Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Petualangan menjelajahi pulau-pulau pun dimulai. Pulau yang akan saya ceritakan kali ini adalah Pulau Kodingareng Lompo.
Kisahnya bermula dari keinginan saya untuk menjelajahi pulau di Makassar yang sayang jika dilewatkan. Dengan tekad yang bulat, saya menghubungi rekan-rekan, baik teman SMA maupun teman kuliah. Alhamdulillah, akhirnya terkumpul sepuluh orang, termasuk saya.
Lucunya, rombongan ini baru lengkap satu hari sebelum keberangkatan. Bisa dibayangkan betapa gelisahnya hati saya sebelumnya. Allah memang selalu menolong hamba-Nya.
Kami memulai petualangan ini dari Pelabuhan Bangkoa, dekat Hotel Pantai Gapura Makassar. Dengan biaya Rp800.000 pulang-pergi untuk tiga pulau, kami pun siap berangkat. Semangat!
Akhirnya kami tiba juga di sini. Banyak anak-anak pulau yang tampak berenang di tepi laut. Senang rasanya menyaksikan pantai berpasir putih dengan air laut yang jernih. Kami pun berjalan mengelilingi pulau.
Namun, ada satu kenyataan yang kurang menyenangkan: pulau ini terasa kurang cocok bagi wisatawan yang tidak bermalam. Padahal kami sudah menempuh perjalanan jauh. Karena tidak ada kerabat atau kenalan yang tinggal di sini, kami akhirnya bertamasya ala pelancong di Pantai Gusung yang terik.
Berbekal tikar pinjaman dari warga, kami mengeluarkan camilan masing-masing dari tas. Sebenarnya kami berencana membakar ikan, tetapi rencana itu batal. Menurut warga, ikan hasil tangkapan sudah terjual habis sejak pagi, sedangkan kami tiba di siang hari.
Coba perhatikan pantai ini. Namanya Pantai Gusung, pantai yang termasyhur akan keindahannya di pulau ini. Namun, yang kami amati, pantai ini tampak gersang dan terik pada siang hari. Konon, menurut warga setempat, pantai ini akan terlihat begitu indah pada sore hari. Sayangnya, kami tidak sempat menunggu hingga sore. Semoga di dua pulau berikutnya kami bisa kembali bersenang-senang.
Setelah sekitar 30 menit di pulau ini, kami pun bergegas menuju pulau berikutnya.
Rasanya masih tertawa setiap kali mengingat pengalaman kami di Pulau Kodingareng Lompo. Ada seorang teman yang banyak menghadirkan momen kocak, misalnya ketika ia berbincang dengan warga dalam bahasa Makassar, lalu terdiam karena tidak paham artinya. Kami juga sempat bercengkerama di bawah pohon kelapa yang tampak gersang, sambil waswas kalau-kalau buahnya jatuh menimpa kepala.
Itulah sekelumit pengalaman kami di Pulau Kodingareng Lompo. Bagi Anda yang ingin berkunjung, sebaiknya memiliki kenalan atau kerabat di sana, sebab perjalanan terasa kurang seru bila tidak menginap.











0 komentar:
Posting Komentar