Tempat pertama yang akan saya ceritakan adalah kunjungan saya ke Menara Pakaya. Barangkali masih banyak yang belum mengenal menara nomor satu di Gorontalo ini.
Menara setinggi 65 meter ini terletak di pusat Kota Limboto dan biasa dijuluki "Menara Eiffel-nya Gorontalo", karena bentuknya yang sedikit menyerupai Menara Eiffel di Paris, Prancis. Menara ini dibangun oleh Bupati Gorontalo yang menjabat saat itu, Ahmad Pakaya, dan diresmikan pada 2003. Dari puncak menara yang terdiri dari lima lantai ini, pengunjung dapat menikmati pemandangan Kota Limboto maupun Danau Limboto.
Kesan pertama saya ketika memasuki kawasan Menara Pakaya adalah suasananya yang begitu sepi. Mengapa bisa demikian? Saya sempat membaca beberapa artikel di internet yang menyebutkan bahwa pengunjungnya selalu ramai hampir setiap hari, tetapi kenyataan yang saya temui jauh berbeda. Ternyata, ada cerita tersendiri di balik perubahan ini, dan saya akan menceritakan kenyataan yang saya saksikan langsung di blog ini.
Pada awal pembangunannya, warga menyambut dengan antusias. Hampir setiap hari orang berdatangan mengunjungi tempat ini, bahkan bila dihitung-hitung, bisa mencapai ratusan pengunjung per hari. Wajar saja, sebuah bangunan baru memang selalu menarik perhatian masyarakat pada umumnya.
Suasana di Menara Pakaya berubah drastis setelah sebuah peristiwa tragis terjadi di sana beberapa tahun lalu. Menurut cerita yang beredar di kalangan masyarakat setempat, seorang pengunjung mengakhiri hidupnya di lokasi ini. Sejak kejadian itu, tempat ini perlahan ditinggalkan, dan jumlah pengunjung menurun drastis dibandingkan masa-masa awal pembangunannya.
Saya sengaja tidak menceritakan detail peristiwa tersebut, sebab ceritanya saya dengar dari masyarakat dan belum tentu akurat. Yang jelas, kejadian itu meninggalkan kesan mendalam bagi warga sekitar, dan barangkali itulah salah satu alasan mengapa Menara Pakaya kini terasa lebih sepi dari yang saya bayangkan.









