Sejauh ini sudah sekitar 84 destinasi wisata di Sulawesi Selatan yang saya kunjungi. Alhamdulillah, sungguh menyenangkan.
Namun, rasanya belum lengkap bila belum menjejakkan kaki di Kabupaten Tana Toraja. Daerah ini kerap didatangi wisatawan asing, dan itu tidak mengherankan: Tana Toraja terkenal dengan tradisi pemakamannya yang disebut-sebut paling unik di dunia. Bila orang dari mancanegara saja rela datang jauh-jauh, mengapa kita harus ketinggalan? Bagaimanapun caranya, saya harus menjelajahi kabupaten ini.
Kesempatan itu akhirnya datang pada Desember 2014, bertepatan dengan perhelatan Lovely December di Tana Toraja. Saya berangkat bersama teman-teman. Kami berdelapan: saya, Tuching, Opi, Fandi, Kiko, Nining, Deni, dan Kak Fauzan, ditambah seorang kakak perawat dari Enrekang yang datang bersama Tuching.
Alhamdulillah, setelah sekian lama hanya berangan-angan, perjalanan ke Toraja akhirnya terwujud, terlebih bersama teman-teman sesama muslim yang insyaallah saling menuntun dalam memilih makanan halal. Maklum, mayoritas penduduk Tana Toraja adalah umat Kristiani. Meski demikian, tetap ada sejumlah tempat makan halal di daerah ini, sehingga para pelancong muslim tidak perlu khawatir.
Tempat pertama yang ingin saya bagikan adalah Lemo.
Objek wisata Lemo di Tana Toraja dikenal sebagai rumah para arwah. Di sini jenazah disemayamkan di dinding bukit yang curam, di tempat terbuka yang dapat disaksikan pengunjung. Pemakaman ini merupakan perpaduan antara kematian, seni, dan ritual.
Di lokasi ini juga terdapat patung kayu yang disebut tau-tau, dipahat dengan sangat detail. Bila diperhatikan dengan saksama, tangan kanan patung menghadap ke atas, sedangkan tangan kirinya menghadap ke bawah. Sikap tangan itu bermakna meminta dan memberkati, sekaligus mencerminkan hubungan antara mereka yang masih hidup dan yang telah wafat. Mereka yang telah tiada membutuhkan bantuan keturunannya berupa serangkaian upacara adat agar dapat mencapai surga, dan upacara yang sama diyakini mendatangkan berkah turun-temurun bagi mereka yang masih hidup.
Bukan hanya perjalanan penuh misteri yang menanti di sini. Di kawasan ini juga berdiri beberapa rumah tongkonan yang telah diselimuti lumut dan tanaman liar. Meski dimakan usia, keindahan seninya masih jelas terlihat. Hamparan sawah yang menemani perjalanan menyusuri Lemo pun akan memanjakan siapa saja yang merindukan suasana pedesaan.
Lemo tidak jauh dari Kota Makale. Untuk menuju ke sana, pengunjung dapat menggunakan bemo atau menyewa kendaraan, dengan atau tanpa sopir.
Penasaran? Mari jelajahi Tana Toraja.



0 komentar:
Posting Komentar