Radi The Eksplorer

Tana Toraja - Lemo

Radi The Explorer

Enrekang - Pemakamanan di Tebing Tontonan

Radi The Explorer

Pinrang - Pemandian Air Panas Lemo Susu

Radi The Explorer

Makassar - Fort Rotterdam

Radi The Explorer

Makassar - Pulau Kodingareng Keke

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Rabu, 26 Agustus 2020

Tanjung Benoa Bali : Surga Watersport untuk Pemula hingga Pemacu Adrenalin

  TANJUNG BENOA



Tempat kedua dari terakhir yang saya kunjungi di Bali adalah sebuah objek wisata yang menarik, terutama bagi penggemar olahraga air. Pemerintah setempat rupanya mampu mengelola wisata di Bali dengan manajemen yang baik. Bagi para pencinta olahraga air, tempat ini sangat saya rekomendasikan. Mari kita jelajahi.

 
Bali adalah salah satu pulau di Indonesia yang paling banyak dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Banyak hal yang menjadikannya destinasi terbaik di negeri ini, dan salah satunya adalah pantainya. Di antara pantai berpasir putih yang paling ramai didatangi wisatawan Indonesia adalah Pantai Tanjung Benoa.
 

Sebelum berkembang menjadi kawasan wisata pantai seperti sekarang, Tanjung Benoa adalah desa nelayan, dan penduduknya hidup dari melaut. Seiring perkembangan pariwisata, mata pencaharian sebagian besar warga pun berubah: ada yang menjadi pegawai hotel, ada pula yang membuka usaha wisata bahari, yang lebih dikenal sebagai watersport Tanjung Benoa.

Daya tarik utama Tanjung Benoa terletak pada keindahan pantai dan letak geografisnya. Pasirnya putih, garis pantainya sangat panjang, dan kebersihannya terjaga, sehingga nyaman untuk berlibur.

Dengan ombak yang sangat tenang dan kedalaman rata-rata 6 meter, pantai ini sangat cocok bagi pemula yang ingin mencoba olahraga air. Di kalangan wisatawan, kegiatan ini dikenal sebagai Bali water sports tour. Dari ujung utara hingga ujung selatan pantai, berjajar penyedia jasa olahraga air dengan beragam pilihan wahana.

Selain itu, Tanjung Benoa dilengkapi fasilitas pariwisata lain, seperti penginapan, restoran, warung makan, tempat penukaran uang, dan aneka pilihan transportasi.

Lalu apa saja kegiatan yang dapat dilakukan di Tanjung Benoa? Wahana yang tersedia antara lain parasailing, snorkeling, dan seawalker, di samping banyak pilihan wisata bahari lainnya.

Pantai Tanjung Benoa terletak di Bali selatan, berdekatan dengan kawasan wisata Nusa Dua, tepatnya di Kelurahan Tanjung Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung.

Sungguh mendebarkan. Wahana olahraga air di sini memacu adrenalin dan sangat cocok bagi penggemar olahraga air, termasuk yang ekstrem. Ajaklah teman atau keluarga agar pengalamannya lebih seru dan berkesan. Jangan lupa tetap menjalankan protokol kesehatan Covid-19. Sampai jumpa.


Selasa, 18 Agustus 2020

Pura Ulun Danu Beratan Bedugul : Pura “Terapung” Ikon Pariwisata Bali

 PURA ULUN DANU BERATAN BEDUGUL



Bali memang menyimpan banyak tempat indah dan bersejarah untuk dikunjungi saat liburan. Sayangnya, pandemi Covid-19 membuat wisatawan domestik maupun mancanegara enggan mendatangi tempat-tempat wisata. Bersabarlah. Seusai pandemi, Anda dapat kembali merencanakan liburan ke mana pun, termasuk ke Bali. Tempat berikut ini adalah salah satu destinasi yang saya rekomendasikan. Mari kita jelajahi bersama.

Sebelum pandemi Covid-19, Danau Beratan di Bedugul begitu terkenal sebagai tempat berlibur, sehingga hampir setiap hari ramai dikunjungi, bahkan pada musim sepi wisatawan sekalipun.

Nama asli danau ini bukan Danau Bedugul, melainkan Danau Beratan atau Bratan. Namun, karena berada di kawasan wisata Bedugul, banyak wisatawan lebih akrab menyebutnya Danau Bedugul.

Pura Ulun Danu Beratan sangat unik karena berdiri di tengah danau. Ketika permukaan air naik, pura ini tampak seolah terapung di atasnya.

Bali memang memiliki banyak objek wisata terkenal, seperti Tanah Lot, Pantai Kuta, dan Pura Luhur Uluwatu, tetapi Pura Ulun Danu Beratan selalu menjadi ikon pariwisatanya. Bila pernah memperhatikan uang kertas Rp50.000 keluaran lama, Anda akan menemukan gambar pura ini di sana.

Kegiatan favorit pengunjung adalah berfoto dengan latar pura di tengah danau. Begitu banyaknya yang menginginkan foto serupa, sulit memotret tanpa ada orang lain di dalam bingkai. Siasatnya: datanglah lebih pagi.

 
Pemandangan yang paling memikat di sini adalah kabut yang datang dan pergi di atas permukaan danau. Ketika turun, kabut menyelimuti pura, danau, dan perbukitan di sekelilingnya.

Selain berfoto, banyak wisatawan menyewa perahu cepat untuk mengelilingi Danau Beratan dan menikmati pemandangannya dari dekat. Kedalaman danau ini mencapai 23 meter, jadi berhati-hatilah saat berperahu di tengahnya.

Pura Ulun Danu Beratan sangat mudah ditemukan, sebab letaknya di tepi jalan raya yang menghubungkan Kabupaten Tabanan dan Kabupaten Buleleng. Alamat lengkapnya: Jalan Raya Candikuning–Bedugul, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan.

Menarik, bukan? Pura yang seolah terapung di tepian danau, dikelilingi pemandangan alam yang memanjakan mata. Di mana lagi pemandangan seperti ini dapat dijumpai kalau bukan di Bali? Inilah salah satu tempat paling menakjubkan yang pernah saya kunjungi.

Senin, 10 Agustus 2020

Pura Ulun Danu Batur Kintamani : Pura Megah di Tepi Kaldera Batur

PURA ULUN DANU BATUR


Selamat berjumpa kembali. Setelah beberapa waktu tidak sempat menulis, hari ini saya kembali menceritakan perjalanan bersama istri di Bali. Berbeda dengan daerah asal saya, Bali memiliki banyak pura, tempat ibadah umat Hindu, yang indah dan menawan. Salah satunya Pura Ulun Danu Batur, yang ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Pura Ulun Danu Batur adalah destinasi menarik di Kintamani, Bali. Pura ini dikenal sebagai pura terpenting kedua di Pulau Bali setelah Pura Besakih, sehingga tidak mengherankan bila upacara keagamaan Hindu kerap diselenggarakan di sini.

Pura ini juga dikenal karena usianya yang sangat tua. Didirikan pada 1926, pura ini memiliki beberapa sebutan lain, di antaranya Pura Ulun Danu, Pura Batur, dan Pura Bat.

Masyarakat Hindu di Kintamani mendirikan Pura Ulun Danu Batur sebagai penghormatan kepada Dewi Danu, dewi sungai dan danau. Secara harfiah, "Ulun Danu" pada nama pura ini berarti dewi danau.

Pura Batur merupakan kompleks yang terdiri atas sembilan pura, dengan 285 paviliun dan bangunan suci di dalamnya. Semuanya dibangun untuk menghormati para dewa dan dewi, antara lain dewa kesuburan, air, dan seni.

Pura ini memiliki lima area utama. Yang paling menonjol adalah meru bertingkat sebelas di bagian terdalam, area paling suci di Pura Batur. Selain itu, terdapat tiga meru bertingkat sembilan yang dipersembahkan bagi Gunung Batur, Gunung Abang, dan Ida Batara Dalem Waturenggong, raja Gelgel yang memerintah antara 1460 dan 1550.

Menurut sejarahnya, Pura Batur semula berada di dasar kaldera, di kaki Gunung Batur. Pura itu, bersama Desa Batur, rusak parah akibat letusan gunung pada 1926. Sejak itu masyarakat setempat mengungsi dan memindahkan pura ke lokasi baru di tepi atas kaldera. Hingga kini Pura Ulun Danu Batur masih terjaga dan berdiri kokoh.

Pura Ulun Danu Batur terletak di Desa Kalanganyar, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, kurang lebih 30 kilometer dari pusat Kota Bangli. Karena berada di dataran tinggi, hawanya cukup dingin, dan pemandangannya pun sangat indah.

Menuju Pura Ulun Danu Batur pun tidak sulit, sebab sarana transportasi di Bali pada umumnya cukup baik, mengingat pulau ini merupakan destinasi wisata yang sangat populer di kalangan wisatawan asing. Pura ini sendiri layak dikunjungi karena arsitekturnya yang menawan dan benar-benar mencerminkan identitas Bali, yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Jadi, tunggu apa lagi?

Minggu, 24 November 2019

Pantai Pandawa Bali : Pantai Tersembunyi di Balik Tebing Kapur

PANTAI PANDAWA


Kali ini saya mengajak Anda ke salah satu pantai yang belakangan namanya kian dikenal di Bali. Pulau ini memang punya banyak pantai indah. Penasaran dengan yang satu ini? Mari kita jelajahi.

Pantai Pandawa adalah salah satu pantai berpasir putih paling terkenal di Bali, dan wajib dikunjungi bila Anda berlibur di Pulau Dewata. Di kalangan wisatawan mancanegara, terutama dari Australia, pantai ini lebih dikenal sebagai Secret Beach, sedangkan masyarakat setempat menyebutnya Pantai Kutuh.

Pantai ini beralamat di Jalan Pantai Pandawa, Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Untuk mencapainya, pengunjung harus melewati jalan yang diapit tebing batu yang terjal. Pada tebing itu terpahat patung Panca Pandawa dari kisah Mahabharata, dan dari sanalah nama Pantai Pandawa berasal.

Pantainya sendiri tersembunyi di balik tebing kapur yang menjulang tinggi. Dari atas tebing, terhampar pemandangan Samudra Hindia yang memesona.

 

Dari Bandara Ngurah Rai, pantai ini berjarak 18 kilometer melalui Jalan Goa Gong, Jimbaran. Meski tidak jauh, perjalanannya memakan waktu sekitar satu jam, sebab jalannya berliku dan kerap macet, terutama di depan kawasan GWK.

Dahulu Pandawa termasuk pantai indah yang tersembunyi. Namun, sejak akses jalannya dibuka untuk umum pada 2012, pantai ini tidak lagi sunyi dan hampir setiap hari ramai dikunjungi. Kini pengunjungnya pun tidak lagi didominasi wisatawan asing; justru wisatawan domestiklah yang paling banyak datang.

Menjelang area pantai, pengunjung akan melewati gerbang dengan empat jalur masuk kendaraan. Bentuknya menyerupai gerbang tol, tetapi terbuat dari batu kapur putih.

Setelah membayar tiket, pengunjung melintasi jalan beraspal mulus yang diapit tebing kapur menjulang. Beberapa meter kemudian, tampaklah Samudra Hindia dan garis pantai yang putih. Dari atas tebing terlihat pula area parkir yang sangat luas.

Di sisi kiri jalan, pada dinding tebing, terdapat enam ceruk yang masing-masing berisi patung: Dewi Kunti dan kelima putranya, Panca Pandawa, yaitu Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sahadewa.

Setiap pengunjung akan terkesima oleh keindahan Pantai Pandawa. Setibanya di bibir pantai, terbentang garis pantai sepanjang satu kilometer dengan pasir halus berwarna putih kekuningan. Kebersihannya cukup terjaga, dan ombaknya tenang.

Berdiri di atas pasir sambil menghadap Samudra Hindia, pengunjung akan menyaksikan perpaduan warna yang memukau: putihnya pasir, kehijauan air di tepian, lalu biru yang kian pekat ke arah laut lepas.

Menarik, bukan? Mari berkunjung ke pantai yang indah ini.

Sabtu, 02 November 2019

Pura Luhur Uluwatu Badung : Menyaksikan Sunset dari Pura di Atas Tebing Samudra Hindia

PURA LUHUR ULUWATU


Kali ini saya kembali menuliskan pengalaman menakjubkan bersama istri ketika mengunjungi sebuah tempat wisata di Bali. Alamnya yang indah, monyet-monyetnya yang jenaka, serta atraksi lain yang tak kalah menarik membuat saya betah berlama-lama di sana. Ingin tahu? Mari kita jelajahi lagi wisata Bali.

Pura Uluwatu berstatus sebagai Pura Sad Kahyangan Jagat, salah satu penyangga poros mata angin Pulau Bali. Pura ini berdiri di atas bukit karang setinggi sekitar 97 meter di atas permukaan laut. Dari letaknya itulah nama Uluwatu berasal, yang dalam bahasa Sanskerta berarti puncak batu karang.

Karena letaknya itu, pengunjung tidak hanya merasakan suasana yang sakral dan religius, tetapi juga menikmati pemandangan yang indah dan unik.

Berbeda dengan pemandangan di Pura Tanah Lot, pengunjung Pura Luhur Uluwatu akan menyaksikan luasnya hamparan Samudra Hindia, dengan ombak yang menghantam kaki tebing. Dari sini pula matahari terbenam dapat dinikmati tanpa terhalang apa pun.

Bagi yang tidak membawa bekal, tidak perlu khawatir. Di sekitar kawasan ini terdapat banyak warung makanan dan minuman, juga restoran dengan beragam menu dan harga.

Pura Luhur Uluwatu terletak di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, sekitar satu jam perjalanan ke arah selatan dari Bandara Ngurah Rai dengan kendaraan pribadi.

Pura ini terbuka bagi wisatawan pukul 07.00 hingga 19.00, sedangkan bagi umat yang hendak bersembahyang terbuka selama 24 jam. Fasilitas umum seperti toilet tersedia di area luar pura.

Kebanyakan pelancong memilih datang sekitar pukul lima sore, saat terik matahari sudah mereda dan senja akan tiba dalam satu jam.

Selain arsitektur pura dan keindahan senjanya, pengunjung juga dapat menyaksikan pertunjukan tari tradisional Bali, yaitu tari Kecak. Di Uluwatu, tarian ini dibawakan oleh 50 hingga 100 penari yang duduk melingkar dengan mengenakan kain bermotif hitam-putih.

Sebagian besar penarinya laki-laki, dan lakon yang dibawakan biasanya kisah Ramayana. Ciri khas tari Kecak adalah seruan "cak, cak, cak" yang dilantunkan para penari secara bersahut-sahutan. Pertunjukan ini digelar menjelang matahari terbenam, pukul 18.10 hingga 19.00 WITA.

Ada dua jalan masuk ke area pura: gerbang di sisi utara dan akses dari aula di sisi selatan. Begitu masuk, pengunjung disambut hutan yang rimbun, lalu berjalan beberapa meter melalui jalan setapak menuju pintu utama pura.

Apakah ada kera di Pura Uluwatu? Ada. Jenisnya kera abu-abu ekor panjang, serupa dengan yang ada di Monkey Forest Ubud. Di sepanjang jalan setapak menuju bagian depan pura, banyak kera tampak berkeliaran di sekitar hutan.

Agar barang bawaan tidak diambil kera, hindari membawa atau mengenakan benda berharga yang mudah menarik perhatian mereka, seperti anting, kalung, kamera, ponsel, atau kacamata hitam. Bila barang Anda telanjur diambil, cobalah menukarnya dengan kacang atau pisang; cara ini kadang berhasil. 

 

Untuk memasuki area pura di Bali, pengunjung harus berpakaian sesuai aturan, yaitu mengenakan kain sarung dengan selendang yang diikatkan di pinggang. Bila lupa membawanya, tidak perlu membeli, sebab sarung dan selendang tersedia di loket tiket masuk.

Sungguh pengalaman yang berkesan. Bila berkunjung ke Bali, sempatkanlah singgah di sini.

Jumat, 18 Oktober 2019

Garuda Wisnu Kencana Bali : Menjelajahi Taman Budaya dan Patung Raksasa di Perbukitan Badung

GARUDA WISNU KENCANA


Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan menulis lagi di blog ini. Bahagia rasanya dapat berkeliling Bali, meski baru pada usia sekarang saya sempat berkunjung ke sini.

Setelah menyusuri pantai dan tempat ibadah di Bali, kini saatnya mendatangi tempat yang masyhur karena patungnya: Garuda Wisnu Kencana, salah satu objek wisata yang wajib dikunjungi di pulau ini. Mari simak keseruannya.

Garuda Wisnu Kencana, yang lebih dikenal sebagai GWK, adalah salah satu objek wisata paling terkenal di Bali. Hampir setiap hari tempat ini ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara, dan banyak di antara mereka menyebutnya sebagai tempat yang wajib didatangi.

GWK merupakan taman budaya seluas 240 hektare yang terletak di Jalan Raya Uluwatu, Desa Ungasan, Kuta Selatan, Kabupaten Badung.

Daya tarik utama GWK Cultural Park adalah patung Garuda Wisnu, karya pematung terkenal I Nyoman Nuarta. Menurut rencana awal, patung ini dibangun setinggi 126 meter dengan lebar 60 meter, dengan tujuan menjadikan GWK destinasi yang menyuguhkan salah satu karya patung terbesar dan paling menakjubkan, sekaligus mencerminkan nilai budaya Bali.

Selain patungnya, pengunjung dapat menikmati pemandangan matahari terbenam. GWK juga menawarkan beragam acara hiburan dari pagi hingga malam hari.

 
Pembangunan GWK diprakarsai oleh Yayasan Garuda Wisnu Kencana pada 1992, dengan tujuan menjadikannya tengara wisata budaya yang dikenal hingga mancanegara. Salah satu pendiri yayasan itu adalah I Nyoman Nuarta, yang juga menjadi penggagas dan perancang patung Garuda Wisnu Kencana.
 

Mencari lokasi yang cocok untuk proyek sebesar Garuda Wisnu Kencana bukanlah perkara mudah. Setelah konsepnya rampung, yayasan memerlukan waktu dua tahun untuk menemukan tempat yang sempurna bagi patung ini. Sebelum GWK dibangun, bukit di Ungasan itu merupakan area penambangan batu kapur.

 Yayasan Garuda Wisnu Kencana menunjuk I Nyoman Nuarta sebagai pematung utama proyek ini, mengingat reputasinya sebagai salah satu pematung modern terbaik Indonesia. Pada 2013, pengelolaan dan kepemilikan GWK diambil alih oleh PT Alam Sutera Realty Tbk, salah satu perusahaan pengembang properti di Indonesia.

 

Seiring waktu, GWK berkembang menjadi tempat pameran budaya, penyelenggaraan acara, dan atraksi hiburan, sekaligus forum informasi dan komunikasi bagi kebudayaan lokal, nasional, regional, bahkan internasional.

GWK buka setiap hari pukul 08.00 hingga 22.00. Setiap pengunjung dikenai tiket masuk, tanpa perbedaan harga antara warga negara Indonesia dan warga negara asing.

Berkunjung ke GWK sungguh menarik, dan sayang bila dilewatkan. Segeralah datang.

Minggu, 13 Oktober 2019

Pantai Jimbaran Bali : Makan Seafood Bakar Sambil Menikmati Sunset di Tepi Pantai Badung

PANTAI JIMBARAN


Kita berjumpa lagi. Alhamdulillah, setelah berkeliling Pulau Sulawesi, kini saatnya Radi The Explorer menjelajahi provinsi lain. Bali memang surga pantai, dengan banyak pantai indah yang wajib dikunjungi selain Kuta. Kali ini saya mengajak Anda ke sebuah tempat yang ramai didatangi wisatawan mancanegara. Penasaran? Mari kita jelajahi.
 

Salah satu tujuan wisata favorit di Bali yang patut dikunjungi adalah Pantai Jimbaran di Kabupaten Badung. Bila lalu lintas lancar, pantai ini dapat dicapai dalam sekitar 30 menit dari Kota Denpasar, atau 10 menit dari Bandara Ngurah Rai, melalui Jalan Bypass Ngurah Rai ke arah selatan. Pantai Jimbaran termasuk pantai berpasir putih yang sangat terkenal di Bali; pasirnya halus dan berwarna putih kekuningan. Kebersihannya pun selalu terjaga berkat petugas yang rutin membersihkan area pantai.

Di sepanjang tepi pantai berdiri banyak hotel, spa, dan vila, di antaranya InterContinental dan Four Seasons Jimbaran. Pihak hotel turut menjaga kebersihan dengan mengadakan gotong royong membersihkan pantai dari sampah. Dengan pasir putih dan pemandangan matahari terbenam seindah ini, tak heran banyak hotel menggelar berbagai acara di tepi pantai. Dari sini pula terlihat Bandara Ngurah Rai, satu-satunya bandara berstandar internasional di Bali.

Restoran-restoran di tepi Pantai Jimbaran, yang lebih akrab disebut kafe, menawarkan aneka olahan hidangan laut: ikan bakar, cumi-cumi, kerang bakar, lobster, dan udang. Semuanya disajikan dengan nasi, sayur plecing, dan sambal, lengkap dengan es kelapa muda. Pengunjung bebas menentukan banyaknya pesanan, yang biasanya ditimbang lebih dulu per jenis sebelum diolah. Harganya bervariasi, bergantung pada menu yang dipilih dan pada kafenya masing-masing.

Wisata air tidak ditawarkan di pantai ini, karena ada aturan yang melarang olahraga air bermesin di kawasan Jimbaran. Namun, di tepi pantai tetap dapat dijumpai penjual kerajinan khas Bali, warung jajanan, dan jasa pijat.

Menjelang malam, Jimbaran ramai dikunjungi wisatawan mancanegara maupun domestik. Area parkir restoran cukup luas dan dikelola penduduk setempat, sehingga mencari tempat parkir tidaklah sulit. Selain memburu hidangan laut khas Bali, kebanyakan pengunjung datang untuk menyaksikan matahari terbenam. Menyantap hidangan laut yang lezat sambil memandang senja, diiringi desir lembut ombak di atas pasir putih: itulah daya tarik utama Jimbaran.

Tunggu apa lagi? Mari berkunjung ke Pantai Jimbaran.