Rabu, 06 Desember 2017
Pusat Laut Donggala : Menikmati Panorama Laut dan Suasana Pesisir di Sulawesi Tengah
Pantai Tanjung Karang Donggala : Pasir Putih dan Laut Jernih di Pesisir Sulawesi Tengah
Selain keindahannya, Pantai Tanjung Karang memanjakan wisatawan dengan fasilitas yang lengkap. Untuk beristirahat tersedia pondok penginapan dan tenda; untuk berkeliling ada perahu dan banana boat. Tersedia pula perlengkapan renang, snorkeling, dan selam, serta makanan dan minuman untuk mengganjal perut.
Demikian informasi tentang Pantai Tanjung Karang. Jangan lupa ikuti cerita saya pada perjalanan berikutnya. Terima kasih, wassalam.
Museum Provinsi Sulawesi Tengah Palu : Menelusuri Warisan Sejarah dan Budaya dari Bumi Tadulako
Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tengah mulai dibangun pada tahun anggaran 1977/1978 di atas lahan seluas 1,8 hektare di Jalan Kemiri No. 23, Palu. Sejak itu museum ini terus berkembang, hingga resmi ditetapkan sebagai Unit Pelaksana Teknis berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 0754/O/1987 tanggal 2 Desember 1987.
Museum ini bertujuan menyelamatkan warisan sejarah dan budaya nasional serta turut membina kebudayaan bangsa. Selain itu, museum ini berupaya menumbuhkan apresiasi masyarakat, terutama generasi penerus, terhadap nilai-nilai sejarah dan budaya, agar generasi muda Indonesia tidak kehilangan jati dirinya.
Selain menyimpan benda-benda yang berkaitan dengan sejarah dan budaya Sulawesi Tengah, museum ini memiliki koleksi lain yang menjadi daya tarik bagi pengunjung. Di antaranya sebuah Al-Qur'an kuno berukuran raksasa yang ditulis tangan dan telah berusia ratusan tahun, serta peninggalan masa kolonial seperti keris, meriam, dan aneka senjata lainnya.
Museum ini berada di tengah kota, dikelilingi berbagai fasilitas umum seperti hotel dan pusat perbelanjaan, dan dilengkapi pula dengan perpustakaan. Sempatkanlah berkunjung ke sini ketika berada di Palu. Betapa bermanfaatnya mengisi waktu luang di tempat yang bukan hanya menambah wawasan, tetapi juga menumbuhkan rasa cinta kepada bangsa sendiri.
Bila sedang berada di Palu, singgahlah sejenak di Museum Sulawesi Tengah di Jalan Kemiri No. 23, Kelurahan Kamonji, Kecamatan Palu Barat. Koleksinya mencakup benda-benda geologi, biologi, etnografi, arkeologi, sejarah, numismatika, filologi, keramik, seni rupa, dan teknologi modern.
Tiket masuknya hanya Rp1.500 untuk anak-anak, Rp3.000 untuk dewasa, dan Rp10.000 untuk wisatawan asing. Dengan harga itu, pengunjung sudah dapat menikmati koleksi yang berkaitan erat dengan sejarah dan budaya Sulawesi Tengah, antara lain kain tenun Donggala, pakaian adat dari seluruh kabupaten dan kota di provinsi ini, replika Patung Palindo yang menggambarkan nenek moyang orang Bada, serta Taingaja, patung kepala kerbau dari perunggu.
Souraja (Banua Oge) Palu : Menelusuri Rumah Adat Raja Kaili yang Menyimpan Jejak Sejarah Sulawesi Tengah
Banua Oge merupakan bangunan panggung berkonstruksi kayu yang memadukan arsitektur Bugis dan Kaili. Ukuran keseluruhannya 32 x 11,5 meter, dengan 28 tiang pada bangunan induk dan 8 tiang pada bagian dapur.
Pantai Taman Ria Palu : Ruang Santai Tepi Teluk yang Ramai Dikunjungi Warga Sulawesi Tengah
Jembatan Palu IV : Ikon Kota Palu yang Menyimpan Kisah di Tepi Teluk Palu
Pantai Talise Palu : Menikmati Senja dan Suasana Tepi Teluk di Jantung Kota Sulawesi Tengah
Bila datang pagi-pagi, Anda dapat menyaksikan matahari terbit, lalu bermain air dan berenang antara pukul tujuh dan sembilan. Selepas itu pantai cenderung sepi, sebab pada musim kemarau teriknya sungguh menyengat dan sulit ditahan lama-lama.
Bila perut mulai lapar, tidak perlu khawatir. Di sepanjang jalan Pantai Talise berjajar penjual makanan dengan pilihan yang lengkap: pisang goreng, sarabba, pisang epe, jagung bakar, dan aneka camilan lain. Harganya pun bersahabat, sehingga tidak menguras kantong. Dengan panorama alam dan kuliner selengkap itu, bersantai hingga malam pun tidak akan membosankan.
Tugu Perdamaian Nosarara Nosabatutu Palu : Simbol Persatuan dan Kebersamaan di Jantung Sulawesi Tengah
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, saya masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk menuliskan pengalaman berkelana ke Sulawesi Tengah. Cita-cita yang saya simpan sejak usia 26 tahun itu akhirnya terwujud.
Setelah Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara, kini giliran Sulawesi Tengah. Apa saja yang saya kunjungi di sana? Mari kita simak.
Di Sulawesi Tengah saya mengunjungi delapan tempat wisata, salah satunya Tugu Perdamaian Nosarara Nosabatutu. Apa yang perlu diketahui tentang tugu ini? Berikut penjelasannya.
Tugu Perdamaian Nosarara Nosabatutu termasuk tempat yang wajib dikunjungi di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Tugu ini ditetapkan sebagai ikon perdamaian di wilayah Sulawesi Tengah. Berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 800 meter persegi, tempat ini sangat cocok bagi para pelancong yang ingin memandang hamparan Kota Palu dari ketinggian.
Nosarara Nosabatutu adalah semboyan suku Kaili yang berarti bersaudara dan bersatu. Suku Kaili merupakan penduduk asli Kota Palu, tetapi kota ini juga didiami beragam suku lain: Bugis, Toraja, dan Mandar dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, serta Gorontalo, Manado, Jawa, Arab, dan Tionghoa. Keberagaman itu tumbuh dengan damai di tanah Kaili, tanpa perselisihan.
Tepat di samping Tugu Perdamaian terdapat Gong Nusantara berdiameter dua meter dengan berat 180 kilogram. Permukaannya menampilkan simbol-simbol keagamaan, bendera berbagai bangsa, serta lambang daerah dan kota.
Lokasinya tidak jauh dari pusat Kota Palu, kurang lebih 30 menit dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Sepanjang jalan, hamparan perbukitan hijau yang luas memanjakan mata, sehingga perjalanan pun tidak terasa.
Berada di antara perbukitan berlapis di sebelah timur Teluk Palu, tugu ini merupakan tempat terbaik untuk menikmati pesona teluk tersebut. Pada sore hari, pengunjung dapat menyaksikan matahari terbenam, perlahan menghilang di balik pegunungan di sebelah barat Lembah Palu.








