Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Minggu, 01 Februari 2015

Pulau Sanrobengi Takalar : Pulau Kecil yang Sepi dengan Pantai Memukau

PULAU SANROBENGI


Destinasi berikutnya adalah Pulau Sanrobengi, sebuah pulau seberang yang menantang untuk dijelajahi.

Pulau ini termasuk salah satu pulau di Kabupaten Takalar, selain Pulau Tanakeke. Lokasinya berada di Desa Boddia, Kecamatan Galesong Selatan.

Sejujurnya, ada rasa ragu sebelum berangkat. Dari hasil penelusuran di internet, pulau ini dikabarkan angker, dan konon setiap tahun ada korban tenggelam dalam perjalanan menuju ke sana. Namun, saya menyerahkan segalanya kepada Allah, dan berangkat dengan penuh keyakinan bahwa perjalanan ini akan dimudahkan.

Saya menyeberang bersama adik saya, Reza. Sebelumnya, saya sudah pernah mendatangi lokasi penyeberangan menuju pulau ini. Perahu yang digunakan dapat memuat lima orang, dan kebetulan hanya kami berdua yang berkesempatan berangkat.


 

Akhirnya, setelah bernegosiasi, saya mendapatkan harga Rp200.000 untuk perjalanan pulang-pergi Boddia-Sanrobengi.

Keesokan harinya, kami berdua menuju lokasi penyeberangan. Ternyata perahu yang akan kami tumpangi masih berada di daratan, sehingga harus didorong terlebih dahulu ke bibir pantai. Saya memilih tidak ikut membantu. Sayang rasanya, penampilan yang sudah rapi harus berpeluh karena mendorong perahu.




Setelah perahu didorong ke air, kami memulai perjalanan singkat selama sekitar 15 menit menuju Pulau Sanrobengi. Jaraknya pun tidak terlalu jauh, karena pulau ini sudah tampak dari Pantai Boddia.


Setelah sekitar 15 menit di atas perahu, kami akhirnya tiba di Pulau Sanrobengi. Pemandangannya sungguh memukau, sampai-sampai saya merasa telah menemukan sepotong surga di dunia.


         

Setibanya di pulau, kami langsung menyusuri keindahan pulau kecil ini dengan berjalan kaki. Di bagian tengahnya terdapat permukiman yang dihuni sekitar lima kepala keluarga secara menetap. Rumah-rumahnya sederhana, tidak berbeda dengan rumah nelayan di pesisir pantai.

Warga setempat menyambut para pendatang dengan ramah. Namun, ada satu hal yang terasa kurang: tidak ada penjaja makanan seperti di kebanyakan pulau wisata. Di pulau ini juga terdapat sebuah mushollah yang digunakan penduduk untuk beribadah, karena warga di sini beragama Islam.

Pantai yang mengelilingi pulau ini sungguh indah. Karena belum banyak dikunjungi wisatawan, kami pun leluasa berenang dengan tenang.



 


Sungguh memesona. Keindahan pantai Pulau Sanrobengi terasa begitu istimewa, dan rasanya sayang sekali jika tidak menyempatkan diri berendam atau berenang di perairannya.



 

Alhamdulillah, setelah puas berenang, kami mencari air tawar di sekitar permukiman warga dan akhirnya menemukannya di sebuah sumur, tanpa dipungut biaya. Sayangnya, air sumur itu berbau kurang sedap, mirip air limbah. Meski begitu, kami tidak punya pilihan lain selain membersihkan diri dengan air tersebut.

Mungkin inilah salah satu alasan pulau ini jarang dikunjungi wisatawan, selain kabar-kabar angker yang beredar. Padahal, selama berada di sana, saya tidak mengalami hal aneh sedikit pun. Barangkali kawasan wisata seperti ini memang belum mendapat perhatian yang cukup dari pemerintah.

Setelah mandi, kami kembali mengelilingi pulau. Pemandangannya begitu indah, ditemani hangatnya sinar matahari yang menerpa kulit kami yang sudah menggelap terbakar.




 

Tibalah saatnya berpamitan dengan pulau ini. Tentu saja kami harus kembali, sebab tak mungkin menetap di sini.

Bagi Anda yang gemar menjelajahi pulau, Sanrobengi adalah destinasi yang menarik untuk dikunjungi.

Perjalanan ke Sanrobengi mengajarkan saya bahwa kabar yang beredar tidak selalu sama dengan kenyataan. Cerita tentang pulau angker dan korban tenggelam sempat membuat saya ragu, tetapi yang saya temui justru warga yang ramah, pantai yang tenang, dan pemandangan yang memukau. Tentu kewaspadaan tetap perlu: laut punya aturannya sendiri, dan keselamatan di atas perahu tidak boleh dianggap remeh. Yang saya pelajari adalah menimbang kabar dengan kepala dingin, mempersiapkan diri sebaik mungkin, lalu berangkat dengan niat baik.

Bagi pembaca yang menyukai wisata pulau sepi tanpa keramaian, Sanrobengi menawarkan pengalaman yang berbeda. Tidak ada penjaja makanan dan air sumur yang tidak layak minum, sehingga persiapan menjadi kunci: bawa bekal makanan, air minum, dan air bersih sendiri. Dengan persiapan yang matang dan cuaca yang bersahabat, pulau kecil di Galesong Selatan ini bisa menjadi tujuan akhir pekan yang tak terlupakan, bukan hanya untuk berfoto, tetapi juga untuk menikmati laut dengan tenang.

Lokasi & Rute

·        Lokasi: Pulau Sanrobengi, Desa Boddia, Kecamatan Galesong Selatan, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Pulau ini sudah tampak dari Pantai Boddia.

·        Jarak dari Makassar: sekitar 35–45 km dari Makassar, dengan waktu tempuh kira-kira 1 sampai 1,5 jam lewat Tanjung Bunga dan jalan poros Makassar–Takalar.

·        Dari Kota Makassar, lewati Tanjung Bunga, lalu ikuti jalan poros Makassar–Takalar.

·        Anda akan melintasi Kecamatan Galesong Utara terlebih dahulu, kemudian tiba di Kecamatan Galesong Selatan.

·        Perhatikan penanda jalan menuju Desa Boddia; jangan ragu bertanya kepada warga setempat.

·        Setelah menemukan jalan menuju Boddia, teruskan lurus hingga kawasan pantai (titik penyeberangan).

·        Penyeberangan Boddia–Sanrobengi dengan perahu sekitar 15 menit.

·        Tautan Google Maps (titik penyeberangan Pantai Boddia): https://maps.app.goo.gl/YixCGEXS9mrL34Ni9.

Harga Tiket

·        Tiket masuk pulau: tidak ada tiket resmi.

·        Sewa perahu pulang-pergi Boddia–Sanrobengi: Rp200.000 (hasil negosiasi per perahu).

·        Kapasitas perahu: lima orang, jadi biaya bisa dibagi bila berombongan.

·        Air sumur untuk bersih-bersih: gratis.

·        Parkir di Boddia: gratis.

·        Harga dicek pada: Februari 2015.

Jam Buka

·        Pulau dapat dikunjungi: [sepanjang hari, tergantung perahu dan cuaca].

·        Jam penyeberangan: pagi. Pesan perahu dan sepakati harga minimal sehari sebelumnya.

·        Waktu terbaik: pagi/sore, saat laut tenang. Lama kunjungan penulis: 2 jam.

Fasilitas

·        Permukiman sekitar lima kepala keluarga yang menetap di bagian tengah pulau.

·        Mushollah yang digunakan warga.

·        Sumur air tawar (gratis, tetapi airnya berbau kurang sedap).

·        Tidak ada penjaja makanan dan minuman.

·        Toilet: punya warga. Sinyal seluler: ada. Listrik: ada.

Tips Berkunjung

·        Pesan perahu dan sepakati harga minimal sehari sebelumnya.

·        Bawa bekal makanan, air minum, dan air bersih sendiri karena tidak ada penjaja makanan dan air sumur berbau.

·        Tanyakan kondisi laut dan cuaca kepada nelayan setempat sebelum berangkat; tunda jika ombak tinggi.

·        Minta pelampung kepada pemilik perahu atau bawa sendiri; duduk dengan tenang di perahu dan jangan memuat melebihi kapasitas lima orang.

·        Hormati warga: berpakaian sopan, jaga kebersihan, bawa pulang sampah, dan minta izin sebelum memotret warga.

·        Perairan jernih menggoda untuk berenang; renanglah di dekat pantai dan jangan sendirian.

·        Sinar matahari kuat: pakai tabir surya, topi, dan kacamata hitam berlensa UV untuk melindungi mata dan kulit, serta cukup minum.

·        Bawa baju ganti dan kantong plastik untuk pakaian basah.

·        Berkunjunglah bersama keluarga agar suasana lebih hidup.

Demikian kisah perjalanan kali ini. Sampai jumpa di petualangan berikutnya!

0 komentar:

Posting Komentar