Kali ini saya akan berbagi pengalaman mengunjungi Pulau Tanakeke, sebuah perjalanan yang sungguh mengesankan.
Pulau Tanakeke termasuk pulau yang lebih dikenal di Takalar dibandingkan tetangganya, Pulau Sanrobengi. Wajar saja, sebab jumlah penduduk dan luas wilayahnya lebih besar. Pulau ini berada di Kecamatan Mappakasunggu, yang biasa disingkat Mapsu.
Dalam perjalanan ini, saya ditemani dua sahabat SMA, Dede dan Leni, beserta seorang sepupu yang namanya belum sempat saya tanyakan, juga Hamzah, sahabat semasa SMP. Seperti biasa, sebelum berangkat saya memastikan urusan transportasi sudah beres.
Setiap kali merencanakan perjalanan seperti ini, saya selalu menawarkan kepada teman-teman SMA siapa yang ingin ikut. Ternyata hanya dua orang yang dapat bergabung. Selain meringankan biaya transportasi, perjalanan ini juga menjadi ajang silaturahmi, dan itulah salah satu cara saya mempererat hubungan dengan sahabat-sahabat lama.
Akhirnya, biaya perahu pun disepakati: Rp300.000 untuk perjalanan pulang-pergi Mapsu-Tanakeke, di luar bahan bakar yang kami tanggung sendiri. Jika ditotal, biaya menyeberang sekitar Rp500.000.
Pagi itu kami berkumpul pukul 08.00 di rumah seorang nelayan berpengalaman. Konon, beliau pernah beberapa kali mengantar Bapak Bupati Takalar ke Pulau Tanakeke, dan alhamdulillah belum pernah mengalami musibah di laut. Kami pun menenangkan diri dengan keyakinan bahwa perjalanan ini akan aman. Jika Bapak Bupati saja mempercayakan diri kepadanya, tentu kami pun bisa.
Perjalanan pun dimulai, dan kami berangkat tepat pukul 08.00 pagi. Mengapa harus sepagi itu? Sebab ombak biasanya meninggi menjelang siang, sementara pulau yang dituju cukup jauh dan kami hanya punya waktu satu hari. Jadi, jika Anda berencana ke pulau ini, jangan sampai terlambat berkumpul.
Sebelum berangkat, bapak nelayan membekali kami dengan pelampung sebagai langkah berjaga-jaga. Semoga saja kami tidak sampai tercebur, amin.
Kami membawa sedikit camilan dalam tas masing-masing. Sebaiknya jangan terlalu berat, agar perahu tetap seimbang.
Setibanya di Pulau Tanakeke, tepatnya di Desa Tompotana, kami langsung menuju rumah kenalan bapak nelayan untuk bersantai dan menikmati jamuan sederhana.
Jauh-jauh hari sebelumnya, saya sudah mencari penjual ikan dengan harga terjangkau agar kami bisa menikmati suasana pulau dengan lebih leluasa. Ternyata bapak nelayan memiliki kenalan di sana, jadi sekalian saja saya memesan ikan darinya.
Sejujurnya, pemandangan di Tompotana tidak seperti yang kami bayangkan. Kami berharap menemukan pantai berpasir putih dengan orang-orang yang berjemur santai. Namun kenyataannya, kami hanya menjumpai perkampungan nelayan biasa yang nyaris tanpa tanaman. Konon, tanah di sini berupa tanah timbunan yang keras, sehingga kawasannya tampak gersang.
Meski demikian, ada banyak hal yang menarik untuk diamati. Di sini terdapat masjid dan sekolah, sehingga suasananya tidak jauh berbeda dengan perkampungan di daratan. Kami juga menyaksikan aktivitas warga, mulai dari membuat perahu hingga memanen rumput laut. Ada pula pemandangan unik: kambing-kambing yang memakan kantong semen, barangkali karena minimnya tanaman yang tumbuh di sana.
Ada satu pemandangan yang cukup mengejutkan kami. Warga pulau memanfaatkan laut untuk mandi dan buang hajat. Terus terang, kami sempat tertegun melihatnya. Pikiran pun melayang ke ikan-ikan di laut, yang mungkin ikut terpengaruh oleh kebiasaan ini, termasuk ikan bakar yang baru saja kami santap. Namun, apa boleh buat, semuanya sudah terlanjur, dan yang terpenting rasanya memang nikmat.
Setelah berkeliling, kami merasa pemandangan di sini belum sesuai dengan harapan. Sayang sekali, tetapi kami mencoba memakluminya. Bapak nelayan sempat menawarkan untuk mengantar kami ke desa tetangga, yaitu Desa Satangnga, yang katanya memiliki panorama lebih indah.
Kami pun kembali ke rumah nelayan tempat kami disambut tadi dan menyiapkan peralatan untuk membakar ikan. Tak lama, hidangan lezat pun siap disantap, dan kami makan bersama di rumah tersebut.
Ketika waktu Dhuhur tiba, kami bergegas ke masjid setempat untuk menunaikan salat. Setelahnya, kami kembali ke rumah nelayan untuk berpamitan kepada tuan rumah sekaligus membayar ikan yang kami makan. Harganya ternyata sangat murah: hanya Rp20.000 untuk 30 ekor. Sempat terlintas lagi pikiran soal ikan-ikan itu, tetapi untunglah, ikan tersebut ditangkap dari tengah laut, bukan di pinggiran. Alhamdulillahirabbil 'alamin.
Tuan rumah juga berbaik hati memberi "diskon" berupa satu kantong besar ikan mairo kering senilai Rp10.000, jauh lebih murah dibandingkan harga di pasar daratan.
Menjelang siang, ombak mulai meninggi, sehingga kami memutuskan segera kembali ke Mapsu. Perjalanan ke Desa Satangnga pun terpaksa ditunda. Keselamatan tentu lebih utama, apalagi ombak akan semakin besar menjelang sore. Semoga lain waktu kami berkesempatan ke sana. Sampai jumpa, Tanakeke.
Kami menempuh kembali perjalanan sejauh 14 kilometer itu, kali ini dengan tantangan yang jauh lebih berat. Sepanjang jalan, perahu terus diguncang ombak. Perairan menuju Pulau Tanakeke memang dikenal berarus kuat dan bergelombang tinggi, dan konon sudah banyak korban jiwa di laut ini. Salah satu kisah yang paling memilukan adalah tenggelamnya sepasang pengantin bersama keluarganya di perairan ini. Bagi saya pribadi, inilah guncangan terhebat yang pernah saya rasakan selama menumpang perahu.
Di tengah perjalanan, mesin perahu tiba-tiba mati. Kami sempat panik, meski tentu saja tidak sampai saling berpelukan. Untunglah bapak nelayan tetap tenang dan sigap di tengah ombak yang menghadang, sehingga mesin akhirnya menyala kembali. Alhamdulillah.
Akhirnya kami tiba dengan selamat di tempat kami memulai perjalanan. Perjalanan ke Pulau Tanakeke kali ini benar-benar menjadi pengalaman yang luar biasa. Tertarik untuk mencobanya?









0 komentar:
Posting Komentar