Kali ini saya kembali menuliskan pengalaman menakjubkan bersama istri ketika mengunjungi sebuah tempat wisata di Bali. Alamnya yang indah, monyet-monyetnya yang jenaka, serta atraksi lain yang tak kalah menarik membuat saya betah berlama-lama di sana. Ingin tahu? Mari kita jelajahi lagi wisata Bali.
Pura Uluwatu berstatus sebagai Pura Sad Kahyangan Jagat, salah satu penyangga poros mata angin Pulau Bali. Pura ini berdiri di atas bukit karang setinggi sekitar 97 meter di atas permukaan laut. Dari letaknya itulah nama Uluwatu berasal, yang dalam bahasa Sanskerta berarti puncak batu karang.
Karena letaknya itu, pengunjung tidak hanya merasakan suasana yang sakral dan religius, tetapi juga menikmati pemandangan yang indah dan unik.
Berbeda dengan pemandangan di Pura Tanah Lot, pengunjung Pura Luhur Uluwatu akan menyaksikan luasnya hamparan Samudra Hindia, dengan ombak yang menghantam kaki tebing. Dari sini pula matahari terbenam dapat dinikmati tanpa terhalang apa pun.
Bagi yang tidak membawa bekal, tidak perlu khawatir. Di sekitar kawasan ini terdapat banyak warung makanan dan minuman, juga restoran dengan beragam menu dan harga.
Pura Luhur Uluwatu terletak di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, sekitar satu jam perjalanan ke arah selatan dari Bandara Ngurah Rai dengan kendaraan pribadi.
Pura ini terbuka bagi wisatawan pukul 07.00 hingga 19.00, sedangkan bagi umat yang hendak bersembahyang terbuka selama 24 jam. Fasilitas umum seperti toilet tersedia di area luar pura.
Kebanyakan pelancong memilih datang sekitar pukul lima sore, saat terik matahari sudah mereda dan senja akan tiba dalam satu jam.
Selain arsitektur pura dan keindahan senjanya, pengunjung juga dapat menyaksikan pertunjukan tari tradisional Bali, yaitu tari Kecak. Di Uluwatu, tarian ini dibawakan oleh 50 hingga 100 penari yang duduk melingkar dengan mengenakan kain bermotif hitam-putih.
Sebagian besar penarinya laki-laki, dan lakon yang dibawakan biasanya kisah Ramayana. Ciri khas tari Kecak adalah seruan "cak, cak, cak" yang dilantunkan para penari secara bersahut-sahutan. Pertunjukan ini digelar menjelang matahari terbenam, pukul 18.10 hingga 19.00 WITA.
Ada dua jalan masuk ke area pura: gerbang di sisi utara dan akses dari aula di sisi selatan. Begitu masuk, pengunjung disambut hutan yang rimbun, lalu berjalan beberapa meter melalui jalan setapak menuju pintu utama pura.
Apakah ada kera di Pura Uluwatu? Ada. Jenisnya kera abu-abu ekor panjang, serupa dengan yang ada di Monkey Forest Ubud. Di sepanjang jalan setapak menuju bagian depan pura, banyak kera tampak berkeliaran di sekitar hutan.
Agar barang bawaan tidak diambil kera, hindari membawa atau mengenakan benda berharga yang mudah menarik perhatian mereka, seperti anting, kalung, kamera, ponsel, atau kacamata hitam. Bila barang Anda telanjur diambil, cobalah menukarnya dengan kacang atau pisang; cara ini kadang berhasil.
Untuk memasuki area pura di Bali, pengunjung harus berpakaian sesuai aturan, yaitu mengenakan kain sarung dengan selendang yang diikatkan di pinggang. Bila lupa membawanya, tidak perlu membeli, sebab sarung dan selendang tersedia di loket tiket masuk.
Sungguh pengalaman yang berkesan. Bila berkunjung ke Bali, sempatkanlah singgah di sini.






0 komentar:
Posting Komentar