Radi The Eksplorer

Tana Toraja - Lemo

Radi The Explorer

Enrekang - Pemakamanan di Tebing Tontonan

Radi The Explorer

Pinrang - Pemandian Air Panas Lemo Susu

Radi The Explorer

Makassar - Fort Rotterdam

Radi The Explorer

Makassar - Pulau Kodingareng Keke

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Minggu, 24 November 2019

Pantai Pandawa Bali : Pantai Tersembunyi di Balik Tebing Kapur

PANTAI PANDAWA


Kali ini saya mengajak Anda ke salah satu pantai yang belakangan namanya kian dikenal di Bali. Pulau ini memang punya banyak pantai indah. Penasaran dengan yang satu ini? Mari kita jelajahi.

Pantai Pandawa adalah salah satu pantai berpasir putih paling terkenal di Bali, dan wajib dikunjungi bila Anda berlibur di Pulau Dewata. Di kalangan wisatawan mancanegara, terutama dari Australia, pantai ini lebih dikenal sebagai Secret Beach, sedangkan masyarakat setempat menyebutnya Pantai Kutuh.

Pantai ini beralamat di Jalan Pantai Pandawa, Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Untuk mencapainya, pengunjung harus melewati jalan yang diapit tebing batu yang terjal. Pada tebing itu terpahat patung Panca Pandawa dari kisah Mahabharata, dan dari sanalah nama Pantai Pandawa berasal.

Pantainya sendiri tersembunyi di balik tebing kapur yang menjulang tinggi. Dari atas tebing, terhampar pemandangan Samudra Hindia yang memesona.

 

Dari Bandara Ngurah Rai, pantai ini berjarak 18 kilometer melalui Jalan Goa Gong, Jimbaran. Meski tidak jauh, perjalanannya memakan waktu sekitar satu jam, sebab jalannya berliku dan kerap macet, terutama di depan kawasan GWK.

Dahulu Pandawa termasuk pantai indah yang tersembunyi. Namun, sejak akses jalannya dibuka untuk umum pada 2012, pantai ini tidak lagi sunyi dan hampir setiap hari ramai dikunjungi. Kini pengunjungnya pun tidak lagi didominasi wisatawan asing; justru wisatawan domestiklah yang paling banyak datang.

Menjelang area pantai, pengunjung akan melewati gerbang dengan empat jalur masuk kendaraan. Bentuknya menyerupai gerbang tol, tetapi terbuat dari batu kapur putih.

Setelah membayar tiket, pengunjung melintasi jalan beraspal mulus yang diapit tebing kapur menjulang. Beberapa meter kemudian, tampaklah Samudra Hindia dan garis pantai yang putih. Dari atas tebing terlihat pula area parkir yang sangat luas.

Di sisi kiri jalan, pada dinding tebing, terdapat enam ceruk yang masing-masing berisi patung: Dewi Kunti dan kelima putranya, Panca Pandawa, yaitu Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sahadewa.

Setiap pengunjung akan terkesima oleh keindahan Pantai Pandawa. Setibanya di bibir pantai, terbentang garis pantai sepanjang satu kilometer dengan pasir halus berwarna putih kekuningan. Kebersihannya cukup terjaga, dan ombaknya tenang.

Berdiri di atas pasir sambil menghadap Samudra Hindia, pengunjung akan menyaksikan perpaduan warna yang memukau: putihnya pasir, kehijauan air di tepian, lalu biru yang kian pekat ke arah laut lepas.

Menarik, bukan? Mari berkunjung ke pantai yang indah ini.

Sabtu, 02 November 2019

Pura Luhur Uluwatu Badung : Menyaksikan Sunset dari Pura di Atas Tebing Samudra Hindia

PURA LUHUR ULUWATU


Kali ini saya kembali menuliskan pengalaman menakjubkan bersama istri ketika mengunjungi sebuah tempat wisata di Bali. Alamnya yang indah, monyet-monyetnya yang jenaka, serta atraksi lain yang tak kalah menarik membuat saya betah berlama-lama di sana. Ingin tahu? Mari kita jelajahi lagi wisata Bali.

Pura Uluwatu berstatus sebagai Pura Sad Kahyangan Jagat, salah satu penyangga poros mata angin Pulau Bali. Pura ini berdiri di atas bukit karang setinggi sekitar 97 meter di atas permukaan laut. Dari letaknya itulah nama Uluwatu berasal, yang dalam bahasa Sanskerta berarti puncak batu karang.

Karena letaknya itu, pengunjung tidak hanya merasakan suasana yang sakral dan religius, tetapi juga menikmati pemandangan yang indah dan unik.

Berbeda dengan pemandangan di Pura Tanah Lot, pengunjung Pura Luhur Uluwatu akan menyaksikan luasnya hamparan Samudra Hindia, dengan ombak yang menghantam kaki tebing. Dari sini pula matahari terbenam dapat dinikmati tanpa terhalang apa pun.

Bagi yang tidak membawa bekal, tidak perlu khawatir. Di sekitar kawasan ini terdapat banyak warung makanan dan minuman, juga restoran dengan beragam menu dan harga.

Pura Luhur Uluwatu terletak di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, sekitar satu jam perjalanan ke arah selatan dari Bandara Ngurah Rai dengan kendaraan pribadi.

Pura ini terbuka bagi wisatawan pukul 07.00 hingga 19.00, sedangkan bagi umat yang hendak bersembahyang terbuka selama 24 jam. Fasilitas umum seperti toilet tersedia di area luar pura.

Kebanyakan pelancong memilih datang sekitar pukul lima sore, saat terik matahari sudah mereda dan senja akan tiba dalam satu jam.

Selain arsitektur pura dan keindahan senjanya, pengunjung juga dapat menyaksikan pertunjukan tari tradisional Bali, yaitu tari Kecak. Di Uluwatu, tarian ini dibawakan oleh 50 hingga 100 penari yang duduk melingkar dengan mengenakan kain bermotif hitam-putih.

Sebagian besar penarinya laki-laki, dan lakon yang dibawakan biasanya kisah Ramayana. Ciri khas tari Kecak adalah seruan "cak, cak, cak" yang dilantunkan para penari secara bersahut-sahutan. Pertunjukan ini digelar menjelang matahari terbenam, pukul 18.10 hingga 19.00 WITA.

Ada dua jalan masuk ke area pura: gerbang di sisi utara dan akses dari aula di sisi selatan. Begitu masuk, pengunjung disambut hutan yang rimbun, lalu berjalan beberapa meter melalui jalan setapak menuju pintu utama pura.

Apakah ada kera di Pura Uluwatu? Ada. Jenisnya kera abu-abu ekor panjang, serupa dengan yang ada di Monkey Forest Ubud. Di sepanjang jalan setapak menuju bagian depan pura, banyak kera tampak berkeliaran di sekitar hutan.

Agar barang bawaan tidak diambil kera, hindari membawa atau mengenakan benda berharga yang mudah menarik perhatian mereka, seperti anting, kalung, kamera, ponsel, atau kacamata hitam. Bila barang Anda telanjur diambil, cobalah menukarnya dengan kacang atau pisang; cara ini kadang berhasil. 

 

Untuk memasuki area pura di Bali, pengunjung harus berpakaian sesuai aturan, yaitu mengenakan kain sarung dengan selendang yang diikatkan di pinggang. Bila lupa membawanya, tidak perlu membeli, sebab sarung dan selendang tersedia di loket tiket masuk.

Sungguh pengalaman yang berkesan. Bila berkunjung ke Bali, sempatkanlah singgah di sini.

Jumat, 18 Oktober 2019

Garuda Wisnu Kencana Bali : Menjelajahi Taman Budaya dan Patung Raksasa di Perbukitan Badung

GARUDA WISNU KENCANA


Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan menulis lagi di blog ini. Bahagia rasanya dapat berkeliling Bali, meski baru pada usia sekarang saya sempat berkunjung ke sini.

Setelah menyusuri pantai dan tempat ibadah di Bali, kini saatnya mendatangi tempat yang masyhur karena patungnya: Garuda Wisnu Kencana, salah satu objek wisata yang wajib dikunjungi di pulau ini. Mari simak keseruannya.

Garuda Wisnu Kencana, yang lebih dikenal sebagai GWK, adalah salah satu objek wisata paling terkenal di Bali. Hampir setiap hari tempat ini ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara, dan banyak di antara mereka menyebutnya sebagai tempat yang wajib didatangi.

GWK merupakan taman budaya seluas 240 hektare yang terletak di Jalan Raya Uluwatu, Desa Ungasan, Kuta Selatan, Kabupaten Badung.

Daya tarik utama GWK Cultural Park adalah patung Garuda Wisnu, karya pematung terkenal I Nyoman Nuarta. Menurut rencana awal, patung ini dibangun setinggi 126 meter dengan lebar 60 meter, dengan tujuan menjadikan GWK destinasi yang menyuguhkan salah satu karya patung terbesar dan paling menakjubkan, sekaligus mencerminkan nilai budaya Bali.

Selain patungnya, pengunjung dapat menikmati pemandangan matahari terbenam. GWK juga menawarkan beragam acara hiburan dari pagi hingga malam hari.

 
Pembangunan GWK diprakarsai oleh Yayasan Garuda Wisnu Kencana pada 1992, dengan tujuan menjadikannya tengara wisata budaya yang dikenal hingga mancanegara. Salah satu pendiri yayasan itu adalah I Nyoman Nuarta, yang juga menjadi penggagas dan perancang patung Garuda Wisnu Kencana.
 

Mencari lokasi yang cocok untuk proyek sebesar Garuda Wisnu Kencana bukanlah perkara mudah. Setelah konsepnya rampung, yayasan memerlukan waktu dua tahun untuk menemukan tempat yang sempurna bagi patung ini. Sebelum GWK dibangun, bukit di Ungasan itu merupakan area penambangan batu kapur.

 Yayasan Garuda Wisnu Kencana menunjuk I Nyoman Nuarta sebagai pematung utama proyek ini, mengingat reputasinya sebagai salah satu pematung modern terbaik Indonesia. Pada 2013, pengelolaan dan kepemilikan GWK diambil alih oleh PT Alam Sutera Realty Tbk, salah satu perusahaan pengembang properti di Indonesia.

 

Seiring waktu, GWK berkembang menjadi tempat pameran budaya, penyelenggaraan acara, dan atraksi hiburan, sekaligus forum informasi dan komunikasi bagi kebudayaan lokal, nasional, regional, bahkan internasional.

GWK buka setiap hari pukul 08.00 hingga 22.00. Setiap pengunjung dikenai tiket masuk, tanpa perbedaan harga antara warga negara Indonesia dan warga negara asing.

Berkunjung ke GWK sungguh menarik, dan sayang bila dilewatkan. Segeralah datang.

Minggu, 13 Oktober 2019

Pantai Jimbaran Bali : Makan Seafood Bakar Sambil Menikmati Sunset di Tepi Pantai Badung

PANTAI JIMBARAN


Kita berjumpa lagi. Alhamdulillah, setelah berkeliling Pulau Sulawesi, kini saatnya Radi The Explorer menjelajahi provinsi lain. Bali memang surga pantai, dengan banyak pantai indah yang wajib dikunjungi selain Kuta. Kali ini saya mengajak Anda ke sebuah tempat yang ramai didatangi wisatawan mancanegara. Penasaran? Mari kita jelajahi.
 

Salah satu tujuan wisata favorit di Bali yang patut dikunjungi adalah Pantai Jimbaran di Kabupaten Badung. Bila lalu lintas lancar, pantai ini dapat dicapai dalam sekitar 30 menit dari Kota Denpasar, atau 10 menit dari Bandara Ngurah Rai, melalui Jalan Bypass Ngurah Rai ke arah selatan. Pantai Jimbaran termasuk pantai berpasir putih yang sangat terkenal di Bali; pasirnya halus dan berwarna putih kekuningan. Kebersihannya pun selalu terjaga berkat petugas yang rutin membersihkan area pantai.

Di sepanjang tepi pantai berdiri banyak hotel, spa, dan vila, di antaranya InterContinental dan Four Seasons Jimbaran. Pihak hotel turut menjaga kebersihan dengan mengadakan gotong royong membersihkan pantai dari sampah. Dengan pasir putih dan pemandangan matahari terbenam seindah ini, tak heran banyak hotel menggelar berbagai acara di tepi pantai. Dari sini pula terlihat Bandara Ngurah Rai, satu-satunya bandara berstandar internasional di Bali.

Restoran-restoran di tepi Pantai Jimbaran, yang lebih akrab disebut kafe, menawarkan aneka olahan hidangan laut: ikan bakar, cumi-cumi, kerang bakar, lobster, dan udang. Semuanya disajikan dengan nasi, sayur plecing, dan sambal, lengkap dengan es kelapa muda. Pengunjung bebas menentukan banyaknya pesanan, yang biasanya ditimbang lebih dulu per jenis sebelum diolah. Harganya bervariasi, bergantung pada menu yang dipilih dan pada kafenya masing-masing.

Wisata air tidak ditawarkan di pantai ini, karena ada aturan yang melarang olahraga air bermesin di kawasan Jimbaran. Namun, di tepi pantai tetap dapat dijumpai penjual kerajinan khas Bali, warung jajanan, dan jasa pijat.

Menjelang malam, Jimbaran ramai dikunjungi wisatawan mancanegara maupun domestik. Area parkir restoran cukup luas dan dikelola penduduk setempat, sehingga mencari tempat parkir tidaklah sulit. Selain memburu hidangan laut khas Bali, kebanyakan pengunjung datang untuk menyaksikan matahari terbenam. Menyantap hidangan laut yang lezat sambil memandang senja, diiringi desir lembut ombak di atas pasir putih: itulah daya tarik utama Jimbaran.

Tunggu apa lagi? Mari berkunjung ke Pantai Jimbaran.

Sabtu, 05 Oktober 2019

Pura Tanah Lot Tabanan : Menyaksikan Sunset di Pura Laut yang Berdiri di Atas Karang

PURA TANAH LOT


Ada satu jenis tempat wisata yang tidak biasa dan banyak dijumpai di Bali, dengan pemandangan yang sungguh indah. Penasaran? Jangan sampai menyesal karena melewatkannya.

Pura Tanah Lot adalah ikon pariwisata Bali dan salah satu objek wisata paling terkenal yang wajib dikunjungi. Begitu masyhurnya tempat ini, hampir setiap hari Tanah Lot ramai didatangi wisatawan. Kebanyakan dari mereka berjalan-jalan dan berfoto, sementara sebagian lain duduk santai menikmati jagung rebus sambil menanti matahari terbenam.

Pura ini dibangun di dua tempat yang berbeda. Satu berdiri di atas bongkahan batu besar, dan satu lagi di atas tebing yang menjorok ke laut, mirip Pura Uluwatu. Tebing yang melengkung menyerupai jembatan itulah yang menghubungkan pura dengan daratan.

Pura Tanah Lot termasuk Pura Kahyangan Jagat di Bali, dan ditujukan sebagai tempat memuja dewa penjaga laut. Ketika air laut pasang, pura ini tampak dikelilingi air. Di bawahnya terdapat sebuah gua kecil yang dihuni beberapa ekor ular laut.

 
Ular laut ini berekor pipih seperti ikan, dengan tubuh hitam berbelang kuning. Menurut cerita, ular-ular itu adalah jelmaan selendang sang pendiri pura, Dang Hyang Nirartha, seorang brahmana dari Jawa yang mengembara ke Bali. Konon ular suci Tanah Lot ditugasi menjaga pura.
 

Di sepanjang jalan menuju Tanah Lot berjajar banyak penginapan, dari yang sederhana hingga vila dan hotel berbintang. Kawasan ini paling ramai pada sore hari, menjelang matahari terbenam.

Dari tempat parkir menuju area pura, deretan toko menjajakan beragam kerajinan khas Bali, seperti patung, lukisan, kain pantai, pernak-pernik, dan aksesori, tak ubahnya Pasar Seni Sukawati. Harganya pun relatif terjangkau, baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Tersedia pula penjual makanan dan minuman serta kamar kecil berbayar.

Beberapa hotel di dekat pantai menggelar acara pada malam hari, seperti pertunjukan tari Kecak, makan malam berlatar senja, dan pesta pernikahan. Tanah Lot juga kerap dipilih sebagai lokasi foto pranikah.

Untuk memasuki kawasan Tanah Lot, setiap wisatawan wajib membeli tiket masuk, dengan tarif yang berbeda antara wisatawan domestik dan mancanegara, serta membayar biaya parkir. Karena daya tarik utamanya adalah pemandangan matahari terbenam dengan siluet pura, waktu terbaik untuk berkunjung adalah sekitar pukul 17.00 WITA. Rata-rata wisatawan menghabiskan sekitar 45 menit di sini.

Pura Tanah Lot beralamat di Jalan Tanah Lot, Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, sekitar 13 km di sebelah barat Kota Tabanan. Dari Bandara Ngurah Rai, pura ini dapat dicapai dalam kurang lebih 1 jam 20 menit.

Sungguh mengesankan. Mari berlibur ke Bali.

Jumat, 20 September 2019

Pantai Kuta Bali : Menikmati Sunset dan Ombak di Pantai Paling Ikonik di Badung

PANTAI KUTA


Betapa indahnya Bali, dengan pantai-pantai elok yang bertebaran di mana-mana. Di antaranya ada satu pantai yang masyhur sejak dahulu hingga kini. Saya kira Anda semua sudah dapat menebaknya. Mari kita jelajahi bersama pantai yang terkenal ini.
 

Pantai Kuta terletak di selatan Pulau Dewata, menghadap Samudra Hindia. Pantai berpasir putih ini merupakan salah satu tujuan utama wisatawan yang berlibur ke Bali, dan telah menjadi andalan wisata pantai pulau ini sejak 1970-an. Hingga kini Kuta tetap menjadi daya tarik utama, terutama bagi wisatawan muda dari Australia dan wisatawan dalam negeri.

Sebelum dikenal sebagai tempat wisata, Kuta adalah perkampungan nelayan tradisional. Kini kawasan itu telah berubah menjadi tempat bertemunya wisatawan dari berbagai negara. Kuta juga pernah menjadi pelabuhan dagang yang ramai didatangi pedagang dari luar Bali. Pada abad ke-19, seorang saudagar Denmark bernama Mads Lange mendirikan pos perdagangan di pantai ini. Berkat kepiawaiannya berniaga dan bernegosiasi, namanya dikenal di kalangan raja-raja Bali.

 
Tidak banyak yang tahu bahwa pantai ini dahulu merupakan habitat penyu hijau, satwa yang kini terancam punah dan dilindungi pemerintah Indonesia. Penangkaran penyu hijau di Bali kini telah dipindahkan ke Tanjung Benoa. Bila ingin melihatnya, Anda dapat berkunjung ke Pulau Penyu di Tanjung Benoa dengan perahu berlantai kaca, sambil memberi makan ikan di sepanjang perjalanan.
 

Pantai Kuta adalah jantung pariwisata Bali, dan barangkali tidak berlebihan bila saya menyebutnya tempat wisata paling terkenal di pulau ini. Apakah Anda sependapat?

Bila Pantai Sanur lebih cocok untuk menyaksikan matahari terbit, Pantai Kuta adalah tempat yang tepat untuk menikmati matahari terbenam. Jangan lupa pula berfoto di depan Hard Rock; itulah bukti bahwa Anda sudah pernah menjejakkan kaki di Bali.

Garis pantai Kuta membentang sejauh lima kilometer, dan menurut saya inilah garis pantai terbaik di Bali. Pantainya sangat landai, dengan bibir pantai yang lebar dan pasir putih bertekstur halus. Pantai ini aman untuk berlibur dan kebersihannya terjaga. Karena itu, meski garis pantainya begitu panjang, Kuta selalu dipadati wisatawan.

Selain menjadi tempat wisata, Pantai Kuta kerap dijadikan lokasi syuting serial televisi remaja. Anak-anak pantai setempat terkadang ikut terlibat sebagai pemeran pembantu. Hanya saja, pengambilan gambar sering terganggu karena pantai ini tidak pernah sepi.

Sebagian besar wisatawan di pantai ini berjemur, berenang, dan berselancar. Ombak Kuta yang besar sangat cocok untuk berselancar, sehingga banyak peselancar dari berbagai belahan dunia memilihnya sebagai lokasi andalan di Bali.

Terdengar menarik, bukan? Tunggu apa lagi, segeralah berkunjung ke Pantai Kuta.

Senin, 16 September 2019

Pantai Double Six Seminyak Bali : Menikmati Sunset dan Suasana Pantai yang Hidup di Badung

PANTAI DOUBLE SIX


Alhamdulillahi rabbil 'alamin, saya masih diberi kesempatan untuk menuliskan pengalaman perjalanan di blog ini. Kali ini saya beralih ke Bali, tempat saya menjelajahi berbagai objek wisata yang sangat menarik. Bali adalah surga bagi para pelancong, sebab ragam wisatanya begitu lengkap: pantai, tempat ibadah, danau, hingga gunung. Penasaran? Mari bersama-sama menjelajahi Bali yang indah ini.
 

Bali tidak lepas dari pesona pantainya, yang selalu mampu memikat wisatawan. Yang paling terkenal di Pulau Dewata tentu Pantai Kuta, tetapi bukan berarti tidak ada yang mampu menyainginya. Salah satu pantai yang tengah naik daun adalah Pantai Double Six.

Pantai di kawasan Seminyak ini punya banyak daya pikat. Selain menyuguhkan panorama yang indah, Pantai Double Six menawarkan tempat bersantai yang sangat nyaman. Tak heran bila pantai ini selalu ramai, terutama oleh para penikmat senja. Di sini pengunjung dapat duduk santai di atas bean bag, diteduhi payung warna-warni yang menghadap ke laut.

 
Hanya berjarak 2 km dari Pantai Kuta, Pantai Double Six dapat menjadi alternatif wisata bahari di Bali. Namanya diambil dari sebuah kelab malam yang dibangun di dekat pantai ini. Karena berada segaris dengan Kuta, pemandangannya pun serupa dengan pantai yang dijuluki "Pantai Matahari Terbenam" itu. Pasirnya lebih putih karena kebersihannya masih terjaga, dan pengunjungnya belum sebanyak di Kuta, sehingga suasananya relatif lebih tenang.
 

Bila di Pantai Kuta pengunjung menikmati senja di atas tikar atau kursi bambu, di Pantai Double Six matahari terbenam dapat dinikmati dari kursi bantal di bawah payung warna-warni. Kursi dan payung cerah itu milik kafe-kafe unik yang tersebar hampir di sepanjang bibir pantai. Setiap kafe menawarkan beragam hidangan, dari jajanan lokal seperti bakso hingga menu Barat seperti piza dan kentang goreng. Saran terbaik saya: jangan beranjak dari kursi bantal sebelum menyaksikan matahari terbenam di sini.

Berlibur di Bali sungguh menyenangkan. Bila sedang mencari tujuan liburan, datanglah ke sini; dijamin tidak akan mengecewakan.

Sabtu, 24 Agustus 2019

Pulau Bunaken Manado : Snorkeling dan Menyelam di Dinding Karang Taman Nasional Bunaken

PULAU BUNAKEN


Berkeliling pulau memang menyenangkan. Kini saatnya menjelajahi pulau tetangga yang menjadi kebanggaan Kota Manado. Seperti apakah Pulau Bunaken yang masyhur itu? Mari kita lihat.
 

Bunaken adalah pulau seluas 8,08 km² di Teluk Manado, di ujung utara Pulau Sulawesi. Pulau ini termasuk wilayah Kota Manado, ibu kota Provinsi Sulawesi Utara, dan dapat dicapai dengan kapal cepat atau kapal sewaan sekitar 30 menit dari pelabuhan Manado.

Di sekeliling pulau terbentang Taman Laut Bunaken, bagian dari Taman Nasional Bunaken, dengan keanekaragaman hayati laut yang termasuk tertinggi di dunia. Tak heran bila selam skuba menarik banyak pengunjung ke sini. Secara keseluruhan, taman laut ini meliputi area seluas 75.265 hektare dengan lima pulau di dalamnya: Manado Tua (Manarauw), Bunaken, Siladen, Mantehage beserta beberapa anak pulaunya, dan Naen. Meski kawasannya seluas itu, lokasi penyelaman terbatas pada pantai-pantai yang mengelilingi kelima pulau tersebut.

Taman Laut Bunaken memiliki 20 titik selam dengan kedalaman bervariasi, hingga 1.344 meter. Dua belas di antaranya berada di sekitar Pulau Bunaken, dan titik-titik inilah yang paling sering dikunjungi para penyelam dan pencinta keindahan bawah laut.

 
Sebagian besar dari kedua belas titik selam itu berjajar dari sisi tenggara hingga barat laut pulau. Di kawasan inilah terdapat dinding-dinding karang raksasa di bawah laut, yang dikenal sebagai great walls atau hanging walls, berdiri tegak lurus dan melengkung ke atas. Dinding karang ini juga menjadi sumber makanan bagi ikan-ikan di perairan sekitar Bunaken.
 

 Sayangnya, karena nama besarnya, banyak orang Indonesia yang belum pernah menjejakkan kaki di Tanah Lumimuut merasa sudah mengenal Bunaken. Padahal, membicarakan Taman Nasional Bunaken berarti membicarakan sebuah warisan dunia dan keajaibannya. Banyak peneliti mancanegara menyayangkan informasi keliru tentang Bunaken yang beredar di Indonesia. Bunaken lebih dari sekadar pengetahuan yang dibaca dari buku; Bunaken adalah pengalaman menyelam.

Bagi Anda yang belum menjelajahi Manado, segeralah berkunjung. Pesonanya telah memikat banyak wisatawan mancanegara.

Pulau Siladen Manado : Pasir Putih dan Snorkeling di Pulau Mungil Taman Nasional Bunaken

PULAU SILADEN


Alam di sini sungguh memesona. Selanjutnya saya ingin menyeberang ke sebuah pulau yang mungkin belum akrab di telinga masyarakat Indonesia, tetapi dijamin sangat eksotis dan memikat. Pulau apakah itu? Mari kita jelajahi.
 

Pulau Siladen terletak di sebelah timur laut Pulau Bunaken, di Kecamatan Bunaken, sekitar 8 mil dari pusat Kota Manado, dan dapat dicapai dalam 45 menit dengan kapal motor. Pulau seluas kurang lebih 31,25 hektare ini dikelilingi hamparan pasir putih, dengan beragam pepohonan di sepanjang bibir pantainya.

Pulau Siladen terletak tidak jauh dari Pulau Manado Tua, salah satu tempat terbaik untuk berlibur di Kota Manado. Pantai berpasir putih mengelilinginya, sementara lautnya dihiasi terumbu karang dan aneka biota laut dengan ragam bentuk dan warna, yang bersama-sama membentuk taman laut nan indah.


Keindahan taman laut Pulau Siladen dapat disaksikan di titik selam yang dikenal sebagai Siladen 1 dan Siladen 2. Hamparan pasir putih mendominasi pulau kecil ini. Selain digemari para penyelam profesional, Siladen juga menjadi tempat snorkeling yang nyaman bagi siapa saja.
 

Pasir putihnya bersih, dan perairan di dekat pantai didominasi pasir dengan sedikit terumbu karang, sehingga sangat cocok untuk berenang.

Di pulau kecil nan indah ini berdiri banyak resor mewah yang terawat rapi. Bila Taman Nasional Bunaken dikenal dengan keindahan bawah lautnya, Pulau Siladen lebih menonjolkan pesona pantainya. Hamparan pasir putih itu pula yang menjadikan Siladen sangat potensial sebagai pusat olahraga pantai.

Beragam kegiatan wisata dapat dilakukan di Pulau Siladen: menikmati taman laut dengan berkeliling menggunakan perahu berlantai kaca (katamaran), snorkeling, menyelam, memotret di bawah air, hingga berjemur. Untuk menuju pulau ini tersedia dua pilihan, yaitu perahu angkutan umum atau perahu cepat yang disewa khusus.

Bila memilih perahu angkutan umum, keberangkatan hanya tersedia pada waktu tertentu, yaitu antara pukul 13.00 dan 15.00, bergantung pada pasang surut air laut. Pengunjung pun baru dapat kembali keesokan harinya, sebab perahu itu bertolak ke Manado sekitar pukul 07.00 pagi. Ongkosnya berkisar Rp25.000 hingga Rp50.000 per orang.

Pilihan kedua adalah menyewa perahu cepat. Dengan cara ini, Anda bebas berangkat ke Pulau Siladen dan kembali ke Manado kapan saja. Tarif sewanya berkisar Rp350.000 hingga Rp500.000 untuk sekali jalan, atau Rp700.000 hingga Rp900.000 untuk perjalanan pulang-pergi pada hari yang sama, bergantung pada jenis perahu dan kepiawaian Anda menawar.