Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Senin, 18 Mei 2015

Gong Nekara Selayar : Menyaksikan Peninggalan Perunggu Kuno yang Menyimpan Misteri Sejarah Nusantara

GONG NEKARA


Senang berjumpa lagi. Kali ini saya akan menceritakan pengalaman mengunjungi tempat kedua, Gong Nekara. Sebelum itu, izinkan saya bercerita sedikit tentang Kepulauan Selayar.

Saya masih terkagum-kagum bisa menjejakkan kaki di sini. Maklum, ini kunjungan pertama saya: menempuh perjalanan seorang diri, menyeberang dengan feri, hingga melihat lumba-lumba. Semuanya mengesankan. Hanya satu hal yang terasa memberatkan, yaitu harga-harga di Selayar yang cukup tinggi.

Tarif hotel di sini, kabarnya, di atas Rp100.000 per malam. Sebagai perbandingan, di Palopo saya pernah mendapat kamar seharga Rp95.000. Sewa motor Rp70.000 per hari, dan semangkuk coto Makassar Rp18.000. Rasanya ingin segera pulang; untung tiket pulang sudah di tangan.

Jadi, bila hendak ke Selayar, siapkan bekal yang cukup, atau setidaknya pastikan ada simpanan di rekening.

Kembali ke Gong Nekara. Barangkali belum semua mengenalnya, jadi mari kita berkenalan dulu.

Gong nekara adalah gong perunggu hasil kebudayaan Dong Son, yang berkembang di delta Sungai Merah, Vietnam Utara. Gong jenis ini dibuat sejak sekitar 600 tahun Sebelum Masehi, atau lebih awal, hingga abad ketiga Masehi, dengan teknik pengecoran cetak lilin hilang (lost-wax casting).

Nekara di Pulau Selayar disebut-sebut sebagai yang terbesar di Asia Tenggara, bahkan tertua di dunia. Menurut penuturan tetua adat dan penduduk Kelurahan Bontobangun, tempat nekara ini ditemukan, gong tersebut ditemukan secara tidak sengaja pada 1686 oleh Sabuna, seorang penduduk Kampung Rea-Rea.


Sejarahnya sungguh mengagumkan. Sayangnya, saya tidak dapat melihat gong ini secara langsung saat berkunjung. Kabarnya, pengunjung harus lebih dulu menghubungi pemegang kuncinya, sebab gong ini dijaga ketat dan selalu disimpan dalam keadaan terkunci. Menarik, bukan? Selagi masih gratis, sempatkanlah berkunjung.

0 komentar:

Posting Komentar