Radi The Eksplorer

Tana Toraja - Lemo

Radi The Explorer

Enrekang - Pemakamanan di Tebing Tontonan

Radi The Explorer

Pinrang - Pemandian Air Panas Lemo Susu

Radi The Explorer

Makassar - Fort Rotterdam

Radi The Explorer

Makassar - Pulau Kodingareng Keke

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Rabu, 29 April 2015

Gunung Nona Enrekang (Buttu Kabobong) : Panorama Siluet Bukit Unik di Jalur Menuju Toraja

EROTIC MOUNTAIN (GUNUNG NONA)


Masih ada satu lagi yang paling terkenal dari Bumi Enrekang: Gunung Nona, yang oleh warga setempat disebut Buttu Kabobong.

Buttu Kabobong adalah gunung unik di Kabupaten Enrekang, terletak di tepi jalan poros dari arah Rappang, Kabupaten Sidrap. Keunikannya terletak pada bentuknya yang menyerupai alat reproduksi perempuan, dan gunung ini disebut-sebut sebagai satu-satunya di dunia.

Selain unik dan memikat, gunung ini ternyata memiliki legenda yang diwariskan turun-temurun dalam berbagai versi. Pada dasarnya semua versi itu membawa pesan moral yang sama dari para leluhur: pantangan keras terhadap hubungan suami-istri di luar nikah.

Gunung Nona terletak sekitar 300 kilometer dari Kota Makassar dan dapat ditempuh dalam kurang lebih enam jam perjalanan darat. Jalannya sempit dan berkelok mengikuti kontur perbukitan. Di sinilah kian terasa betapa belum meratanya pembangunan di daerah, khususnya di Pulau Sulawesi, padahal ruas ini merupakan jalan utama menuju destinasi wisata Tana Toraja.

Untunglah, di sepanjang perjalanan terdapat banyak tempat singgah yang menyuguhkan pemandangan alam nan eksotis. Salah satu yang paling terkenal adalah Gunung Nona.


Meski tak seindah Puncak Bogor, gunung kecil di lereng perbukitan itu memiliki daya tarik tersendiri. Wisatawan mancanegara maupun domestik yang hendak menuju Toraja kerap singgah sejenak di sana, biasanya untuk beristirahat sambil menikmati secangkir kopi. Tertarik untuk mampir?

Minggu, 26 April 2015

Permandian Alam Lewaja Enrekang : Berendam di Air Sejuk Pegunungan di Tanah Massenrempulu

PEMANDIAN ALAM LEWAJA


Tanpa terasa sudah banyak kabupaten yang saya kunjungi. Alhamdulillah, Tuhan Yang Maha Esa masih menganugerahkan nikmat kesehatan. Selepas Kabupaten Sidrap, tujuan saya berikutnya adalah Kabupaten Enrekang.

"Menakjubkan" adalah kata yang tepat untuk bentang pegunungan di kabupaten ini. Di sebelah utara Kota Enrekang, deretan pegunungan membentang di sisi kanan jalan dan memanjakan mata sepanjang perjalanan. Tak heran bila tempat seunik ini layak dikunjungi.

Ada tiga destinasi yang wajib disinggahi di sini: Pemandian Alam Lewaja, Gunung Nona, dan Tebing Tontonan. Kita mulai dari yang pertama, Pemandian Alam Lewaja.

Inilah tempatnya. Sayangnya, ketika saya datang, pemandian ini sedang direnovasi, sehingga saya kembali harus menelan kecewa. Apa boleh buat.

Kabarnya, beberapa ratus meter dari sini terdapat air terjun yang biasa diramaikan kaum muda. Namun, hari itu hujan turun, dan saya pun urung ke sana.


Menuju lokasi ini cukup mudah. Dari pertigaan di depan Rumah Sakit Massenrempulu, ambil arah utara melalui Jalan Jenderal Sudirman, kawasan pendidikan tempat berdirinya Kantor Dinas Dikpora, Pesantren Modern Darul Falah, SMA/MA Muhammadiyah, SMPN 1, dan SMAN 1. Setelah melewati Lapangan Abu Bakar Lambogo di Batili, teruslah mengikuti jalan hingga tiba di Pemandian Alam Lewaja di ujungnya. Selamat berwisata.

Danau Sidenreng Sidrap : Menikmati Senja dan Hamparan Air Tenang di Tanah Bugis

DANAU SIDENRENG


Di Kabupaten Sidrap kita juga dapat mengunjungi salah satu danau terluas di Sulawesi Selatan, Danau Sidenreng, yang namanya masyhur di seantero Sulawesi. Pemandangan alamnya luar biasa. Sayangnya, di kawasan danau yang terletak di Desa Mojong, Kecamatan Watang, ini belum tersedia wahana yang dapat menarik wisatawan atau membantu mereka menikmati keindahan alamnya, misalnya kano atau sejenisnya.


Pemandangan alamnya sungguh indah. Di sini saya dapat melepas penat setelah sekian lama berada di Kota Makassar, ditemani angin sepoi-sepoi yang menghadirkan kesejukan. Hanya saja, sekali lagi, sayang belum ada wahana air yang bisa dinikmati untuk bersenang-senang di sini.


Masyaallah, betapa indah alamnya. Semoga lain waktu saya dapat berkunjung ke sini lagi. Semoga pula pemerintah, atau siapa pun yang kelak mengelola tempat ini, menghadirkan wahana bagi para pengunjung agar keasrian alamnya dapat dinikmati lebih leluasa.

Bila River Ranch Sidrap : Wisata Alam dan Suasana Ranch di Tepi Sungai Bila

BILA RIVER RANCH


Pernahkah terbayang bahwa padang penggembalaan sapi seperti di daratan Eropa juga ada di Indonesia? Ternyata ada, dan salah satu yang terkemuka berada di Kabupaten Sidrap. Di Desa Bila terdapat sebuah kawasan yang didirikan khusus sebagai tempat berkumpulnya sapi-sapi istimewa Sidrap. Kawasan ini memang sengaja disediakan sebagai padang penggembalaan, sebuah kebanggaan yang hanya dimiliki kabupaten ini.

Kawasan ini bernama Bila River Ranch. Nama itu konon diambil dari letaknya di tepian Sungai Bila. Rumputnya memang tidak sehijau padang di Eropa, tetapi tempat ini menyuguhkan pemandangan alam khas Indonesia, bukti bahwa pesona alam negeri ini tidak kalah.

Sapi-sapi di kawasan ini menggemaskan. Mereka dikumpulkan dalam satu kandang, lalu dilepas di padang terbuka yang hijau, mirip perbukitan dalam serial Teletubbies.

Berjalan-jalan di sini sungguh menyenangkan. Hanya saja, berhati-hatilah terhadap sapi-sapinya, jangan sampai mereka marah atau stres karena kehadiran kita.

Selasa, 21 April 2015

Taman Wisata Puncak Bila Riase Sidrap : Menikmati Panorama dari Ketinggian di Tanah Bugis

TAMAN WISATA PUNCAK BILA RIASE


Alhamdulillah wa syukurillah, tanpa terasa sudah 15 kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan yang saya jelajahi.

Tujuan berikutnya adalah kabupaten yang dijuluki Kota Beras: Kabupaten Sidrap. Selain berasnya, Sidrap juga memiliki tempat-tempat wisata yang menarik. Ada tiga destinasi yang wajib dikunjungi, yaitu Taman Wisata Puncak Bila Riase, Bila River Ranch, dan Danau Sidenreng.

Kita mulai dari yang pertama, Wisata Puncak. Awalnya saya mengira inilah "Puncak Bogor"-nya Sidrap, tetapi ternyata Puncak di sini berbeda. Penasaran? Mari ikuti perjalanan saya di Kabupaten Sidrap.


Lucu juga kalau diingat. Saat pertama kali ke sini, saya membayangkan hawa sejuk dan deretan vila di sepanjang jalan. Ternyata Wisata Puncak adalah taman hiburan, terutama bagi masyarakat Sidrap, yang dilengkapi beragam fasilitas untuk menarik wisatawan: kolam renang dan arena bermain anak, wahana air seperti sepeda air dan kano, hingga flying fox dan ATV.




Setiap wahana memiliki tarif tersendiri yang tertera di loket karcis, sehingga pengunjung dapat memilih wahana sesuai isi kantong.


Bagi wisatawan dari luar Kabupaten Sidrap, lokasi ini agak sulit ditemukan karena ada beberapa belokan yang harus dilalui. Karena itu, jangan segan bertanya kepada warga; malu bertanya, sesat di jalan. Sebagai patokan, lokasinya berada di jalan poros Bila–Barukku, Desa Bila Riase, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidrap. Selamat mencoba.

Senin, 20 April 2015

Air Panas Lemo Susu Pinrang : Berendam Hangat di Tengah Alam

PEMANDIAN AIR PANAS LEMO SUSU


Kali ini saya akan menceritakan tempat kedua yang saya kunjungi di Kabupaten Pinrang. Setelah merasakan sejuknya Air Terjun Karawa, kini giliran menghangatkan diri di Pemandian Air Panas Lemo Susu. Pemandian ini terletak di sebelah utara Kota Pinrang, tepatnya di Kecamatan Lembang, dan dicapai melalui jalan poros menuju PLTA Bakaru. Seperti apa kisahnya? Mari kita simak.

Lagi-lagi saya berkunjung seorang diri, maklum, belum ada yang menemani.

Mencari lokasinya ternyata tidak mudah. Saya sempat tersasar ke sana kemari, bahkan melewati tempat ini sampai jauh sekali. Untunglah seorang warga yang saya tanyai memberi tahu bahwa pemandiannya sudah terlewat, dan saya pun segera berputar arah.

Ternyata lokasi pemandian ini memiliki penanda: sebuah bangunan menyerupai gerbang bertuliskan "Welcome to Lemo Susu". Saya sebenarnya sempat melihatnya saat berkendara, tetapi tidak menyadari bahwa itulah tempat yang saya cari.

Dengan hati senang saya mulai mencari jalan masuknya. Setelah berkeliling, akhirnya ketemu juga. Namun, di pintu masuk tak ada seorang penjaga pun, dan pagarnya terkunci. Loket karcisnya tampak kumuh, seperti sudah lama tidak digunakan. Dengan berat hati, saya pun urung masuk.

Hal-hal seperti inilah yang perlu dibenahi pemerintah setempat. Sayang sekali bila tempat wisata yang sebenarnya menarik dibiarkan tidak terawat. Atau barangkali memang sudah sepi pengunjung? Ini menjadi masukan bagi pemerintah agar menjaga dan melestarikan lokasi wisata di wilayahnya, sebab hal itu akan menguntungkan wisatawan maupun masyarakat sendiri.

Saya juga memperhatikan bahwa kolamnya tidak berisi air. Entah sumber air panasnya sedang kering, entah sedang direnovasi; saya tidak tahu pasti, karena tak ada seorang pun yang bisa ditanyai. Mungkin pada hari libur tempat ini lebih ramai dikunjungi. Silakan dicoba.


Jumat, 17 April 2015

Air Terjun Karawa Pinrang : Kesejukan Alam Pegunungan yang Menyegarkan di Butta Pinrang

AIR TERJUN KARAWA


Senang rasanya kembali berpindah kabupaten. Setelah mengunjungi sejumlah tempat di Sulawesi Selatan, kini saatnya saya, "Radi The Explorer", menjelajahi Bumi Pinrang dengan segala keanekaragamannya. Seusai menjelajah, saya sampai pada satu kesimpulan: berpetualang di Pinrang adalah pengalaman antara hidup dan mati. Bagaimana tidak? Ada sejumlah tantangan yang harus saya hadapi selama berada di kabupaten ini. Penasaran? Mari ikuti perjalanan saya.

Perjalanan saya dimulai dari tempat wisata pertama, Air Terjun Karawa. Waktu itu saya berangkat seorang diri dari Makassar dengan waktu tempuh sekitar tiga setengah jam. Cukup jauh, tetapi jarak itu tidak menyurutkan rasa ingin tahu saya. Bepergian seorang diri memang butuh nyali, seperti yang saya alami ketika memasuki kawasan Air Terjun Karawa.

Awalnya saya hendak menuju Air Terjun Kali Jodoh melalui jalan poros ke PLTA Bakaru. Di tengah perjalanan, saya melihat gerbang masuk Air Terjun Karawa di sisi kanan jalan, lalu memutuskan berbelok ke sana. Tak lama kemudian, seekor anjing galak menyambut kedatangan saya dan langsung mengejar motor dari belakang, dengan gigi-gigi tajam yang siap menerkam kaki. Saya terkejut dan segera menambah kecepatan, padahal jalannya berbatu dan menurun. Ingin rasanya mengumpat, tetapi ia memang seekor anjing.

Syukurlah, saya tidak apa-apa dan anjing itu akhirnya berhenti mengejar. Saya pun memanjatkan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa.

Medannya ternyata berat. Sepanjang perjalanan jalannya sangat licin, sementara ban motor saya sudah gundul. Saya sempat tergelincir, meski tidak sampai jatuh.

Pada satu tanjakan, motor yang semestinya menanjak justru berputar 360 derajat. Saya benar-benar terkejut. Tak seorang pun warga keluar menanyakan keadaan saya; semuanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Saat itu saya sungguh syok, tidak menyangka motor yang saya kendarai akan berulah demikian. Syukurlah, saya tidak terperosok ke jurang di sisi jalan.

Saya tetap melanjutkan perjalanan, walaupun tujuan tampak masih jauh dan badan mulai lelah.

Jalan pun kian menanjak, licin, dan sempit, sehingga saya memutuskan memarkir motor di tanjakan. Sempat terlintas rasa waswas: bagaimana jika motor itu roboh, atau dicuri orang, lalu saya pulang naik apa? Namun, saya menepis kekhawatiran itu dan nekat melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Ternyata air terjunnya masih cukup jauh.

Tak lama kemudian, saya tiba di puncak, dan tampaklah air terjun itu di bawah sana. Alhamdulillah, senang rasanya berhasil mencapai titik tertinggi di tempat ini, walaupun saya tidak dapat melihat air terjunnya dari dekat.

Betapa nekatnya saya saat itu. Demi sebuah air terjun, saya sampai mempertaruhkan jiwa dan raga.

Setelah beberapa lama berada di puncak, saya pun turun. Dengan sekuat tenaga saya memutar motor yang semula menghadap ke atas di tanjakan agar berbalik menghadap turunan. Tak ada seorang pun yang bisa dimintai tolong. Namun, saya percaya Allah akan memberi kekuatan, dan alhamdulillah, motor itu akhirnya berbalik dan saya dapat melewati turunan licin dengan selamat.

Selepas itu masih ada satu tanjakan, dan di sanalah saya harus kembali berhadapan dengan anjing galak tadi. Saya menambah kecepatan agar ia tertinggal jauh ketika saya melintasi "markas"-nya. Benar saja, anjing itu kembali mengejar di jalan berbatu. Alhamdulillah, saya berhasil tiba kembali di jalan poros PLTA Bakaru.

Sepanjang petualangan itu, tak seorang pun warga sekitar yang menolong, baik saat saya dikejar anjing, berputar di jalan licin, maupun ketika mendaki dan menuruni bukit. Namun, saya masih memiliki Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa melindungi perjalanan saya. Insyaallah. Amin.

Pantai Lumpue Parepare : Menikmati Panorama Teluk dan Suasana Pesisir di Kota Habibie

PANTAI LUMPUE


Selanjutnya, saya mengajak Anda menuju tempat ketiga, Pantai Lumpue. Sudah cukup banyak pantai yang kita singgahi selama berkeliling Sulawesi Selatan. Lalu, apa yang membuat pantai ini berbeda? Mari kita simak.

Pantai ini terletak di Kelurahan Lumpue, Kecamatan Bacukiki Barat, Kota Parepare, Sulawesi Selatan. Ketika berkunjung ke sini, saya kembali menjumpai pemandangan yang terlalu sering saya temui di pantai-pantai lain: sampah. Entah kapan sampah di pantai-pantai kita akan lenyap. Rasanya belum ada perbaikan berarti di sebagian besar pantai di Sulawesi Selatan.

Pada akhirnya, semua kembali pada kesadaran para pengunjung untuk membuang sampah pada tempatnya. Caranya pun sederhana: siapkan kantong plastik besar, kumpulkan sampah di dalamnya, lalu bawa kantong itu ke tempat sampah.

Menurut saya, tempat ini sebenarnya sangat indah. Hanya saja, lagi-lagi, sampahnya banyak.

Pantai ini ramai dikunjungi, terlebih pada hari libur. Saat saya datang, sedang berlangsung sebuah kegiatan, mungkin acara keluarga, karena terdengar pula orang bernyanyi. Suasananya cukup meriah.

Meski banyak sampah, pemandangannya tetap mampu membuat siapa pun betah berteduh sejenak. Bagi Anda yang merindukan suasana pantai, khususnya warga kota yang penat dengan rutinitas, sesekali berkunjunglah ke sini. Tarif parkirnya pun tidak mahal. Selamat berwisata.

Pantai Cempae Parepare : Menikmati Senja dan Kuliner Tepi Laut di Kota Habibie

PANTAI CEMPAE


Setelah sekian lama sibuk di dunia nyata, kini saatnya saya kembali berbagi pengalaman perjalanan di Kota Parepare. Tempat kedua yang ingin saya ceritakan adalah Pantai Cempae.


Di Kota Parepare ada sebuah pantai yang ramai dikunjungi wisatawan lokal. Konon, di dekatnya terdapat sebuah sumur jodoh yang sudah masyhur di kalangan masyarakat sekitar. Banyak pengunjung, terutama pasangan muda-mudi dan mereka yang masih sendiri, datang ke sini untuk mengharap berkah. Menurut kepercayaan setempat, siapa pun yang mandi di sumur ini akan langgeng bersama pasangannya, sedangkan yang masih sendiri akan segera bertemu jodohnya. Menarik, bukan?

Sejujurnya, sejak pertama kali menginjakkan kaki di sini, kesan saya biasa saja. Pantai ini tidak memiliki hamparan pasir putih ataupun hitam seperti pantai pada umumnya. Tepiannya dibatasi tembok rendah yang bagian luarnya dilapisi bebatuan. Tampaknya tembok itu dibangun untuk mencegah abrasi, sekaligus menjadi tempat duduk bagi pengunjung yang ingin menikmati indahnya matahari terbenam.

Pantai ini biasanya ramai menjelang senja. Bagi Anda, khususnya warga Parepare, silakan berkunjung ke Pantai Cempae di Kecamatan Soreang, Kota Parepare, Sulawesi Selatan. Lokasinya mudah dijangkau. Jangan lupa pula singgah di sumur jodoh, yang konon dapat mempertemukan Anda dengan pasangan sejati.

Senin, 06 April 2015

Hutan Kota Jompie Parepare : Ruang Hijau Teduh untuk Bersantai dan Berolahraga di Kota Habibie

HUTAN KOTA JOMPIE


Alhamdulillah, akhirnya saya berkesempatan menulis lagi. Hingga kini saya telah menjejakkan kaki di 13 kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan: Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Gowa, Sinjai, Makassar, Maros, Bone, Soppeng, Wajo, Pangkep, dan Barru. Kali ini giliran sebuah kota yang juga merupakan tempat kelahiran Presiden ketiga Indonesia, Prof. Dr.-Ing. B.J. Habibie: Kota Parepare. Tentu membanggakan menjadi warga kota ini.

Selain sebagai kota kelahiran seorang presiden, Parepare juga memiliki tiga destinasi yang wajib dikunjungi para pelancong: Hutan Kota Jompie, Pantai Cempae, dan Pantai Lumpue. Seperti apa keseruannya? Mari simak perjalanan saya, dimulai dari tempat pertama, Hutan Kota Jompie.


Hutan Kota Jompie merupakan salah satu potensi wisata Kota Parepare yang belum terkelola dengan baik. Meski demikian, kelestariannya tetap terjaga, dan hutan yang pada 2010 dinobatkan sebagai hutan kota terbaik keenam di Indonesia ini masih menjadi paru-paru kota. Dirintis sejak 1920, Hutan Kota Jompie menyimpan keanekaragaman hayati sekaligus berfungsi sebagai objek wisata dan pusat penelitian tumbuhan tropis, terutama tanaman endemik Sulawesi.


Kawasan seluas 13,5 hektare yang dahulu bernama Celebes Tour ini merupakan bagian dari kompleks Hutan Alitta. Lokasinya berada di Kelurahan Bumi Harapan, Kecamatan Soreang, sekitar 3,5 km dari pusat Kota Parepare. Letaknya strategis karena mudah dijangkau, baik dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Lebih menarik lagi, kawasan ini sangat dekat dengan akses jalan menuju Kabupaten Pinrang dan Sidrap.

Kawasan ini dilengkapi sejumlah fasilitas, antara lain kolam renang, 14 tempat istirahat, area perkemahan, gedung pertemuan, saluran drainase, serta jalan setapak yang menjangkau setiap sudutnya.

Menurut analisis Tim Analisis Vegetasi Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), kawasan ini memiliki 90 jenis tumbuhan dari 81 marga. Tujuh jenis di antaranya telah teridentifikasi secara lengkap, sepuluh jenis baru diketahui marganya, dan tiga jenis baru teridentifikasi sampai tingkat suku. Beberapa di antaranya tergolong tumbuhan langka.

Kendati status "hutan kota" baru disandangnya tahun ini, Hutan Kota Jompie telah dinobatkan sebagai pusat koleksi dan konservasi kawasan Wallacea yang menonjolkan keanekaragaman tumbuhan obat, tumbuhan adat, dan etnobotani. Kebun raya ini juga diproyeksikan sebagai tempat pendidikan, penelitian, dan wisata.

Saat memasuki kawasan ini, saya menemukan beberapa titik yang sudah tidak terawat. Jalan setapak dan tempat istirahat di dalamnya tampak kurang terurus. Sayang sekali, sebab hal semacam itu tentu mengurangi kenyamanan wisatawan. Alangkah baiknya bila seluruh fasilitas yang tersedia benar-benar dapat digunakan. Air kolam renang di dekat pintu utama pun keruh, meski tetap ada beberapa orang yang berenang di sana.

Namun, di balik segala kekurangannya, tempat ini tetap menarik untuk dikunjungi. Hutan di tengah kota seperti ini jarang dijumpai di Sulawesi Selatan. Kepada Pemerintah Kota Parepare, saya tetap mengacungkan jempol atas upayanya melestarikan hutan kota ini.