Rumah Adat Sao Mario dibangun pada 1993 oleh arsitek Ir. Drs. Bakhriani A. Rauf Manna. Pemiliknya adalah Prof. Dr. H. Andi Mustari Pide, S.H. (Datuk Rajo Nan Sati) dan Hj. A. Sitti Runiang, yang merupakan orang asli Batu-Batu, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng. Rumah ini memadukan tradisi Bugis dari Batu-Batu dengan tradisi Minangkabau.
Di sekelilingnya terdapat miniatur rumah adat Bugis, Mandar, dan Toraja. Hampir semua rumah, terutama yang berarsitektur Bugis, ditopang seratus tiang, sehingga masyarakat sekitar menyebutnya Bola SeratuE. Ada pula sebuah rumah lontar yang dinding, lantai, tiang, rangka, hingga perabotnya terbuat dari lontar.
Meski berada di Soppeng, sang pemilik sengaja memisahkan kompleks ini menjadi beberapa bangunan agar adat asli Soppeng yang diyakininya tidak tercampur dengan adat lain.
Kompleks ini dikenal sebagai rumah adat empat etnis yang berkumpul dalam satu kawasan: Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja. Konon, dahulu bila Raja Mandar berkunjung, beliau tidak singgah di rumah adat Soppeng, melainkan langsung menuju rumah adat Mandar. Bila hendak bermusyawarah, barulah mereka berkumpul di baruga yang terletak di sisi kanan rumah adat asli Soppeng.
Menurut cerita warga setempat, di kawasan ini juga terdapat sebuah danau kecil tempat bersandarnya replika perahu pinisi, perahu kebanggaan masyarakat Bugis-Makassar yang konon mampu mengarungi samudra di berbagai belahan dunia.
Penasaran? Datang dan saksikan sendiri.



0 komentar:
Posting Komentar