Sesampainya di restoran, kami menikmati hidangan yang tersedia. Karena sarapan sudah termasuk dalam paket menginap, manfaatkanlah sebaik-baiknya, dan datanglah lebih awal agar tidak kehabisan.
Sekitar lima belas menit kemudian kami menuju lobi untuk memastikan apakah penyelaman tetap dilaksanakan, mengingat cuaca saat itu kurang mendukung. Alhamdulillah, penyelaman tetap bisa dilakukan. Mengenai tarif, petugasnya menjelaskan bahwa penyelam berlisensi dikenai Rp400.000, sedangkan yang belum berlisensi Rp500.000.
Kami segera kembali ke kamar untuk menyiapkan perlengkapan. Pukul 09.20 WITA kami berangkat berdelapan dalam satu mobil. Mula-mula kami dibawa ke kota, yang cukup jauh dari resor, untuk singgah di pasar sentral Wangi-Wangi. Pasar itu menjual aneka bahan pokok, juga hasil bumi setempat seperti madu dan gula merah cair. Berburu madu dan gula merah ternyata mengasyikkan. Senjata tradisional pun banyak dijajakan, tetapi kami tidak membelinya karena khawatir tertahan di bandara. Yang penting, madu dan gula merah bisa dibawa pulang.
Sekitar tiga puluh menit kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Sompu Dive, lokasi penyelaman kami. Di sana para kru terlatih sudah menanti di atas perahu cepat. Rasanya tak sabar ingin segera menyelam, meski ini pengalaman pertama saya.
Saat pertama kali mengenakan pakaian selam, rasanya agak aneh: sempit dan tebal, tetapi cukup ampuh mencegah hipotermia. Setelah mendapat pengarahan, saya dan adik saya diminta beradaptasi lebih dulu dengan berenang bolak-balik di tepian. Awalnya saya ragu karena harus berenang tanpa pelampung, tetapi setelah dicoba, ternyata bisa. Alhamdulillah.
Di tepian saja terumbu karangnya sudah sangat indah, persis seperti yang biasa terlihat di televisi, lengkap dengan ikan-ikan berwarna biru dan kuning. Sayangnya, saya tidak dapat mengabadikan momen langka itu karena tidak membawa kamera bawah air.
Setelah empat putaran adaptasi, saya mengenakan tabung selam dan sabuk pemberat. Bernapas dari tabung terasa asing karena belum terbiasa; mulut dan tenggorokan menjadi kering. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat saya untuk menyelami laut Wakatobi.
Pemandangan bawah lautnya sungguh luar biasa, serupa dengan yang selama ini hanya saya lihat di video. Dasarnya berupa tebing memanjang, dan di sepanjang tebing itu terhampar terumbu karang yang sangat indah. Ikan warna-warni berenang di sekelilingnya, ada yang mirip ikan badut, ada pula yang bertubuh panjang, sementara sebagian karang tampak bergerak-gerak mengikuti arus. Betapa indahnya Indonesia.
Melihat keindahan itu, pantaslah Wakatobi dijuluki surga para penyelam. Tertarik mencoba?
Pukul 13.00 kami kembali ke resor dan langsung beristirahat di kamar. Sungguh perjalanan yang menyenangkan. Sore harinya kami berencana ke kota untuk membeli buah tangan bagi orang-orang di Makassar.
Setelah beristirahat hingga pukul empat sore, kami memulai petualangan di luar resor. Sekitar 30 menit kemudian kami singgah di ATM untuk menarik uang, lalu melanjutkan perjalanan ke Kampung Bajo, permukiman suku Bajo di pulau ini.
Menurut penuturan Pak Sopir, dahulu suku Bajo membangun rumah di atas air. Namun, karena kebijakan pemerintah, kawasan permukiman itu kemudian ditimbun tanah hingga menjadi jalan seperti sekarang. Rumah-rumah yang belum ditimbun masih dapat dijumpai di tepi laut. Di sana suku Bajo hidup berbaur dengan orang Bugis, Makassar, dan penduduk asli Wakatobi.
Masih menurut beliau, seluruh penduduknya muslim. Ada pula tradisi yang unik: ketika pesta pernikahan digelar, mereka mengadakan acara joget berpasangan dari pukul 20.00 hingga tengah malam. Berbeda dengan di Makassar, tuan rumah tidak diwajibkan menjamu tamu; semuanya bergantung pada kemampuan masing-masing. Dalam lamaran pun tidak ada tuntutan uang panaik yang tinggi; Rp500.000 sudah dianggap cukup.
Tibalah saatnya membeli oleh-oleh. Selama tiga puluh menit kami sibuk memilih buah tangan di sebuah toko cendera mata di Kota Wanci, lalu kembali ke resor bersama Pak Sopir yang setia mengantar kami ke mana-mana.
Karena keesokan harinya harus berangkat ke bandara, kami tidur lebih awal untuk mengumpulkan tenaga.
Pukul 09.00 WITA kami berangkat ke bandara. Segala kenangan sejak hari pertama hingga hari ini tidak akan terlupakan. Semoga saya masih dianugerahi umur panjang untuk menjelajahi tempat-tempat lain.
Selamat tinggal, Wakatobi. Tetaplah menjadi kebanggaan Indonesia.




