukup jauh. Namun, perjalanan ini terasa lebih istimewa karena bertepatan dengan pernikahan seorang teman kuliah, Yuyun, yang menikah dengan senior dari UMI, Kak Abdi. Semoga mereka menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Aamiin.

Awalnya, Yuyun mengajak saya menghadiri pernikahannya. Tentu saja kesempatan itu tidak saya lewatkan, apalagi saya memang sudah lama ingin berkunjung ke Sinjai. Terima kasih, Yuyun, karena tanpa ajakanmu mungkin saya tidak akan menginjakkan kaki di Sinjai lagi.

Kami berangkat bertiga. Namun setibanya di sana, saya menjelajah seorang diri. Ada sekitar tiga tempat wisata yang saya kunjungi. Ingin tahu kisahnya? Simak perjalanan saya.

Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Air Terjun Tujuh Tingkat. Mengapa dinamakan tujuh tingkat? Bagaimana ceritanya?


Objek wisata ini dinamakan Air Terjun Tujuh Tingkat karena alirannya yang deras jatuh melewati tujuh tingkatan. Oh, begitu rupanya. Coba perhatikan foto di atas baik-baik: benarkah ada tujuh tingkat?

Perjalanan menuju tempat ini benar-benar penuh perjuangan dan tak terduga. Saya harus berulang kali bertanya kepada warga setempat. Sayangnya, beberapa petunjuk arah yang saya terima kurang jelas, sehingga saya sempat tersesat di jalan yang panjang ini.

Ditambah lagi, lokasi parkir motor berjarak hampir satu kilometer dari air terjun, dan untuk sampai ke bawah, kita harus menuruni sejumlah anak tangga. Sungguh melelahkan, tetapi tentu sepadan dengan pemandangan yang menanti.

Sesampainya di bawah, ternyata kawasan wisata ini kurang terawat. Setelah perjuangan menuruni tangga, kenyataan itu cukup mengecewakan. Untunglah air terjunnya masih memikat.

Sepertinya tempat ini memang belum dikelola dengan baik. Saat saya datang pun suasananya sangat sepi. Sejujurnya, saya sendiri tidak tahu mengapa bisa senekat itu. Motor saya parkir jauh di atas, dan saya berada di sini seorang diri, sehingga suasananya terasa cukup menegangkan. Ada pula jembatan yang sudah rusak, sehingga saya tidak berani menyeberang.

Semoga pemerintah Kabupaten Sinjai berkenan memperhatikan hal ini, sebab tempat wisata adalah daya tarik bagi pengunjung. Bila dirawat dengan baik, tempat ini tentu akan jauh lebih menarik dan tidak sesepi sekarang.

Air terjun ini berada di Desa Lembang, Kecamatan Tellulimpue, sekitar 45 kilometer dari ibu kota Sinjai. Bagi yang ingin menguji nyali, silakan berkunjung. Namun sebaiknya datanglah beramai-ramai, karena suasananya cukup sepi bila sendirian.

Tana Beru Bulukumba : Melihat Langsung Pembuatan Perahu Pinisi, Warisan Maritim Nusantara

TANA BERU


Assalamu'alaikum, jumpa kembali. Kali ini saya mengajak Anda menengok sekilas proses pembuatan kapal tradisional, yaitu perahu pinisi di Tana Beru, Kabupaten Bulukumba.

Tana Beru dikenal sebagai tempat pembuatan kapal dan perahu tradisional. Anda akan dibuat kagum oleh keterampilan para pengrajinnya, yang membangun perahu berkonstruksi kayu dengan peralatan tradisional. Perahu yang mereka hasilkan sangat kokoh dan megah, dibuat hanya berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang diwariskan oleh leluhur, tanpa gambar rancangan maupun catatan tertulis. Sungguh mengagumkan.



Ketika berkeliling di Tana Beru, saya melihat banyak sekali rangka perahu pinisi dari tepi jalan raya. Sungguh pemandangan yang mengagumkan. Bulukumba adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang mampu membuat perahu sendiri. Saya bahkan pernah melihat mereka membangun kapal yang lebih modern, seperti tampak pada foto di atas. Betapa produktifnya daerah ini dalam menghasilkan karya dalam negeri. Semoga Bulukumba terus berjaya.

Pusat kerajinan perahu pinisi ini berada di pesisir pantai Kelurahan Tana Beru, Kecamatan Bontobahari, sekitar 24 kilometer dari Kota Bulukumba. Bagi yang tertarik, kapan lagi bisa menyaksikan langsung proses pembuatan perahu?

Kamis, 19 Februari 2015

Pantai Tanjung Bira Bulukumba : Pasir Putih Selembut Tepung dan Laut Jernih di Ujung Selatan Sulawesi

PANTAI TANJUNG BIRA


Membahas adat memang terasa cukup berbobot. Setelah itu, mari kita beralih ke suasana yang lebih santai. Bagaimana kalau kita menikmati pantai? Kali ini kita menuju Pantai Tanjung Bira, pantai termasyhur di Bulukumba. Mari kita intip bersama.


Pantai Tanjung Bira adalah pantai berpasir putih yang sangat termasyhur di Sulawesi Selatan. Keindahan dan kenyamanannya membuat pantai ini tampak bersih, tertata rapi, dan berair jernih. Pesonanya bahkan telah dikenal hingga mancanegara, sehingga banyak wisatawan asing dari berbagai negara datang untuk mengisi liburan mereka di sini.


Pantai ini terletak di ujung selatan Pulau Sulawesi, tepatnya di Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Jaraknya sekitar 40 kilometer dari Kota Bulukumba, atau sekitar 200 kilometer dari Makassar. Dari Makassar menuju Bulukumba, Anda dapat menggunakan kendaraan pribadi, seperti mobil atau sepeda motor, maupun angkutan umum.


Di kawasan pantai ini, wisatawan dapat mengisi waktu liburan dengan berenang, menyelam, snorkeling, atau sekadar bersantai menikmati embusan angin laut yang segar. Pada pagi hari maupun menjelang malam, pengunjung juga dapat menyaksikan matahari terbit dan terbenam di satu lokasi yang sama. Sejauh mata memandang ke laut lepas, tampak pula keindahan Pulau Liukang dan Pulau Kambing. Menarik, bukan? Nikmati keseruannya di pantai ini, dan rasakan sendiri serunya.

Kawasan Adat Ammatoa Kajang Bulukumba : Menyelami Kehidupan Suku Berpakaian Hitam yang Menjaga Hutan

KAWASAN ADAT AMMATOA


Assalamu'alaikum, jumpa kembali. Alhamdulillah, perjalanan menyusuri Kabupaten Bantaeng telah usai, dengan banyak pengalaman unik dan berkesan. Kini saatnya kita beranjak ke kabupaten yang tak kalah menarik, yaitu Kabupaten Bulukumba.

Dari daftar perjalanan saya, ada tiga destinasi yang layak Anda kunjungi di sini: Kawasan Adat Ammatoa, Pantai Tanjung Bira, dan Tana Beru. Tentu akan sangat seru.

Tempat pertama adalah Kawasan Adat Ammatoa, yang sangat terkenal sebagai kediaman Suku Kajang. Apa sebenarnya yang istimewa dari Suku Kajang? Mari kita bahas sedikit di sini.


 
Secara geografis dan administratif, masyarakat adat Kajang terbagi menjadi Kajang Dalam dan Kajang Luar. Hanya warga Kajang Dalam yang masih sepenuhnya memegang teguh adat Ammatoa. Mereka menjalani kehidupan yang sangat sederhana dan menolak benda-benda teknologi modern, sebab diyakini dapat membawa dampak buruk bagi kehidupan serta merusak kelestarian sumber daya alam. Komunitas yang senantiasa berpakaian serba hitam inilah yang dikenal sebagai masyarakat adat Ammatoa.

Namun, yang saya kunjungi adalah perkampungan Kajang Luar. Meski suasananya sedikit lebih modern, saya tetap senang karena bisa melihat seperti apa perkampungan Suku Kajang.

Bagi Anda yang ingin menyaksikan kehidupan masyarakat adat Kajang Dalam, mereka tersebar di beberapa desa, antara lain Desa Tana Toa, Bonto Baji, Malleleng, Pattiroang, Batu Nilamung, dan sebagian wilayah Desa Tambangan. Bila berkunjung ke sana, kenakanlah pakaian berwarna hitam sebagai bentuk penghormatan terhadap adat setempat. Jangan sampai terlewat.


Permandian Eremerasa Bantaeng : Berendam di Air Sejuk Pegunungan Butta Toa

PERMANDIAN EREMERASA


 Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Inilah destinasi terakhir dalam rangkaian perjalanan saya di Bantaeng, dan tak kalah seru dari tempat-tempat sebelumnya. Salah satu pemandian yang ramai dikunjungi wisatawan pada akhir pekan, yaitu Pemandian Alam Eremerasa.


Pemandian ini terletak di Desa Kampala, Kecamatan Eremerasa, sekitar 16 kilometer dari Kota Bantaeng. Perjalanan menuju lokasi melewati jalan beraspal yang sesekali menanjak. Sepanjang perjalanan, mata Anda akan dimanjakan oleh hamparan sawah dan hijaunya alam Bantaeng. Di areal persawahan itu juga tampak rumah-rumah panggung milik warga setempat.


Udara di sekitar pemandian ini terasa sangat sejuk karena lokasinya berada di dataran tinggi. Di sini terdapat dua kolam renang, masing-masing untuk dewasa dan anak-anak. Airnya terasa sedingin air kulkas karena mengalir langsung dari sebuah bukit yang berada tepat di sisi kolam. Sungguh menakjubkan.

Selain berenang di kolam, pengunjung juga dapat mandi di aliran air yang berada tidak jauh dari kolam. Aliran ini berasal dari air yang mengalir langsung dari sela-sela akar pohon-pohon besar di sekitar kolam, yang konon telah berusia ratusan tahun. Sungguh pengalaman yang seru. Tertarik untuk bergabung?

Pantai Seruni Bantaeng : Menikmati Senja di Pantai Favorit Warga Butta Toa

PANTAI SERUNI


Sungguh menyenangkan menjelajahi Bantaeng. Belum puas dengan satu pantai? Baiklah, kali ini saya mengajak Anda menikmati keseruan di Pantai Seruni. Menurut saya, suasananya mirip dengan Pantai Losari, hanya saja dalam versi yang lebih mungil.


Pantai Seruni terletak di Kelurahan Tappanjeng, Kecamatan Bantaeng, tepat di dalam Kota Bantaeng. Perjalanan menuju lokasi hanya sekitar 5 menit melalui jalan poros. Di sini terdapat dermaga tempat berlabuhnya perahu nelayan maupun perahu pengangkut barang.
 

Bersih, bukan? Dan ini tidak hanya berlaku di sini. Menurut pengamatan saya, hampir semua tempat di Kota Bantaeng terawat dengan sangat baik, tentu tidak terlepas dari peran pemerintah kabupaten setempat. Sungguh membuat iri warga daerah lain, termasuk saya.
 

Sepanjang pantai terdapat tempat duduk dari beton yang memanjang dari timur ke barat. Setiap sore, banyak muda-mudi Bantaeng yang duduk di sini sambil menanti matahari terbenam. Setiap Sabtu sore hingga malam, kawasan ini juga semarak oleh para pedagang yang menjajakan berbagai barang, mulai dari barang baru hingga barang bekas (cakar). Di sepanjang pantai pun berjejer rumah makan bagi Anda yang merasa lapar. Lengkap, bukan? Tunggu apa lagi?

Pantai Marina Korongbatu Bantaeng : Menikmati Senja di Tepi Laut Butta Toa

PANTAI MARINA KORONGBATU


Sungguh, Kabupaten Bantaeng menyimpan begitu banyak tempat wisata yang indah. Setelah menyusuri hutannya, kini saya mengajak Anda mengunjungi salah satu pantai favorit di Bantaeng, yaitu Pantai Marina Korongbatu. Seperti apakah keseruannya? Mari kita jelajahi bersama.


Pantai ini terletak di Desa Baruga, Kecamatan Pajukukang, sekitar 18 kilometer dari Kota Bantaeng. Perjalanan menuju lokasi memakan waktu sekitar 30 menit melalui jalan poros Bantaeng ke arah Kabupaten Bulukumba. Pantai berpasir putih ini letaknya pun tidak jauh dari jalan raya.


Pengunjung dapat menuju pantai ini dengan mobil maupun sepeda motor. Dari jalan raya, terdapat jalur sepanjang kurang dari satu kilometer yang harus dilalui kendaraan. Bagi yang merasa lapar atau haus, tersedia tempat singgah dan pusat jajanan tepat di depan gerbang loket masuk Pantai Marina, sehingga Anda dapat beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.


Tunggu apa lagi? Segeralah berkunjung ke sini. 😊

Hutan Wisata Bantaeng : Menikmati Rimbunnya Pepohonan dan Udara Sejuk di Butta Toa

HUTAN WISATA


Assalamu'alaikum, jumpa kembali. Kali ini saya akan menjelajahi wisata alam di Bantaeng. Salah satu daya tarik kabupaten ini adalah hutannya yang begitu hijau dan menyejukkan.


Kawasan ini terletak di Desa Bonto Marannu, Kecamatan Uluere, sekitar 24 kilometer dari Kota Bantaeng. Perjalanan darat menuju lokasi memakan waktu sekitar 90 menit, dengan rute yang melewati Kecamatan Bissappu.

Jalan menuju lokasi ini berkelok dan menanjak, tetapi sepanjang perjalanan Anda akan disuguhi pemandangan yang memukau serta udara sejuk khas dataran tinggi. Hutannya terbentang di sisi kiri dan kanan jalan, sungguh pemandangan yang mengagumkan.


Mari datang dan saksikan sendiri. Perjalanan ini tidak dipungut biaya, namun menyuguhkan pemandangan yang memanjakan mata: indah, sejuk, dingin, dan menyegarkan. Bagi saya, inilah petualangan yang sesungguhnya. My life, my adventure.